Kebijakan WFH setiap Jumat bagi ASN ternyata menyimpan tantangan berat, mulai dari kuota internet yang boros hingga risiko kelelahan mental akibat distraksi rumah.
Bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) yang sering dianggap sebagai solusi fleksibilitas kerja, ternyata menyimpan beban tersendiri bagi aparatur sipil negara (ASN). Alih-alih mendapatkan kenyamanan, sejumlah pekerja justru mengeluhkan kendala teknis dan distraksi yang memicu kelelahan mental.
Dikutip dari laporan Kompas.com, Rabu (6/5/2026), salah satu ASN di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Karunia Putri (29), mengungkapkan bahwa WFH adalah perjuangan melawan sinyal yang tidak stabil dan biaya tambahan untuk kuota internet.
Karunia yang bekerja di bidang administrasi harus mengandalkan hotspot ponsel pribadi karena tidak memiliki jaringan WiFi di rumah. Padahal, setiap hari Jumat, beban kerjanya tetap tinggi dengan banyaknya rapat daring dan pengiriman dokumen berukuran besar.
“Dalam satu hari Jumat, kebutuhan data internetnya bisa mencapai 5 hingga 10 GB, tergantung intensitas rapat dan pengiriman file,” ujar Karunia dalam keterangannya. Ketergantungan pada kuota ini otomatis menambah pengeluaran finansial pribadi demi menjalankan tugas negara.
Selain masalah teknis, gangguan domestik menjadi tantangan utama bagi ibu pekerja. Anita Puspa (32), seorang ASN bidang perencanaan, mengaku harus membagi fokus antara pekerjaan dan anak balitanya.
“Kerja itu putus-putus, kadang sambil nemenin dia main. Secara mental saya merasa WFH lebih melelahkan karena harus bagi fokus terus,” tutur Anita. Ia harus menyiasati waktu kerja saat anak tidur siang atau bermain sendiri agar target pekerjaan tetap tercapai.
Dokter spesialis kedokteran okupasi, Fani Syafani, mengingatkan pentingnya aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan rumah. Bekerja di tempat yang tidak ergonomis seperti sofa atau tempat tidur dapat memicu gangguan fisik pada leher dan saraf.
Fani juga menyoroti fenomena “Zoom fatigue” atau kelelahan akibat rapat daring yang berlebihan. “Apabila tidak dapat diantisipasi, dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan stres akibat kurang fokus,” tegasnya.
Analisis Strategis Asatunewsmy.id: Evaluasi Mendalam
Kebijakan WFH bagi ASN setiap Jumat, meski bertujuan untuk efisiensi energi dan mengurangi kemacetan, memerlukan evaluasi mendalam pada beberapa poin krusial:
Ketimpangan Fasilitas: Ada “subsidi pribadi” yang dilakukan ASN untuk menutupi minimnya infrastruktur rumah (seperti internet dan meja ergonomis). Hal ini berpotensi menurunkan produktivitas jika biaya operasional rumah tangga membengkak akibat tugas kantor.
Adaptasi Budaya Kerja: Pengamat sosial UI, Rissalwan Habdy Lubis, menilai kebijakan ini sebenarnya mengadaptasi pola kerja Jumat ASN yang selama ini sudah tidak efektif karena adanya olahraga dan ibadah. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga kontrol kualitas kerja agar tidak dianggap remeh oleh pekerja itu sendiri.
Kesehatan Mental: Perlu adanya batasan jelas antara jam kerja dan waktu pribadi. Kelelahan mental akibat distraksi rumah menunjukkan bahwa WFH tidak selalu cocok untuk semua profil pekerja, terutama mereka yang tidak memiliki ruang kerja khusus atau dukungan pengasuhan anak.
Urgensi Digitalisasi: Masalah sinyal dan pengiriman file besar menunjukkan bahwa infrastruktur digital nasional masih menjadi penghambat utama bagi efektivitas kerja jarak jauh di wilayah penyangga seperti Bogor. ****
