Benarkah membiarkan charger HP menancap tanpa digunakan bikin boros listrik? Simak penjelasan ahli dari UNY tentang konsumsi daya dan tips hemat listriknya.
Kebiasaan membiarkan adaptor charger handphone tetap menempel di stop kontak meski tidak sedang digunakan seringkali dianggap sepele. Banyak pengguna yang sengaja tidak mencabutnya karena alasan lupa atau merasa akan segera menggunakannya kembali. Namun, benarkah kebiasaan ini berkontribusi pada pemborosan energi?
Dikutip dari Kompas.com, Jumat (10/4/2026), Dosen Pendidikan Teknik Elektro dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Toto Sukisno, membenarkan bahwa charger yang tetap menancap di colokan listrik akan terus mengonsumsi energi meskipun jumlahnya tergolong kecil.
“Betul, saat charger tidak dicabut maka akan mengonsumsi energi listrik meskipun kecil,” ujar Toto.
Toto menjelaskan lebih detail bahwa ketika adaptor pengisi daya berada di stop kontak tanpa beban (tidak mengisi daya perangkat), ia tetap menyedot listrik sekitar 0,1 hingga 0,5 Watt. Jika dibiarkan selama sehari penuh, satu charger bisa mengonsumsi hingga 12 Watt-jam.
Angka ini mungkin terlihat kecil untuk satu perangkat. Namun, masalah muncul jika dalam satu rumah terdapat banyak pengisi daya yang dibiarkan menancap setiap hari secara terus menerus. Akumulasi konsumsi daya dari berbagai charger tersebut lambat laun akan berdampak pada pengeluaran atau pengisian token listrik.
Sebagai perbandingan, Toto memaparkan bahwa saat digunakan secara aktif, daya yang dikonsumsi jauh lebih besar sesuai spesifikasinya. “Kalau yang 0,1 sampai 0,5 Watt itu dalam kondisi tidak terpakai. Kalau terpasang dayanya 33 Watt, itu kalau spek charger-nya 33 Watt,” lanjutnya.
Untuk menekan pengeluaran listrik yang tidak diperlukan, langkah paling sederhana adalah dengan mencabut charger segera setelah baterai perangkat penuh. Namun, bagi masyarakat yang merasa repot harus mencabut-pasang adaptor, Toto memberikan solusi praktis lainnya.
Ia menyarankan penggunaan stop kontak yang dilengkapi dengan saklar (switch). Dengan cara ini, pengguna cukup mematikan saklar tanpa harus mencabut adaptor dari lubang colokan.
“Bisa menggunakan tusuk kontak yang ada saklarnya, jadi tinggal dimatikan. Kalau yang sudah Berstandar Nasional Indonesia (SNI) aman,” tutur Toto menekankan pentingnya faktor keamanan perangkat.
Di akhir penjelasannya, Toto menekankan bahwa kunci utama dari penghematan energi sebenarnya terletak pada perilaku dan kesadaran pengguna itu sendiri. Banyak perangkat elektronik lain yang juga menyedot daya secara sia-sia hanya karena tidak dimatikan saat tidak diperlukan.
“Prinsip penggunaan energi sebenarnya saat dibutuhkan saja, sehingga saat tidak membutuhkan berarti harus di-off-kan,” pungkasnya.
Analisis Redaksi Asatunews.my.id: Listrik Vampir
Artikel ini menjawab keraguan publik mengenai “listrik vampir” (vampire power). Dengan menghadirkan data teknis (0,1-0,5 Watt), pembaca diberikan pemahaman yang terukur bahwa meskipun kecil, pemborosan itu nyata adanya secara akumulatif.
Berita ini menyoroti bahwa penghematan listrik tidak selalu soal perangkat besar seperti AC atau pompa air, tetapi juga soal kedisiplinan pada hal-hal kecil. Hal ini mendorong pembaca untuk lebih sadar (mindful) terhadap perilaku penggunaan energi harian mereka.
Penekanan pada penggunaan saklar berlabel SNI sangat penting dalam jurnalisme pelayanan publik. Hal ini mengedukasi masyarakat bahwa kenyamanan (tidak perlu mencabut kabel) tidak boleh mengorbankan keamanan (risiko arus pendek atau kebakaran).
Penggunaan analogi “12 Watt-jam sehari” membantu pembaca memvisualisasikan jumlah pemborosan jika dikalikan dengan jumlah perangkat di rumah dan dikalikan sebulan (30 hari), sehingga urgensi untuk mulai mencabut charger menjadi lebih kuat. ****
