JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Munculnya sinetron berbasis AI seperti Legenda Bertuah di TRANS7 memicu pertanyaan besar: Apakah teknologi mampu menandingi kemewahan visual kamera sinema kelas atas?
Membongkar Perbedaan Estetika, Ekspresi Karakter, dan ‘Uncanny Valley’ dalam Tayangan Legenda Bertuah
Tim redaksi Asatunews.my.id merangkum analisis perbedaan mendasar antara hasil olahan algoritma dengan produksi manusia:
1. Detail Lingkungan dan World Building
-
Sinetron AI: Unggul dalam menciptakan dunia fantasi yang mustahil dibuat di dunia nyata dengan anggaran terbatas. Legenda Gunung Merapi atau istana Rara Jonggrang bisa tampil megah dengan detail arsitektur yang rumit tanpa perlu membangun set fisik atau CGI manual yang mahal.
-
Konvensional: Terbatas pada lokasi syuting asli atau penggunaan green screen yang terkadang terlihat kurang menyatu jika pencahayaannya tidak pas.
2. Ekspresi Wajah dan Emosi (Masalah Uncanny Valley)
Inilah titik terlemah AI saat ini. Dalam dunia animasi, terdapat istilah Uncanny Valley, yakni perasaan tidak nyaman yang muncul saat melihat objek buatan yang “hampir” mirip manusia tetapi gerakannya terasa kaku.
-
Sinetron AI: Seringkali tatapan mata karakter terasa “kosong” dan sinkronisasi bibir (lip-sync) dengan narasi belum sehalus akting aktor asli.
-
Konvensional: Kekuatan utama ada pada mikro-ekspresi aktor manusia—seperti mata yang berkaca-kaca atau kerutan dahi—yang sulit ditiru secara sempurna oleh AI.
3. Pencahayaan dan Konsistensi Visual
-
Sinetron AI: Mampu menghasilkan pencahayaan yang sangat dramatis dan warna yang sangat kontras (vibrant). Namun, terkadang terjadi glitch visual kecil atau perubahan bentuk (distorsi) pada objek yang bergerak cepat.
-
Konvensional: Memiliki kedalaman gambar (depth of field) yang lebih natural dan konsisten karena ditangkap oleh lensa optik asli.
4. Efisiensi vs Keaslian (Authenticity)
Secara teknis, AI bisa memproduksi ribuan frame dalam hitungan jam, sementara syuting konvensional membutuhkan waktu berminggu-minggu. Namun, penonton Indonesia yang terbiasa dengan kedekatan emosional mungkin akan merasa sinetron AI terasa seperti “menonton video game” daripada drama kehidupan.
Kesimpulan Pengamat: “AI di industri TV adalah alat bantu yang luar biasa untuk visualisasi latar belakang dan efek khusus. Namun, untuk peran utama yang menuntut kedalaman emosi, aktor manusia tetap tidak tergantikan. ‘Legenda Bertuah’ akan menjadi eksperimen visual yang menentukan arah industri kita tahun ini.” (A-1)

