Ilustrasi generasi muda yang sedang melakukan transaksi belanja online melalui smartphone sebagai bentuk pelarian emosional atau doom spending.
Ilustrasi generasi muda yang sedang melakukan transaksi belanja online melalui smartphone sebagai bentuk pelarian emosional atau doom spending.

Fenomena Doom Spending hantui Gen Z. Belanja impulsif jadi pelarian stres karena harga rumah tak terjangkau. Simak analisis psikolog dan pakar sosial di sini.

Sebuah tren perilaku keuangan baru bernama doom spending kini tengah mewabah di kalangan Generasi Z. Fenomena ini menggambarkan perilaku belanja impulsif secara berlebihan sebagai pelarian dari stres, kecemasan, hingga rasa putus asa terhadap ketidakpastian ekonomi masa depan.

Bagi anak muda, belanja tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, melainkan respons atas tekanan hidup dan rasa pesimistis terhadap impian jangka panjang, seperti memiliki hunian pribadi.

Dikutip dari laporan Kompas.com, Kamis (9/4/2026), banyak anak muda merasa menabung untuk membeli rumah adalah hal yang mustahil. Ellena (26), salah satu pelaku doom spending, mengaku lebih memilih menikmati uangnya sekarang daripada memikirkan aset yang sulit dijangkau.

“Mau nabung juga buat apa ya? Harga rumah sekarang rasanya enggak kejangkau. Jadi ya sudah, yang penting sekarang bisa nikmatin aja dulu,” ujar Ellena. Ia mengaku aktivitas belanja kerap muncul sebagai pelarian setelah menghadapi hari yang melelahkan.

Selain Ellena, Nadia (26) juga merasakan pola serupa. Dalam sebulan, ia bisa melakukan lima hingga sepuluh kali transaksi secara tidak sadar. Bahayanya, platform video singkat seperti TikTok menjadi pemicu utama.

“Awalnya aku cuma mau scroll video kayak biasa, tapi ujung-ujungnya malah lihat orang review barang, terus jadi tertarik aja,” kata Nadia. Momen belanja ini sering terjadi pada malam hari saat kondisi emosional sedang lelah setelah bekerja.

Namun, rasa senang yang didapat dari belanja impulsif ini bersifat semu. Maya (27), pelaku lainnya, menyebut bahwa rasa puas tersebut hanya berlangsung singkat sebelum akhirnya berubah menjadi kebingungan dan penyesalan saat melihat saldo rekening yang terkuras hingga jutaan rupiah per bulan.

Psikolog Klinis Senior sekaligus Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, Ratih Ibrahim, menjelaskan bahwa doom spending dipicu oleh stres, burnout, hingga ketidakpastian masa depan. Belanja dianggap sebagai cara cepat meredakan emosi tidak nyaman melalui sistem dopamin di otak.

“Bukan semata-mata karena ‘tidak mampu’ mengatur uang, namun lebih kepada usaha untuk meredakan ketidaknyamanan emosional dalam jangka pendek,” jelas Ratih. Ia memperingatkan bahwa jika pola ini berlanjut, perilaku ini bisa berkembang menjadi compulsive buying behavior atau adiksi belanja.

Di sisi lain, pengamat sosial Universitas Indonesia, Rissalwan Lubis, menilai fenomena ini tidak lepas dari cara generasi muda memaknai self reward. Ia menyebut Gen Z sebagai “generasi rentan” yang merasa perlu memberi penghargaan berlebih atas tekanan yang mereka hadapi.

“Media sosial itu sendiri adalah entitas yang kemudian men-supply dia dengan rasa takut, dengan rasa khawatir yang berlebihan,” tambah Rissalwan.

Analisis Strategis Asatunews.my.id: Pergeseran Fundamental

Fenomena doom spending yang merebak di tahun 2026 ini menunjukkan pergeseran fundamental dalam psikologi ekonomi masyarakat:

Perilaku ini adalah sinyal bahaya bagi ketahanan ekonomi nasional. Ketika generasi produktif kehilangan harapan untuk memiliki aset tetap (rumah), mereka cenderung beralih ke ekonomi konsumtif jangka pendek. Hal ini memperlebar jarak antara pendapatan dan akumulasi kekayaan nyata.

Peran platform seperti TikTok yang disebutkan dalam berita menunjukkan bahwa algoritma pemasaran kini bekerja sangat personal dengan memanfaatkan kelemahan emosional pengguna. Belanja bukan lagi keputusan sadar, melainkan respons otomatis terhadap stimulasi digital.

Terdapat salah kaprah dalam memahami self reward. Gen Z perlu diedukasi bahwa penghargaan diri yang merusak kestabilan finansial jangka panjang sebenarnya adalah bentuk sabotase diri (self-sabotage).

 Masalah doom spending tidak bisa diselesaikan hanya dengan tips menabung. Diperlukan penanganan kesehatan mental (manajemen stres) sekaligus kebijakan pemerintah untuk menekan harga properti agar impian memiliki rumah kembali masuk akal bagi anak muda.

Singkatnya doom spending adalah manifestasi dari keresahan sosial-ekonomi yang mendalam. Tanpa perubahan pola pikir dan intervensi kebijakan, generasi ini berisiko terjebak dalam siklus “senang sesaat, susah selamanya.” *****

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *