24.6 C
Jakarta
Minggu, 1 Februari 2026

TAJUK RENCANA: Indonesia di Antara Gemerlap Davos dan Lumpur Korupsi Kemenaker

Baca Juga

Mampukah ‘Global Bright Spot’ Bertahan dari Gerogotan ‘Greedynomics’ di Dalam Negeri?

Oleh: Redaksi Asatunews.my.id

JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Wajah Indonesia di awal tahun 2026 ini tampak paradoks. Di satu sisi, dunia internasional melalui forum World Economic Forum (WEF) di Davos memberikan standing ovation kepada Presiden Prabowo Subianto. Label “Titik Terang Dunia” dari IMF bukan sekadar basa-basi diplomatik; itu adalah pengakuan atas disiplin fiskal dan pertumbuhan ekonomi 5% yang konsisten kita jaga.

Namun, saat Presiden “menjual” kematangan kebijakan kita di Pegunungan Alpen, sebuah drama memuakkan justru tersaji di dalam negeri. Skandal pemerasan sertifikat K3 di Kemenaker yang menyeret nama Immanuel Ebenezer dan belasan tersangka lainnya menjadi pengingat pahit: bahwa musuh terbesar pertumbuhan ekonomi kita bukanlah resesi global, melainkan rayap birokrasi.

Paradoks Pertumbuhan dan Integritas

Kita patut bangga saat Prabowo memamerkan inflasi 2% dan rasio utang yang sehat. Namun, kebanggaan itu terasa hambar ketika kita mendengar nyanyian Noel soal aliran dana korupsi ke Parpol dan Ormas. Inilah yang oleh Bambang Soesatyo disebut sebagai “Greedynomics”—sebuah kerakusan sistematis yang berlindung di balik regulasi.

Korupsi di Kemenaker bukan sekadar pencurian uang negara, melainkan sabotase terhadap iklim investasi. Bagaimana mungkin investor Davos mau masuk jika “pintu gerbang” keselamatannya saja (sertifikat K3) dijadikan objek pemerasan?

Ujian Nyata Bagi “Prabowonomics”

Pidato optimisme di Davos harus dibayar tunai di Jakarta. Rakyat tidak hanya butuh angka pertumbuhan yang cantik di atas kertas, tapi juga keberanian aparat untuk membongkar kotak pandora yang disebut-sebut melibatkan kekuatan politik besar.

Jika pemerintah membiarkan kasus Kemenaker menguap begitu saja, maka “Titik Terang” yang dibanggakan Prabowo akan segera meredup, tertutup oleh awan hitam ketidakpastian hukum.

Kesimpulan: Bersihkan Rumah, Sambut Tamu

Indonesia saat ini seperti rumah yang arsitekturnya dipuji tetangga, namun pondasinya sedang digerogoti rayap dari dalam. Tugas pemerintah sekarang sudah jelas: sambut investasi dari Davos dengan tangan terbuka, tapi di saat yang sama, gunakan “tangan besi” untuk menyikat habis para begal birokrasi.

Hanya dengan cara itulah, optimisme di Davos akan berubah menjadi kesejahteraan nyata bagi rakyat di pelosok nusantara. (A-1)

- Advertisement -spot_img

Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terkini