Rupiah menguat di pasar offshore pada Senin (17/8/2026), ketika perdagangan pasar spot domestik terhenti karena libur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) menjadi salah satu indikator yang dicermati pelaku pasar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan penantian keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pekan ini.
Rupiah NDF dibuka di sekitar Rp17.863 per dolar AS, relatif stabil dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya di Rp17.864 per dolar AS. Penguatan kemudian berlanjut. Pada pukul 07.57 WIB, rupiah offshore menguat 0,17 persen ke level Rp17.835 per dolar AS.
Pergerakan tersebut berlangsung ketika pasar keuangan global menghadapi kembali meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak relatif stabil di sekitar US$88,5 per barel setelah serangkaian perkembangan yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi.
Serangan Israel terhadap Lebanon turut menambah ketidakpastian mengenai prospek kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Pada akhir pekan, sejumlah kapal juga menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz, termasuk kapal yang memiliki keterkaitan dengan Abu Dhabi National Oil Co.
Namun, gangguan tersebut belum sepenuhnya menghambat arus minyak dari kawasan Teluk Persia. Produksi minyak mentah dari sejumlah negara Timur Tengah masih dikirim dalam volume besar. Mengutip Bloomberg News, aliran minyak bahkan tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar sekitar 4 juta barel per hari.
Di Asia, sejumlah kilang mulai meningkatkan pembelian minyak mentah untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan akibat ancaman terhadap jalur pelayaran strategis. Risiko tersebut mencakup sejumlah chokepoints serta gangguan pelayaran di Laut Merah dan Laut Hitam.
Tekanan geopolitik itu belum sepenuhnya mengikis penguatan mata uang Asia. Yen Jepang menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar, yakni 0,13 persen. Ringgit Malaysia, yuan offshore, dolar Singapura, won Korea Selatan, dan yuan China juga bergerak menguat meski dalam rentang yang lebih terbatas.
Menanti Keputusan BI
Dari dalam negeri, perhatian pasar kini beralih ke keputusan suku bunga acuan BI yang akan diumumkan pekan ini. Kebijakan tersebut akan menjadi ujian bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan ruang bagi pertumbuhan ekonomi domestik.
Bloomberg Economics memperkirakan BI mempertahankan suku bunga pada level 5,75 persen. Keputusan itu akan menjadi kebijakan moneter pertama di bawah kepemimpinan Destry Damayanti sebagai pejabat gubernur BI.
Destry menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri. Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI untuk selanjutnya menjalani proses uji kepatutan dan kelayakan di DPR.
Ekonom Bloomberg Tamara Henderson menilai belum terdapat alasan kuat bagi BI untuk mengubah suku bunga setelah bank sentral menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sepanjang Mei dan Juni.
“Selain itu, inflasi berada dalam sasaran 1,5-3,5%, sementara rupiah secara umum stabil terhadap dolar AS dan bertahan dalam kisaran yang terbentuk sejak Juni,” kata Henderson dalam catatannya.
Rupiah Mulai Pulih pada Agustus
Penguatan rupiah di pasar offshore terjadi setelah mata uang domestik menunjukkan perbaikan sepanjang Agustus. Di pasar spot, rupiah telah menguat sekitar 0,98 persen dari posisi pembukaan awal bulan di Rp18.014 per dolar AS menjadi Rp17.825 per dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Dengan pasar spot domestik libur pada peringatan HUT ke-81 RI, pergerakan rupiah NDF menjadi salah satu petunjuk awal mengenai sentimen pasar terhadap rupiah sebelum perdagangan domestik kembali dibuka.
Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada respons pasar terhadap keputusan BI, perkembangan harga minyak, serta eskalasi risiko geopolitik yang berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.
