Seri Call of Duty terbaru dilaporkan tidak lagi hadir di PS4 dan Xbox One. Simak alasan di balik keputusan ini dan dampaknya bagi para pemain di tengah kenaikan harga konsol.
Kabar kurang menyenangkan bagi para pemain gim yang masih menggunakan konsol generasi lama. Waralaba gim populer, Call of Duty, dilaporkan tidak akan lagi merilis judul terbarunya untuk konsol PlayStation 4 (PS4) dan kemungkinan besar juga berlaku untuk Xbox One.
Dikutip dari laporan Engadget melalui kantor berita Antara, Rabu (6/5/2026), informasi ini mencuat setelah akun resmi Call of Duty di media sosial mengonfirmasi bahwa gim berikutnya tidak dikembangkan untuk platform PS4. Meski tidak menyebutkan Xbox One secara eksplisit, kebijakan serupa diprediksi akan menyasar konsol besutan Microsoft tersebut karena berada dalam generasi yang sama.
Langkah ini menandai berakhirnya dukungan panjang Call of Duty terhadap konsol lawas. Sebagai catatan, seri sebelumnya seperti Call of Duty: Black Ops 7 masih tersedia untuk pengguna PS4 dan Xbox One.
Keputusan untuk meninggalkan konsol generasi lama dinilai sebagai langkah logis dalam siklus industri gim. Mengingat konsol generasi terbaru seperti PlayStation 5 (PS5) dan Xbox Series X/S telah beredar selama hampir enam tahun, pengembangan gim yang masih mendukung konsol lama dianggap dapat menghambat potensi performa dan fitur-fitur canggih yang diinginkan pemain.
Namun, transisi ini terjadi di tengah situasi ekonomi yang menantang. Harga perangkat konsol terbaru justru mengalami kenaikan signifikan dibandingkan saat peluncuran tahun 2020. Saat ini, harga PS5 versi standar dilaporkan menyentuh angka 650 dolar AS atau sekitar Rp11,2 juta.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada daya beli. Sony melaporkan penurunan penjualan PS5 sebesar 16 persen pada musim liburan 2025 dibandingkan periode tahun sebelumnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa kebijakan eksklusivitas ke konsol baru akan menyulitkan basis pemain yang belum mampu melakukan upgrade perangkat.
Selain itu, waralaba ini juga dikabarkan tidak akan lagi tersedia sejak hari pertama (day one) di layanan Xbox Game Pass. Hal ini berpotensi menambah biaya pengeluaran bagi pemain yang ingin mengakses gim terbaru secara instan. Meski belum ada detail resmi, rumor yang beredar menyebutkan bahwa judul berikutnya adalah Call of Duty: Modern Warfare 4.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Dilema Besar
Keputusan Activision dan Microsoft terkait Call of Duty mencerminkan dilema besar dalam industri gim modern:
Dilema “Cross-Gen”: Selama bertahun-tahun, Call of Duty bertahan sebagai gim cross-gen demi menjaga basis pemain yang masif. Namun, “beban” untuk mengoptimalkan gim agar bisa berjalan di teknologi tahun 2013 (PS4/Xbox One) akhirnya kalah oleh kebutuhan untuk bersaing secara visual dan teknis di tahun 2026.
Kesenjangan Aksesibilitas: Dengan harga konsol yang melonjak ke angka Rp11 jutaan, industri gim kini menghadapi risiko eksklusivitas ekonomi. Call of Duty adalah gim “sejuta umat”, dan memaksa pemain beralih di saat harga perangkat tidak ramah kantong bisa menjadi bumerang bagi angka penjualan unit gim itu sendiri.
Perubahan Strategi Game Pass: Tidak hadirnya Call of Duty secara day one di Game Pass menunjukkan bahwa Microsoft mulai memprioritaskan pendapatan langsung dari penjualan unit gim (full price) daripada sekadar menambah jumlah pelanggan langganan. Ini adalah indikasi bahwa biaya pengembangan gim AAA kelas atas semakin sulit ditutup hanya dengan model berlangganan.
Ujian Loyalitas: Penggemar setia kini diuji—apakah mereka akan tetap setia membeli konsol baru demi satu judul gim, atau mulai melirik platform lain seperti PC yang menawarkan fleksibilitas komponen. *****
