Jajaran aktor muda dan sutradara Sim F dalam proses syuting film Surat Untuk Masa Mudaku di set panti asuhan.

Sutradara Sim F garap film “Surat Untuk Masa Mudaku” di Netflix. Terinspirasi kisah nyata masa kecil di panti asuhan, dibintangi aktor muda berbakat.

JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID – Sutradara kondang Sim F kembali menyapa pencinta sinema melalui karya terbaru bertajuk “Surat Untuk Masa Mudaku”. Film yang akan tayang di layanan streaming Netflix ini menarik perhatian karena terinspirasi dari memori masa kecil sang sutradara saat menetap di panti asuhan pada usia 12 tahun.

Meski memiliki latar belakang personal, produser Wilza Lubis menegaskan bahwa film ini bukanlah sebuah biopik, melainkan karya fiksi yang dikembangkan dari memori tersebut.

“Sim itu memang kecilnya hidup di panti asuhan, tapi film ini bukan biopik beliau, tapi terinspirasi dari cerita itu,” ujar Wilza Lubis dalam wawancara di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Bakat Aktor Muda yang Memukau

Dalam proses produksinya, Sim F mengaku terkesan dengan talenta para aktor muda yang terlibat. Nama-nama seperti Millo Taslim, Cleo Haura, Halim Latuconsina, Aqila Faherby, Diandra Salsabila Lubis, hingga Jordan Omar menjadi penggerak utama cerita di panti asuhan Pelita Kasih.

“Menariknya mereka tuh berbakat (talented), jadi maksudnya tidak terlalu sulit untuk saya mengajak mengobrol dan mengajak pendekatan,” ungkap Sim F.

Selain jajaran aktor muda, film ini juga diperkuat oleh aktor senior seperti Fendy Chow, Agus Wibowo (berperan sebagai Simon Ferdinan), dan Verdi Solaiman (sebagai Gabriel).

Rahasia di Balik Layar: Guru di Lokasi Syuting

Proses pengambilan gambar dilakukan selama 28 hari di wilayah Jawa Barat. Demi menghidupkan suasana cerita, tim produksi menyulap sebuah lokasi menjadi set panti asuhan yang autentik.

Menariknya, rumah produksi Buddy-Buddy Pictures menerapkan standar kerja yang ketat demi melindungi hak aktor anak-anak sesuai aturan Netflix. Sim F menjelaskan bahwa terdapat pembagian jam kerja yang jelas serta pendampingan pendidikan.

“Kalau dengan anak-anak, kami punya jam kerja sendiri. Ada guru (teacher) on set,” tambahnya. Para pemain juga menjalani latihan vokal khusus untuk mendukung adegan paduan suara yang menjadi bagian penting dari alur cerita.

Sinopsis Singkat: Persahabatan di Pelita Kasih

“Surat Untuk Masa Mudaku” menceritakan perjalanan hidup karakter bernama Kefas. Peran ini dimainkan oleh Millo Taslim untuk versi muda dan Fendy Chow untuk versi dewasa.

Fokus cerita berada pada kehidupan di panti asuhan Pelita Kasih, di mana Kefas dan sahabat-sahabatnya tumbuh bersama menghadapi liku-liku masa muda. Naskah yang ditulis oleh Daud Sumolang ini diharapkan mampu memberikan motivasi bagi penonton yang memiliki pengalaman serupa di masa lalu.

Kisah yang relevan ini awalnya muncul dari unggahan media sosial Sim F yang kemudian dilirik oleh Netflix untuk dikembangkan menjadi layar lebar.

Mengenal Jajaran Aktor Muda Film “Surat Untuk Masa Mudaku”

Meskipun sebagian besar pemain muda ini baru pertama kali terjun ke dunia layar lebar, sutradara Sim F memuji kemampuan akting mereka yang natural dan mudah diarahkan. Berikut daftarnya:

  • Millo Taslim: Memerankan tokoh utama, Kefas, di masa muda. Millo merupakan salah satu aktor muda yang sudah memiliki pengalaman akting sebelumnya dan menjadi pusat emosional dalam cerita panti asuhan Pelita Kasih.

  • Cleo Haura: Salah satu pemain muda yang sudah terlibat dalam beberapa proyek film sebelum bergabung di film ini. Pengalamannya membantu menghidupkan dinamika persahabatan di set panti asuhan.

  • Halim Latuconsina: Menjadi salah satu talenta baru yang ditemukan Sim F. Meski “Surat Untuk Masa Mudaku” merupakan debutnya di dunia film, aktingnya dinilai sangat berbakat dan potensial.

  • Aqila Faherby: Aktor muda yang turut memperkuat jajaran anak-anak panti asuhan, memberikan warna tersendiri dalam interaksi kelompok persahabatan mereka.

  • Diandra Salsabila Lubis: Terlibat aktif dalam latihan vokal khusus untuk adegan paduan suara, menunjukkan dedikasinya dalam memerankan karakter penghuni panti.

  • Jordan Omar: Melengkapi jajaran sahabat Kefas di panti asuhan Pelita Kasih, Jordan ikut menjalani proses syuting intensif selama 28 hari di Jawa Barat.

Menarik untuk Disimak: Para aktor muda ini tidak hanya dituntut untuk berakting, tetapi juga harus mengikuti pelatihan vokal intensif. Hal ini dikarenakan adegan paduan suara menjadi salah satu elemen kunci atau “napas” utama dalam perjalanan cerita film ini. (A-1)

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *