JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup pada rentang $Rp16.720$ hingga $Rp16.750$ per dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat (19/12/2025). Berdasarkan data Bloomberg, pada pembukaan pagi pukul 09.15 WIB, rupiah sempat menguat tipis 11 poin ke level $Rp16.771$, meski kemudian kembali tertekan ke level $Rp16.752$ pada siang hari.
Sentimen Positif Pertumbuhan Ekonomi dari Bank Dunia Redam Tekanan Dolar Terhadap Mata Uang Garuda
Pengamat Ekonomi Ibrahim Assuaibi mencatat bahwa penguatan indeks dolar AS dipicu oleh rilis data tenaga kerja dan kebijakan likuiditas bank sentral. Pasar global saat ini sedang mengantisipasi data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang diproyeksikan masih berada di kisaran $3\%$ secara tahunan.
“Pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar The Fed untuk menyesuaikan kebijakan,” jelas Ibrahim. Selain itu, muncul kekhawatiran mengenai risiko stagflasi di AS—kondisi di mana inflasi tetap tinggi meski angka pengangguran meningkat.
Sentimen Dalam Negeri dan Geopolitik
Di sisi lain, rupiah mendapatkan angin segar dari laporan terbaru Bank Dunia edisi Desember 2025. Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi $5\%$ pada 2025-2026, dan $5,2\%$ pada 2027. Angka ini lebih optimis dibandingkan laporan sebelumnya.
Pertumbuhan ini ditopang oleh:
-
Kinerja Ekspor: Proyeksi pertumbuhan ekspor sebesar $7\%$ di tahun 2025 didorong komoditas sawit, besi, baja, dan emas.
-
Investasi Solid: Peningkatan investasi diperkirakan mencapai $6,1\%$.
-
Kebijakan Moneter: Dampak pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 150 basis poin sejak September 2024 ke level $4,75\%$.
Namun, ketegangan geopolitik terkait blokade kapal tanker minyak Venezuela oleh AS masih memberikan ketidakpastian pada pasokan komoditas global yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar.
Informasi Relevan Tambahan (Internet)
Untuk melengkapi konteks pergerakan nilai tukar pada akhir tahun 2025, berikut beberapa informasi tambahan yang relevan:
-
Musiman Akhir Tahun: Secara historis, bulan Desember sering kali ditandai dengan peningkatan permintaan valuta asing (dolar) oleh perusahaan domestik untuk pembayaran dividen ke luar negeri atau pelunasan utang luar negeri jangka pendek, yang secara alami menekan rupiah.
-
Cadangan Devisa: Perlu dipantau laporan cadangan devisa Bank Indonesia. Cadangan yang kuat memberikan ruang bagi BI untuk melakukan intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna menjaga stabilitas nilai tukar dari volatilitas ekstrem.
-
Dampak Harga Komoditas: Mengingat ekspor besi dan baja menjadi motor pertumbuhan, kebijakan perdagangan China (sebagai mitra dagang utama) di akhir 2025 akan sangat mempengaruhi aliran modal masuk ke Indonesia. (A-1)
