Industri tuanbo atau group livestreaming di China diproyeksi meroket hingga 40 miliar yuan pada 2026. Simak kisah para idola algoritma dan analisisnya untuk Indonesia!
Industri siaran langsung (livestreaming) di China kembali berevolusi ke tingkat yang jauh lebih masif dan kompetitif. Bukan lagi sekadar menampilkan satu kreator yang mengulas produk atau bermain game, kini giliran tren tuanbo—atau group livestreaming—yang merajai panggung digital dan menjadi ladang bisnis baru yang sangat menggiurkan.
Dengan riasan wajah ala idola K-Pop, latar belakang merah menyala yang berani, serta poster LED raksasa yang menampilkan visual menawan, para penghibur muda ini bertarung memperebutkan atensi penonton. Perputaran uang di industri ini tidak main-main. Estimasi industri memproyeksikan pasar tuanbo melonjak drastis dari 15 miliar yuan (sekitar Rp33,5 triliun) pada tahun lalu menjadi 40 kali lipat lebih besar, mencapai 40 miliar yuan (setara Rp89,3 triliun) pada tahun 2026 ini.
Apa itu Tuanbo? Format Idola Berbasis “Pertempuran Digital”
Berbeda dengan format livestream solo tradisional, tuanbo menampilkan sekelompok penampil yang menari, bernyanyi, dan berinteraksi dengan penggemar dalam format mirip ajang pencarian bakat (survival show). Daya tarik utamanya terletak pada papan peringkat (leaderboard) waktu nyata, pertarungan antartim (team battles), dan sistem pengiriman hadiah virtual (virtual gifting).
Di markas besar Zhongxinghui Culture Media di Shenzhen—salah satu agensi tuanbo terbesar—aktivitas siaran berlangsung tanpa henti selama 24 jam penuh di studio seluas 15.000 meter persegi. Di sana, papan digital raksasa terus memperbarui peringkat penampil berdasarkan volume trafik, tingkat keterlibatan (engagement) penggemar, dan jumlah hadiah yang masuk.
“Dulu, penonton hanya menyaksikan selebritas dari jauh. Sekarang, mereka menginginkan partisipasi dan interaksi langsung,” ujar Hou Shuojun, pendiri Zhongxinghui kepada CNA.
Asosiasi Seni Pertunjukan China mencatat, pada tahun lalu saja terdapat lebih dari 8.000 ruang tuanbo yang mengudara setiap harinya di platform seperti Douyin (TikTok versi China) dan Kuaishou. Bagi para penampil top, pendapatan bulanan mereka bisa menembus angka ratusan ribu yuan. Penggemar fanatik bahkan rela menggelontorkan dana fantastis untuk mengirimkan hadiah digital premium, seperti fitur hadiah “Carnival” di Douyin yang berharga mulai dari 3.000 yuan (sekitar Rp6,7 juta) sekali kirim.
Sisi Gelap: Tekanan Kerja Ekstrem dan Manipulasi Emosi
Di balik gemerlap lampu studio dan senyum menawan di depan kamera, tuanbo menyimpan tekanan psikologis dan fisik yang sangat berat bagi para pelakunya. Banyak anak muda tergiur masuk ke industri ini karena tingginya angka pengangguran usia muda (16-24 tahun) di China yang menyentuh angka 16,9% per Maret 2026.
Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Para penampil dituntut berlatih koreografi hingga 10 jam sehari. “Fisik yang lelah bisa diatasi. Tapi secara mental, jika Anda merasa tidak ada yang melihat Anda, pekerjaan ini akan terasa sangat hampa,” ungkap An Yu (22), salah satu penampil tuanbo.
Selain jam kerja yang panjang, industri ini juga mulai mendapat sorotan tajam dari publik dan regulator akibat adanya indikasi manipulasi emosional. Demi mempertahankan donatur besar (top gifters), para penampil diwajibkan menjalin komunikasi pribadi yang intens di luar jam kerja lewat grup obrolan privat.
Seorang penggemar bermarga Nian An (30) mengaku pernah menghabiskan lebih dari 800.000 yuan (sekitar Rp1,7 miliar) dalam waktu tiga bulan hanya untuk mendukung seorang penampil tuanbo akibat keterikatan emosional buatan tersebut.
Merespons potensi eksploitasi ini, Asosiasi Seni Pertunjukan China merilis panduan ketat yang melarang agensi menggunakan “hubungan intim rekayasa” atau kompetisi peringkat berbasis hadiah yang koersif untuk memanipulasi pengeluaran penonton.
Analisis untuk Pembaca dan Industri Kreatif di Indonesia
Melihat masifnya fenomena tuanbo di China, terdapat beberapa poin analisis penting yang sangat relevan bagi perkembangan ekosistem live streaming dan ekonomi kreator di Indonesia:
Potensi Replikasi di TikTok Live Indonesia (Agensi Lokal)
Format interaksi live streaming di Indonesia, khususnya melalui fitur TikTok Live, sebenarnya sudah sangat familier dengan konsep Live Match atau PK (Player Knockout) antarkreator. Karakter penonton Indonesia yang royal, ekspresif, dan menyukai hiburan kelompok memiliki kecocokan yang sangat tinggi dengan konsep tuanbo. Bukan tidak mungkin, dalam beberapa waktu ke depan, agensi-agency besar di Indonesia akan mulai mereplikasi format group livestreaming ini dengan memadukan kultur pop lokal atau dance group berbasis komunitas.
Pergeseran Paradigma “Idol Culture” ke Platform Mandiri
Sebelumnya, anak muda di Indonesia maupun global harus melewati audisi agensi hiburan konvensional atau program televisi untuk bisa debut menjadi idola (seperti JKT48 atau boyband/girlband). Fenomena tuanbo membuktikan bahwa dengan modal kamera, studio estetik, dan algoritma platform sosial, siapapun kini bisa membangun basis massa “idola” mereka sendiri secara mandiri tanpa bergantung pada industri televisi konvensional.
Pentingnya Regulasi Perlindungan Tenaga Kerja Kreatif Digital
Kasus eksploitasi jam kerja dan ketimpangan pendapatan pembagian hasil yang terjadi di China harus menjadi sistem peringatan dini (warning system) bagi Kementerian Ketenagakerjaan serta Kementerian Ekonomi Kreatif di Indonesia. Pekerja livestreamer atau gig workers di ranah digital kerap kali berada di area abu-abu hukum ketenagakerjaan. Indonesia perlu mulai merumuskan payung hukum yang jelas terkait kontrak kerja sama antara Talent Management (MCN) dengan para kreator konten lokal guna menghindari eksploitasi fisik, pemotongan komisi sepihak, maupun manipulasi psikologis penonton demi mengejar target monetisasi. Source
