Ketegangan geopolitik AS-Iran di Selat Hormuz menghancurkan optimisme pasar. Bitcoin anjlok di bawah $73.000, memicu likuidasi massal posisi leverage hingga $1 miliar.
Pasar aset kripto global mengalami guncangan hebat dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin turun di bawah $73.000 untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, menyusul serangan udara dadakan Amerika Serikat terhadap situs militer Iran di dekat Selat Hormuz. Langkah militer ini menghancurkan optimisme gencatan senjata yang sebelumnya mulai dihargai oleh pasar modal global.
Berdasarkan data dari CoinDesk pada Kamis (28/05/2026), Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level terendah harian di angka $72.912 sebelum diperdagangkan di kisaran $72.978 selama jam perdagangan meriah di Asia. Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 3,4% dalam 24 jam terakhir, atau amblas hingga 6,3% dalam akumulasi sepekan.
Koreksi tajam ini langsung menyeret deretan aset kripto utama (crypto majors) lainnya ke zona merah:
-
Ethereum (ETH) anjlok 4,2% ke harga $1,976—kehilangan level psikologis pentingnya di angka $2.000.
-
Solana (SOL) merosot 3,5% menjadi $80,57.
-
XRP merosot 3,6% ke level $1,28.
-
Dogecoin (DOGE) kehilangan 3,2% nilainya ke posisi $0,0979.
Di tengah pembantaian pasar ini, hanya segelintir aset yang mampu bertahan dalam tren mingguan yang positif, di antaranya Hyperliquid (HYPE) yang mempertahankan keuntungan mingguan 2,4% meskipun hari ini turun 4,5%, serta Tron (TRX) yang masih surplus 1,9% dalam tujuh hari terakhir.
Badai Likuidasi Rp16 Triliun: Trader Terjebak Posisi Long
Kejatuhan harga yang terjadi secara mendadak ini menjadi bencana besar bagi para trader yang menggunakan fasilitas leverage (daya ungkit). Data dari CoinGlass mencatat total kerugian akibat likuidasi massal mencapai $958,8 juta (atau sekitar Rp15,8 triliun) yang menghanguskan portofolio milik 167.706 trader hanya dalam waktu satu hari.
Ironisnya, sebanyak 93% dari total dana yang terlikuidasi ($897 juta) berasal dari para trader yang memasang posisi long (spekulasi harga naik), sementara posisi short hanya menyumbang $61 juta. Likuidasi terbesar dipimpin oleh kontrak Bitcoin sebesar $386 juta, disusul oleh Ethereum sebesar $246 juta. Kasus likuidasi tunggal terbesar dilaporkan terjadi pada platform Hyperliquid bernilai fantastis $15,34 juta untuk satu posisi BTC.
“Ketimpangan posisi long hingga 93% dalam pusaran likuidasi hampir satu miliar dolar ini adalah bukti nyata ketika para trader terlampau percaya diri akan adanya pemulihan, namun pasar justru bergerak ke arah sebaliknya,” ungkap salah satu analis pasar modal dalam laporan tersebut.
Selat Hormuz Membara: Blokade, Rudal, dan Sanksi Baru
Pemicu utama kepanikan pasar berisiko ini murni berasal dari dinamika geopolitik Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) meluncurkan serangan udara ke fasilitas militer Iran di dekat Selat Hormuz dan menembak jatuh empat drone ofensif Iran yang mengancam kapal komersial. Meskipun AS mengklaim tindakan ini bersifat defensif demi mempertahankan gencatan senjata, situasi justru menggelinding liar.
Kementerian Keuangan AS langsung menjatuhkan sanksi baru terhadap Otoritas Selat Teluk Persia milik Iran atas tuduhan pemerasan kapal dagang. Menanggapi hal itu, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas dengan merudal pangkalan udara AS di Kuwait yang menjadi titik awal keberangkatan jet tempur Amerika. Militer Kuwait sendiri mengonfirmasi bahwa ledakan keras di wilayah mereka berasal dari sistem pertahanan udara yang mencegat ancaman rudal eksternal.
Menyikapi eskalasi ini, Presiden AS Donald Trump menegaskan dalam rapat kabinet di Gedung Putih bahwa tidak boleh ada satu negara pun yang mengontrol jalur pelayaran strategis tersebut. “Itu adalah perairan internasional. Selat tersebut harus tetap terbuka bagi semua orang, dan AS akan terus mengawasinya,” tegas Trump.
Akibat peristiwa ini, aset berisiko bertumbangan di seluruh dunia. Indeks Dunia MSCI turun 0,4%, bursa saham Asia rontok hingga 1,7%, dan kontrak berjangka S&P 500 serta Nasdaq 100 langsung memerah. Sebaliknya, komoditas minyak mentah melonjak tinggi karena prospek perdamaian dagang di Selat Hormuz kembali diselimuti ketidakpastian.
Analisis Jeli: Dampak Ambruknya Kripto dan Konflik AS-Iran bagi Investor di Indonesia
Bagi para investor, holder kripto, maupun masyarakat umum di Indonesia, ada tiga poin penting yang wajib dicermati dari runtuhnya lantai bursa kripto hari ini:
1. Pola Koreksi Kripto Akibat Efek De-Risking Geopolitik
Banyak pemula di Indonesia menganggap aset kripto seperti Bitcoin adalah safe haven digital yang kebal terhadap situasi perang. Namun, penurunan drastis di bawah $73.000 ini membuktikan bahwa saat perang berskala besar pecah, institusi keuangan global tetap memperlakukan kripto sebagai aset berisiko tinggi (risk asset). Institusi besar akan melakukan aksi de-risking—menjual aset kripto mereka untuk mendapatkan uang tunai (Dolar AS) atau dialihkan ke emas baku. Investor di Indonesia disarankan untuk menahan diri dari tindakan panic buying dan menjauhi perdagangan futures dengan leverage tinggi saat tensi Timur Tengah masih fluktuatif.
2. Bahaya Nyata Likuidasi bagi Pengguna Fitur Leverage di Indonesia
Hancurnya posisi long hingga mencapai hampir $1 miliar menggarisbawahi bahaya laten dari perdagangan margin/futures di masa-masa krisis. Banyak investor ritel, termasuk di Indonesia, yang memasang posisi beli karena mengira Bitcoin akan menembus rekor tertinggi baru di akhir Mei ini. Kecepatan jatuhnya harga akibat sentimen berita dalam satu malam memicu efek domino (liquidation cascade) yang langsung menyapu bersih modal tanpa sisa. Bagi trader lokal di platform seperti Indodax, Tokocrypto, atau Reku, momentum ini menjadi pengingat keras untuk selalu memasang Stop Loss ketat di pasar spot dan menghindari penggunaan dana panas.
3. Tekanan Ganda: Kripto Turun, Rupiah Melemah, Emas Melejit
Konflik di Selat Hormuz ini menciptakan efek domino langsung ke makroekonomi Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah global akibat ancaman penutupan selat akan menekan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS karena beban impor minyak Indonesia membengkak. Bagi investor kripto dalam negeri, pelemahan Rupiah ini mungkin akan sedikit “menahan” kejatuhan nilai aset dalam denominasi IDR (karena konversi dolar ke rupiah menguat). Namun secara umum, pasar portofolio lokal akan cenderung lesu. Instrumen yang diproyeksikan paling aman dan akan mengalami lonjakan keuntungan di dalam negeri saat ini adalah Emas Fisik (Antam) karena sifatnya yang murni sebagai pelindung nilai aset di masa perang. Source
