Dokter Darrell Fernando menegaskan pentingnya pap smear rutin meski sudah vaksin HPV. Simak alasan mengapa deteksi dini kunci kesembuhan kanker serviks hingga 100%.
Kesadaran mengenai rahim atau serviks di Indonesia terus ditingkatkan. Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah wanita yang sudah menerima vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) masih perlu melakukan pemeriksaan pap smear?
Dikutip dari laporan Antara, Sabtu (25/4/2026), dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Darrell Fernando, Sp.OG, menegaskan bahwa kedua tindakan tersebut harus dilakukan secara beriringan. Vaksinasi dan deteksi dini merupakan satu kesatuan perlindungan yang tidak bisa dipisahkan, terutama bagi wanita usia produktif yang telah aktif berhubungan seksual.
“Apakah kalau sudah vaksin tetap harus pap smear? Jawabannya tetap, dua-duanya harus berjalan berbarengan,” ujar dr. Darrell dalam diskusi Ivaxcon 2026 di Jakarta.
Menurut dr. Darrell, rutin melakukan deteksi dini memungkinkan tenaga medis menemukan masalah pada tahap prakanker. Jika ditemukan pada tahap ini, angka kesembuhannya masih sangat tinggi, bahkan mendekati sempurna.
“Justru kalau misalnya ada sesuatu dalam kondisi yang prakanker atau deteksi dini, itu angka kesembuhan masih hampir 100 persen. Ketimbang menunggu gejala, biasanya kalau sudah menunggu gejala baru diperiksa ternyata sudah menjadi cancer stage 2,” tambahnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pap smear rutin dilakukan setiap tiga tahun sekali hingga wanita berusia 65 tahun. Hal ini krusial karena infeksi HPV sering kali bersifat asimptomatik atau tidak menunjukkan gejala sama sekali hingga mencapai stadium lanjut.
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan urgensi deteksi dini yang sangat tinggi. Di Indonesia, tercatat sekitar 36.633 kasus baru kanker serviks setiap tahunnya dengan angka kematian mencapai 21.003 jiwa. Ini berarti sekitar 50 hingga 60 persen pasien meninggal dunia akibat terlambat terdeteksi.
Guna mencapai target eliminasi kanker leher rahim pada 2030, pemerintah melalui Kemenkes telah mengintegrasikan skrining kanker serviks ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mulai awal tahun 2026. Langkah strategis ini diharapkan dapat mempercepat temuan kasus dini dan menurunkan angka kematian secara signifikan.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Perlu Dipahami
Berdasarkan paparan pakar dan data Kemenkes, terdapat beberapa poin krusial yang perlu dipahami oleh masyarakat:
Mitos “Kebal” Pasca-Vaksin: Vaksin HPV memberikan perlindungan terhadap strain virus yang paling umum menyebabkan kanker, namun tidak mencakup seluruh jenis HPV. Oleh karena itu, pap smear berfungsi sebagai “jaring pengaman” untuk mendeteksi perubahan sel yang mungkin disebabkan oleh jenis virus lain yang tidak tercover oleh vaksin.
Pergeseran Paradigma Skrining: Tahun 2026 menandai integrasi besar-besaran skrining kesehatan ke dalam layanan publik gratis (CKG). Ini adalah sinyal bahwa pemerintah mulai beralih dari pengobatan (kuratif) ke pencegahan (preventif), yang secara ekonomi jauh lebih efisien bagi sistem kesehatan nasional.
Urgensi Edukasi Stadium Dini: Tingginya angka kematian (di atas 50%) bukan disebabkan oleh keganasan kanker itu sendiri, melainkan oleh faktor “keterlambatan”. Edukasi bahwa stadium dini bisa sembuh 100% harus terus didorong untuk menghapus stigma negatif dan ketakutan masyarakat terhadap pemeriksaan medis.
Target Eliminasi 2030: Dengan integrasi skrining HPV DNA dan Cek Kesehatan Gratis, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menekan kasus baru. Namun, tantangan terbesarnya tetap pada jangkauan pemeriksaan di daerah terpencil dan literasi kesehatan wanita di pedesaan. ****
