Energi Terbarukan Makin Murah, tapi Mengapa Tagihan Listrik Tetap Mahal? Ini Penjelasannya!

Published:

Biaya produksi listrik dari tenaga surya dan angin turun drastis, namun tagihan listrik konsumen di Eropa justru meroket. Simak analisis sistem pasar energi dan hidden cost di sini.

Biaya produksi listrik dari kincir angin dan panel surya kini berada di titik termurah sepanjang sejarah. Data dari International Renewable Energy Agency (IRENA) menunjukkan sekitar 91% kapasitas energi terbarukan skala utilitas yang baru dioperasikan memiliki biaya produksi lebih rendah dibandingkan alternatif bahan bakar fosil termurah. Di Eropa, biaya panel surya bahkan anjlok hingga 90% dalam dekade terakhir.

Namun, penurunan ini memicu pertanyaan besar: Mengapa konsumen di berbagai negara Eropa, seperti Jerman dan Inggris, justru menghadapi lonjakan tagihan listrik hingga memicu krisis biaya hidup?

Riset terbaru mengungkapkan bahwa ada jurang pemisah yang besar antara murahnya biaya produksi (harga grosir) dengan harga eceran (retail) yang harus dibayar oleh masyarakat. Berikut adalah tiga alasan utama di balik fenomena tersebut:

1. Sistem Pasar Energi Berbasis “Merit Order”

Sebagian besar pasar listrik dunia menggunakan sistem merit order, di mana harga akhir listrik di pasaran ditentukan oleh sumber energi terakhir (dan biasanya paling mahal) yang digunakan untuk memenuhi beban permintaan.

Di Eropa, pembangkit listrik bertenaga gas sering kali menjadi penentu harga akhir tersebut. Akibatnya, meskipun energi matahari dan angin menyuplai sebagian besar listrik dengan biaya sangat murah, ketika sebuah pembangkit gas harus dinyalakan untuk memenuhi sisa permintaan, harga listrik dari seluruh pembangkit lain otomatis ikut disetarakan dengan harga gas yang mahal.

2. Biaya Grosir Bukanlah Biaya Eceran

Konsumen rumah tangga tidak membeli listrik langsung dari pasar grosir. Tagihan listrik yang dibayar masyarakat mencakup komponen rantai pasok yang panjang, termasuk biaya jaringan (network costs), pajak, margin keuntungan pemasok, kebijakan subsidi, hingga biaya pemeliharaan gardu dan transmisi. Di banyak negara Eropa, biaya produksi listrik sebenarnya menyumbang kurang dari separuh dari total tagihan yang dibayar konsumen.

3. Hidden Cost (Biaya Tersembunyi) Integrasi Jaringan

Karakteristik energi terbarukan sangat bergantung pada cuaca (intermittent). Turbin angin tidak berputar tanpa angin, dan panel surya tidak menghasilkan listrik di malam hari.

Untuk menjaga stabilitas pasokan, sistem membutuhkan infrastruktur pendukung yang masif dan mahal, seperti kabel transmisi baru untuk menghubungkan lokasi kincir angin yang terpencil ke pusat kota, layanan pengelolaan fluktuasi pasokan, hingga teknologi baterai penyimpanan skala besar (battery storage). Seluruh biaya pembangunan sistem baru ini pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui tagihan bulanan mereka.

Tabel Komparasi Struktur Pasar & Tantangan Energi Terbarukan

Komponen / Negara Kasus Spanyol Kasus Jerman / Negara Eropa Lain
Ketergantungan pada Gas

Rendah; Gas hanya memengaruhi harga listrik di 15% jam operasional (Awal 2026).

Tinggi; Gas memengaruhi harga hingga 40% di Jerman dan 89% di Italia.

Dampak ke Konsumen

Harga listrik grosir jauh di bawah rata-rata Eropa.

Tagihan listrik tetap tinggi dan memicu krisis biaya hidup.

Tantangan Infrastruktur

Perluasan jaringan untuk mencegah pembuangan energi (curtailment).

Antrean panjang proyek hijau (total 2.500 GW macet global karena masalah transmisi).

Analisis: 

Artikel ini memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia yang saat ini juga tengah menggenjot bauran Energi Baru Terbarukan (EBT), seperti pembangunan PLTS Apung dan PLTB. Berikut poin penting bagi publik Indonesia:

  • EBT Murah Bukan Jaminan Tarif Listrik Langsung Turun: Masyarakat Indonesia perlu memahami bahwa menurunkan biaya produksi listrik dari panel surya di tingkat hulu tidak serta-merta membuat tarif per kWh di rumah langsung anjlok. PLN sebagai penyedia tunggal masih harus berinvestasi besar pada Smart Grid (jaringan pintar) dan transmisi interkoneksi antarpulau agar listrik dari lokasi EBT yang jauh bisa disalurkan secara stabil ke pusat industri dan permukiman.

  • Pentingnya Reformasi Desain Pasar Listrik: Sistem merit order di Eropa yang merugikan konsumen saat harga gas melonjak menjadi peringatan bagi pembuat kebijakan di Indonesia (Kementerian ESDM dan PLN). Indonesia harus mendesain regulasi harga dan tarif EBT secara bijak agar tidak terjebak pada fluktuasi harga komoditas fosil pendamping (seperti batu bara atau gas) yang masih mendominasi sistem kelistrikan nasional.

  • Tantangan Geografis Indonesia: Jika Amerika dan Eropa saja mengalami hambatan interkoneksi jaringan (grid bottleneck), tantangan Indonesia sebagai negara kepulauan jauh lebih kompleks. Membangun transmisi bawah laut untuk menyalurkan potensi EBT besar (seperti hidro di Kalimantan atau surya di NTT) ke pusat beban di Pulau Jawa memerlukan modal yang sangat besar. Biaya infrastruktur inilah yang harus dikelola agar tidak membebani kantong masyarakat di masa depan. Source

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://asatunews.my.id
Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Related articles

Recent articles