Apple mulai jajaki kerja sama dengan Samsung dan Intel untuk produksi chip guna kurangi ketergantungan pada TSMC. Simak tantangan rantai pasok Apple di sini.
Raksasa teknologi Apple dilaporkan mulai menjajaki kerja sama produksi chip dengan Samsung dan Intel. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya perusahaan untuk mengurangi ketergantungan yang tinggi pada pemasok utama mereka selama satu dekade terakhir, TSMC.
Dikutip dari laporan Bloomberg melalui Engadget, Rabu (6/5/2026), Apple telah melakukan pembicaraan tahap awal dengan Intel. Selain itu, perwakilan Apple dikabarkan telah mengunjungi fasilitas produksi chip milik Samsung yang tengah dibangun di Texas, Amerika Serikat. Meski demikian, sumber yang mengetahui masalah tersebut menyebutkan bahwa pembicaraan ini masih dalam tahap sangat awal.
Selama lebih dari sepuluh tahun, Apple mengandalkan TSMC untuk memasok komponen vital bagi iPhone, iPad, dan Mac. Namun, ketergantungan pada satu vendor dinilai mulai menimbulkan ketidaknyamanan bagi manajemen Apple, terutama terkait fleksibilitas rantai pasok global.
CEO Apple, Tim Cook, sebelumnya menyoroti terbatasnya fleksibilitas perusahaan yang diperparah oleh krisis ketersediaan chip global. Saat ini, sebagian besar kapasitas produksi dialihkan untuk memenuhi lonjakan permintaan industri kecerdasan buatan (AI), yang membuat persaingan mendapatkan slot produksi semakin ketat.
Meskipun TSMC sudah memproduksi beberapa komponen di pabrik Phoenix, Arizona, kontribusinya masih tergolong kecil. Apple menargetkan 100 juta system-on-chips (SoC) akan diproduksi di Amerika Serikat pada tahun 2026. Angka ini masih jauh di bawah total pengiriman perangkat Apple yang pada tahun 2025 saja mencapai lebih dari 247 juta unit iPhone.
Dikutip dari kantor berita Antara, Apple tetap akan menggunakan teknologi manufaktur TSMC untuk chip A20 dan A20 Pro pada lini iPhone 18 mendatang. Komponen dari produsen mitra baru kemungkinan besar baru akan digunakan pada produk keluaran tahun 2027.
Kendati mulai melirik mitra lain, Apple dikabarkan memiliki kekhawatiran besar mengenai kualitas teknologi di luar TSMC. Hingga saat ini, Intel dan Samsung dinilai masih tertinggal di belakang TSMC dalam hal teknologi prosesor. Kedua perusahaan tersebut dilaporkan masih berjuang mengatasi masalah teknis seperti panas berlebih (overheating) dan rendahnya hasil produksi (yield) pada desain chip yang lebih kecil dan efisien.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Peta Kekuatan
Upaya Apple menggandeng Samsung dan Intel menunjukkan pergeseran peta kekuatan industri semikonduktor:
Diversifikasi Demi Keamanan Nasional: Langkah mengunjungi fasilitas di Texas menunjukkan Apple ingin menyelaraskan diri dengan kebijakan pemerintah AS untuk melokalisasi produksi chip. Diversifikasi ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga mitigasi risiko geopolitik di Taiwan.
TSMC Tetap Menjadi Raja: Meskipun ada upaya penjajakan, TSMC tetap memegang kunci untuk lini produk premium (iPhone 18). Hal ini membuktikan bahwa selisih teknologi antara TSMC dengan Samsung/Intel masih cukup lebar, terutama dalam efisiensi daya yang menjadi standar emas produk Apple.
Tekanan Industri AI: Fokus dunia pada AI memaksa Apple untuk mencari “rumah” baru bagi produksinya. Jika Apple tidak segera melakukan diversifikasi, mereka berisiko kalah rebutan kapasitas produksi dengan pemain besar AI lainnya yang sanggup membayar harga premium.
Ujian Bagi Samsung dan Intel: Kerja sama ini adalah peluang emas sekaligus ujian bagi Intel dan Samsung. Jika mereka gagal mengatasi masalah overheating dan yield rendah, Apple kemungkinan besar akan kembali ke pelukan TSMC sepenuhnya, yang akan memperkuat dominasi TSMC di pasar global. ****
