Data Center AI Picu Amarah Warga AS, dari Air Sumur Keruh hingga Gagasan Pindah ke Luar Angkasa

Published:

Ledakan pembangunan data center AI di AS memicu keluhan warga terkait air sumur keruh, kebisingan, banjir, dan kerusakan rumah. Kini muncul gagasan membangun pusat komputasi di orbit.

Ledakan pembangunan pusat data (data center) untuk menopang perkembangan kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat mulai menghadapi persoalan lingkungan dan penolakan dari sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar proyek.

Keluhan warga antara lain berkaitan dengan perubahan kualitas dan tekanan air, kebisingan, debu, banjir, getaran akibat pekerjaan konstruksi hingga gangguan cahaya dari fasilitas data center.

Anadolu Agency melaporkan, sejumlah komunitas yang tinggal di dekat fasilitas data center mengaku mengalami perubahan kondisi air, termasuk air keran yang berubah menjadi kecokelatan akibat sedimentasi. Persoalan tersebut bahkan telah berkembang menjadi sengketa hukum yang melibatkan perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Amazon. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).

Warga Georgia Gugat Meta

Salah satu sengketa terjadi di Georgia. Beverly dan Jeff Morris, yang rumahnya berjarak kurang dari 100 kaki atau sekitar 30 meter dari fasilitas data center Meta di Stanton Springs, termasuk empat keluarga yang menggugat perusahaan tersebut pada Agustus 2026.

Para penggugat menilai pekerjaan pembangunan, termasuk penebangan pohon dan penggalian tanah, telah mengganggu akuifer yang menjadi sumber air tanah. Mereka mengklaim sedimentasi masuk ke sumur warga dan menyebabkan tekanan air menurun sehingga air tidak lagi layak diminum.

Laporan Atlanta Journal-Constitution menyebut gugatan tersebut menuduh aktivitas pembangunan kampus data center Meta, yang meliputi pembukaan lahan, peledakan dan penggalian, telah mengganggu akuifer bawah tanah. Keluhan warga juga mencakup lumpur, sedimentasi, debu, cahaya malam dan kebisingan. (Atlanta Journal-Constitution, September 2026).

Meta membantah bahwa fasilitasnya menjadi penyebab persoalan tersebut. Perusahaan menyatakan studi hidrogeologi yang mereka lakukan menunjukkan kemungkinan fasilitas data center menjadi sumber masalah tersebut kecil. Meta juga menyatakan fasilitas tersebut tidak menggunakan air tanah dalam operasionalnya. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).

Amazon Hadapi Gugatan di Virginia

Persoalan serupa muncul di Louisa County, Virginia, tempat Amazon membangun kompleks data center.

Rumah Austin Newsom berada tepat di seberang proyek tersebut. Newsom mengatakan air sumurnya mulai berubah menjadi cokelat setelah konstruksi dimulai pada Maret 2025.

Selain persoalan air, Newsom mengeluhkan kebisingan, debu, getaran alat berat, lalu lintas kendaraan proyek, banjir di jalan serta cahaya dari lokasi pembangunan. Ia juga mengeklaim getaran akibat pekerjaan konstruksi menyebabkan keretakan pada bagian rumahnya.

Dokumen pengadilan federal mencatat bahwa Newsom dan perusahaannya mengajukan berbagai keluhan terkait kebisingan, cahaya, debu, lalu lintas, pencemaran air, banjir dan kerusakan struktural sejak pembangunan data center Amazon dimulai. (Pengadilan Distrik AS untuk Western District of Virginia, 10 Juli 2026).

Kasus tersebut juga diberitakan Virginia Mercury. Media tersebut melaporkan bahwa perubahan warna air sumur berlangsung secara berkala selama pembangunan data center berlangsung. (Virginia Mercury, 28 Juli 2026).

Dampaknya Tak Hanya pada Warga

Persoalan lingkungan yang dikaitkan dengan ekspansi data center tidak hanya menyangkut air dan kebisingan. Konsumsi energi pusat data yang terus meningkat juga menjadi perhatian karena berhubungan dengan emisi karbon.

