Studi terbaru mengungkap kedekatan sosial dan tinggal bersama dapat mengubah bakteri usus (mikrobioma) seseorang. Simak penjelasan ilmiah pengaruhnya bagi kesehatan.
Kedekatan sosial ternyata tidak hanya memengaruhi ikatan emosional, tetapi juga secara diam-diam mengubah ekosistem mikroskopis di dalam tubuh. Sebuah studi terbaru dari Universitas East Anglia (UEA) Inggris mengungkapkan bahwa individu yang tinggal bersama cenderung memiliki kesamaan bakteri usus akibat interaksi harian yang intens.
Dikutip dari laporan News Medical melalui ANTARA, Minggu (12/4/2026), penelitian ini menyoroti bagaimana interaksi intim dan berbagi ruang hidup memicu pertukaran mikrobioma, yang berperan penting bagi imunitas dan pencernaan.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Chuen Zhang Lee ini awalnya dilakukan pada koloni burung pengicau di Pulau Cousin, Seychelles. Selama beberapa tahun, tim peneliti melacak perilaku, kesehatan, dan genetika burung-burung tersebut menggunakan cincin kaki berwarna untuk membandingkan bakteri usus antarindividu.
Hasilnya menunjukkan bahwa burung yang sering menghabiskan waktu bersama di sarang yang sama memiliki jenis bakteri usus yang identik. Hal ini terutama berlaku bagi bakteri anaerobik, yakni mikroba yang tidak dapat bertahan hidup di udara terbuka.
“Mikroba anaerobik ini berpindah antarindividu melalui interaksi intim dan sarang yang digunakan bersama,” jelas Dr. Lee.
Meski objek penelitian utama adalah burung, tim peneliti menegaskan bahwa prinsip serupa hampir pasti berlaku bagi manusia. Hal ini memperkuat temuan sebelumnya yang mengisyaratkan bahwa pasangan suami istri atau orang yang tinggal bersama dalam jangka waktu lama seringkali memiliki mikrobioma yang serupa, bahkan jika pola makan mereka berbeda.
Dr. Lee memaparkan bahwa setiap aktivitas bersama di rumah—mulai dari berpelukan, berciuman, berbagi tempat menyiapkan makanan, hingga duduk berdekatan di sofa—dapat mendorong pertukaran mikroba usus.
“Bakteri anaerobik adalah beberapa bakteri terpenting untuk pencernaan, kekebalan tubuh, dan kesehatan secara keseluruhan,” tambahnya. Setelah masuk ke dalam usus, bakteri ini akan membentuk koloni yang stabil dan jangka panjang.
“Orang-orang yang tinggal bersama Anda mungkin secara halus membentuk ekosistem mikroskopis di dalam diri Anda. Berbagi bakteri bermanfaat ini dapat meningkatkan kesehatan pencernaan di seluruh rumah tangga,” pungkas Dr. Lee.
Analisis Redaksi Asatunews.my.id
Berita ini memberikan perspektif baru bahwa kesehatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh genetik dan pola makan pribadi, tetapi juga oleh “ekosistem sosial” mereka. Hal ini memperluas definisi kesehatan holistik yang melibatkan interaksi dengan orang terdekat.
Selama ini masyarakat cenderung takut pada pertukaran bakteri (identik dengan penyakit). Namun, artikel ini berhasil mengedukasi bahwa pertukaran bakteri anaerobik tertentu justru sangat bermanfaat untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh kolektif di dalam sebuah rumah tangga.
Penggunaan objek burung Seychelles yang terisolasi di pulau kecil memberikan kontrol variabel yang kuat bagi peneliti (mirip kondisi laboratorium namun alami). Hal ini membuat validitas temuan tersebut tinggi saat ditarik kesimpulannya untuk perilaku manusia yang lebih kompleks.
Temuan ini secara tidak langsung menyarankan pentingnya lingkungan rumah tangga yang sehat. Jika satu anggota keluarga memiliki mikrobioma yang sehat, hal tersebut dapat “menular” secara positif kepada anggota keluarga lainnya melalui kontak harian yang rutin. ****
