Bukan Sekadar Insting: Riset Membuktikan Hewan Memiliki Kepribadian Kompleks Layaknya Manusia

Published:

Riset terbaru membuktikan hewan peliharaan maupun liar memiliki kepribadian kompleks layaknya manusia. Dari trauma masa kecil hingga faktor genetik, simak ulasannya!

Bagi Anda yang memelihara kucing atau anjing di rumah, Anda pasti sering menyadari adanya keunikan sifat yang spesifik pada hewan kesayangan Anda. Ada kucing yang sangat pemberani bahkan berani menaiki robot penyedot debu yang sedang menyala, sementara ada pula kucing lain yang langsung lari ketakutan dan bersembunyi di bawah sofa.

Selama ini, masyarakat umum—bahkan sebagian ilmuwan di masa lalu—sering menganggap bahwa hewan liar terbebas dari kerumitan urusan psikologis seperti drama keluarga, trauma, atau keunikan sifat yang membingungkan. Namun, anggapan tersebut kini terpatahkan oleh serangkaian penelitian ilmiah.

“Mereka tidak luput dari hal itu,” ungkap Dr. Alison M. Bell, seorang pakar ekologi perilaku dari University of Illinois Urbana. “Hidup mereka juga keras, namun di sisi lain juga kaya akan pasang surut, luka, dan kemenangan, persis seperti kehidupan manusia.”

Melalui data ilmiah terbaru, berikut adalah empat faktor utama yang membentuk kepribadian dan sifat unik pada hewan:

1. Trauma dan Lingkungan Masa Kecil Berdampak Mendalam

Sama seperti manusia, pengalaman paling awal dalam hidup seekor hewan dapat membentuk kekuatan terbesar atau justru meninggalkan trauma terdalam pada diri mereka. Hewan sangat dipengaruhi oleh interaksi awal mereka dengan induk dan saudara kandung mereka.

Contoh nyata yang paling sering ditemui adalah pada anjing terlantar di penampungan hewan (shelter). Anjing yang memiliki riwayat masa lalu kelam atau pernah mengalami penyiksaan tidak akan pernah melupakan kejadian tersebut, dan pengalaman pahit itu meninggalkan efek yang menetap pada kepribadian mereka. Menariknya, Dr. Bell menegaskan bahwa konsep ini tidak hanya berlaku pada hewan domestik, melainkan juga pada hewan liar seperti seekor tupai yang diabaikan oleh induknya.

2. Porsi Genetik yang Sama Besar dengan Manusia

Banyak orang berasumsi bahwa hewan bergerak murni karena cetak biru insting genetika yang kaku. Namun, penelitian membuktikan bahwa faktor genetika hanya menyumbang sekitar 35 persen dalam pembentukan kepribadian hewan—angka persentase yang persis sama dengan pengaruh genetik pada manusia. Sisa kepribadian mereka dibentuk oleh faktor lingkungan, aspek biologis non-genetik, dan berbagai hal kompleks lainnya.

Menariknya, mengukur batasan antara pengaruh genetik dan lingkungan pada hewan jauh lebih mudah dan presisi dilakukan di laboratorium dibanding pada manusia. Peneliti dapat melakukan eksperimen dengan menukar telur burung antar-sarang untuk melihat apakah setelah menetas karakter anak burung tersebut akan lebih mirip dengan orang tua genetiknya atau orang tua asuhnya.

3. Kepribadian yang Stabil Namun Tetap Bisa Berubah

Secara umum, hewan memiliki “tanda tangan” kepribadian yang cenderung stabil di sepanjang hidup mereka, bahkan saat mereka bertransisi dari fase anak-anak menjadi dewasa.

“Dalam penelitian terhadap ikan stickleback, kami mengamati berulang kali bahwa individu ikan yang berani mengambil risiko pada hari kemarin, akan tetap menjadi individu yang berani mengambil risiko keesokan harinya, bahkan hingga bulan depan,” jelas Dr. Bell.

Kendati demikian, kepribadian tersebut tidaklah kaku. Karakter hewan tetap dapat bergeser dan berubah seiring dengan adanya lingkungan baru, interaksi sosial yang dialami, hingga perubahan pada kondisi kesehatan mereka.

Analisis: Mengapa Kita Kerap Menolak Fakta Ini?

Meskipun bukti ilmiah mengenai kepribadian hewan sudah sangat menumpuk, para peneliti sering kali menghadapi resistensi dari masyarakat maupun sesama ilmuwan. Dr. Sam Gosling, seorang psikolog kepribadian dan sosial, menceritakan bahwa banyak ilmuwan yang senang mendiskusikan kepribadian hewan studi atau hewan peliharaan mereka saat jam istirahat minum teh, namun langsung mendadak kaku dan berhenti membicarakannya begitu mereka kembali memakai jas laboratorium.

Jika dikaitkan dengan sudut pandang masyarakat di Indonesia, ada beberapa poin analisis menarik mengenai bagaimana kita memandang kepribadian hewan:

1. Pergeseran Paradigma Pemilik Hewan Peliharaan di Perkotaan

Di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, tren memperlakukan hewan peliharaan (terutama kucing dan anjing) sebagai bagian dari anggota keluarga (anabul atau anak bulu) berkembang sangat pesat. Riset ini memperkuat validasi emosional bagi para pemilik hewan di Indonesia bahwa sifat “manja”, “pemberani”, atau “penakut” dari hewan mereka bukanlah delusi atau antropomorfisme (menganggap hewan berperilaku seperti manusia), melainkan realitas psikologis yang diakui secara sains.

2. Pentingnya Edukasi Adopsi Hewan Domestik

Banyaknya kasus penelantaran hewan dan maraknya adopsi dari selter penyelamatan (animal rescue) di Indonesia memerlukan pemahaman mendalam terkait poin trauma masa kecil hewan. Calon pemilik hewan di Indonesia harus diedukasi bahwa mengadopsi kucing atau anjing jalanan yang pernah disiksa membutuhkan kesabaran ekstra. Pendekatan pencinta hewan tidak bisa disamakan karena hewan-hewan tersebut membawa “luka batin” yang memengaruhi stabilitas kepribadian mereka.

3. Hambatan Budaya dan Ego Sentris Manusia

Mengapa fakta bahwa hewan memiliki kepribadian terkesan sangat mengejutkan bagi banyak orang? Dr. Bell menyebutkan adanya resistensi psikologis pada manusia. Menerima fakta bahwa hewan memiliki kepribadian yang kompleks memaksa manusia untuk mengakui dua hal yang tidak nyaman bagi ego kita: kita harus rela memandang diri kita sendiri sebagai makhluk yang tidak seistimewa itu, sekaligus harus mau melihat hewan sebagai makhluk yang jauh lebih rumit dari yang kita duga selama ini. Di Indonesia, pandangan tradisional yang menganggap hewan hanyalah komoditas atau makhluk tingkat rendah tanpa emosi menjadi tantangan utama yang harus perlahan diubah demi kesejahteraan hewan (animal welfare).

Sains telah membuktikan bahwa ruang emosional dan psikologis tidak hanya milik manusia. Mulai dari ikan kecil di lautan hingga kucing yang tertidur di pangkuan Anda, mereka menjalani hidup yang kaya akan pengalaman, ingatan, dan karakter unik yang membentuk siapa diri mereka.

Bagaimana dengan hewan peliharaan di rumah Anda? Perilaku unik atau baffling quirks apa yang paling sering mereka tunjukkan yang membuat Anda yakin bahwa mereka memiliki kepribadiannya sendiri? Source

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://asatunews.my.id
Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Related articles

Recent articles