24.6 C
Jakarta
Minggu, 1 Februari 2026

Bukan Sekadar Simbol, Pidato Prabowo di Davos 2026 Adalah Kompas Strategis Bangsa

Baca Juga

JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, terus menuai diskursus positif di dalam negeri. Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, menilai pernyataan Presiden di panggung dunia tersebut bukan sekadar penampilan simbolik, melainkan penegasan arah rasional Indonesia di tengah fragmentasi ekonomi global.

Azis Subekti: Legitimasi Global Tumbuh dari Bukti Nyata Penertiban Hutan dan Pemberantasan Korupsi di Tanah Air

Menurut Azis, di saat dunia terjebak dalam krisis kepercayaan dan konflik geopolitik, keberanian Indonesia menyuarakan stabilitas dan disiplin ekonomi adalah sikap yang sangat langka dan strategis.

Menjawab Kritik dengan Pembuktian Kinerja

Menanggapi sejumlah kritik tajam yang bersifat personal terhadap pidato tersebut, Azis menganggap hal itu sebagai bagian dari dinamika politik. Namun, ia menekankan bahwa publik yang dewasa kini lebih memilih untuk mencatat dan menunggu pembuktian nyata daripada terjebak dalam debat retorika.

“Banyak pernyataan Presiden yang semula disangsikan, kini terbukti. Kita melihat penertiban kawasan hutan yang bertahun-tahun dibiarkan, pencabutan izin bagi pihak yang lalai, hingga perampasan tambang ilegal tanpa pandang bulu,” tegas Azis di Jakarta, Senin (26/1).

Ia menambahkan bahwa langkah penegakan hukum terhadap koruptor yang selama ini dianggap “kebal” menjadi bukti awal sebelum Presiden berbicara lantang di forum internasional. “Sebelum bicara tegas di luar negeri, bukti-bukti itu telah hadir lebih dulu di dalam negeri,” imbuhnya.

Investasi Nyata Sebagai Makna Pidato

Azis Subekti memandang pidato Davos sebagai kelanjutan dari proses pembuktian kinerja. Baginya, legitimasi seorang pemimpin tumbuh dari keselarasan antara kata dan tindakan.

“Ketika kerja sama internasional berujung pada investasi yang berjalan, lapangan kerja tercipta, serta ketahanan pangan dan energi diperkuat, di sanalah arah yang disampaikan di Davos memperoleh makna nyatanya,” jelas politisi Senayan tersebut.

Pilihan Strategis: Kerja Nyata di Atas Retorika

Baginya, momen di Davos menandai pilihan strategis Indonesia yang lebih mengedepankan stabilitas daripada kegaduhan. Kritik dianggap sebagai hal wajar, namun konsistensi melangkah adalah kunci utama.

“Pidato itu bukan sekadar momen sesaat, melainkan sebuah kompas. Yang menentukan ke depan bukan lagi debat tentang niat, melainkan konsistensi dalam mengeksekusi arah bangsa,” pungkas Azis. (A-1)

- Advertisement -spot_img

Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Terkini