Anadolu Agency mengutip laporan terbaru University of Sydney yang memperingatkan bahwa konsumsi energi dan emisi karbon dari data center dapat berkontribusi terhadap peningkatan temperatur global.

Laporan tersebut juga menyoroti potensi dampak terhadap lebah. Kenaikan jumlah hari panas, meskipun relatif kecil, disebut dapat mengganggu siklus reproduksi dan kualitas sperma lebah. Dalam skenario yang dipaparkan laporan itu, dampaknya berpotensi menyebabkan hingga 14,1 juta lebah mati setiap tahun. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).

Muncul Gagasan Data Center di Luar Angkasa

Di tengah persoalan tersebut, muncul gagasan yang terdengar futuristis: memindahkan sebagian infrastruktur komputasi AI ke luar angkasa.

Slava G. Turyshev, peneliti NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL), mengatakan kepada Anadolu bahwa kebutuhan listrik global diperkirakan hampir berlipat ganda dalam lima tahun mendatang. Kondisi itu akan mendorong pembangunan lebih banyak fasilitas pembangkit dan data center di berbagai lokasi.

Menurut Turyshev, keberadaan fasilitas komputasi berukuran sangat besar di lingkungan permukiman juga menimbulkan persoalan sosial dan lingkungan.

“People are not happy with that, and so the reality is that we don’t want to build large warehouses in the communities where we live, and so the idea: why don’t we move them to space?” (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).

Gagasan tersebut bukan sekadar wacana. Turyshev telah meneliti kelayakan teknis dan ekonomi orbital data centers. Dalam kajiannya, pusat komputasi berkapasitas 1 megawatt di orbit membutuhkan sekitar 5.640 meter persegi panel surya, ditambah sistem pembuangan panas dan infrastruktur pendukung lainnya.

Anadolu juga melaporkan bahwa perusahaan teknologi mulai mengeksplorasi konsep pusat komputasi berbasis orbit. Namun, biaya peluncuran, komunikasi, pemeliharaan dan ketahanan perangkat terhadap lingkungan luar angkasa masih menjadi tantangan besar. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).

Masalah Lingkungan Bisa Berubah Menjadi Masalah Sampah Antariksa

Namun, memindahkan data center ke orbit tidak otomatis menghilangkan persoalan lingkungan.

Clayton Swope, Deputy Director Aerospace Security Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan persoalan lingkungan di Bumi dapat bergeser menjadi persoalan operasional di luar angkasa, terutama terkait pengaturan lalu lintas satelit dan sampah antariksa.

“The concerns that you would have about doing data centers in space look very different — more like the same concerns you have when we’re talking about thousands of satellites in orbit today, about traffic coordination.” (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).

Swope juga mengingatkan risiko munculnya puing-puing antariksa jika terjadi tabrakan atau kerusakan satelit. Semakin banyak satelit yang diluncurkan, semakin besar pula kebutuhan untuk mengatur lalu lintas di orbit.

Persoalan itu menjadi semakin relevan karena sejumlah perusahaan tengah mengembangkan konsep konstelasi satelit untuk komputasi AI. Anadolu melaporkan bahwa SpaceX bahkan mengusulkan konstelasi hingga satu juta satelit untuk komputasi AI di orbit. (Anadolu Agency, 1 Oktober 2026).

Dengan demikian, perkembangan data center AI kini menghadirkan persoalan baru yang berada di dua sisi. Di Bumi, masyarakat menghadapi kekhawatiran mengenai penggunaan sumber daya, air, kebisingan dan dampak pembangunan. Sementara jika komputasi dipindahkan ke orbit, tantangannya bergeser ke biaya, energi, pemeliharaan, lalu lintas satelit dan risiko sampah antariksa.

Konsep space-based data center pun masih berada pada tahap pengembangan dan penelitian. Kajian Turyshev sendiri menunjukkan bahwa kelayakan ekonominya sangat bergantung pada biaya peluncuran, massa sistem, komunikasi dengan Bumi, pendinginan dan masa operasional satelit. (ASATUNEWSMYID-01)

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://asatunews.my.id
Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Related articles

Recent articles