Ahli nutrisi Inggris Zib Atkins memperingatkan bahaya kandungan arsenik pada nasi. Simak rekomendasi jenis beras terbaik dan cara masak yang aman di sini.
Ahli nutrisi asal Inggris, Zib Atkins, mengeluarkan peringatan keras terkait konsumsi beras global. Dalam imbauan kesehatan masyarakat yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, Atkins menyoroti adanya risiko kontaminasi logam berat yang mengintai kesehatan konsumen berdasarkan wilayah produksi dan jenis beras yang dipilih.
Dikutip dari Hindustan Times, Atkins menjelaskan bahwa masalah utama pada tanaman padi adalah kemampuannya menyerap arsenik dari tanah secara efektif karena tumbuh dalam kondisi tergenang air.
“Masalahnya adalah arsenik, logam berat beracun, menumpuk di tanah kita. Padi menyerap arsenik tersebut, dan tergantung di mana padi itu ditanam, kadarnya bisa jauh lebih tinggi,” ujar Atkins. Ia menambahkan bahwa arsenik merupakan karsinogen (pemicu kanker) dan neurotoksin yang dapat merusak otak.
Salah satu poin krusial dalam saran Atkins adalah imbauan untuk menghindari beras yang ditanam di Amerika Serikat (AS). Menurutnya, penggunaan pestisida secara historis di tanah AS telah meninggalkan warisan kadar arsenik yang tinggi.
“Anda pasti ingin menghindari apa pun yang ditanam di AS,” tegasnya. Ia mencatat bahwa mayoritas penelitian menunjukkan beras asal wilayah tersebut memiliki tingkat arsenik yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.
Sebagai alternatif yang lebih aman, Atkins merekomendasikan jenis beras berbutir panjang (aromatik) seperti:
Beras Basmati: Umumnya berasal dari kaki pegunungan Himalaya (India/Pakistan).
Beras Melati (Jasmine Rice): Biasanya berasal dari Thailand.
Ia juga menyarankan untuk memilih varian organik guna menghindari paparan pestisida tambahan yang sering disemprotkan pada padi konvensional.
Meskipun beras cokelat sering dianggap lebih bernutrisi karena kandungan seratnya, Atkins memberikan pandangan berbeda. Ia berpendapat bahwa manfaat nutrisi beras cokelat mungkin kalah oleh risiko toksisitasnya.
Hal ini dikarenakan arsenik cenderung terkonsentrasi pada lapisan luar biji-bijian (dedak). Bagian yang membuat beras menjadi “utuh” dan kaya serat justru merupakan bagian yang paling banyak menyimpan risiko kontaminasi.
Bagi masyarakat yang tetap mengonsumsi nasi, Atkins menyarankan teknik memasak khusus sebagai lini pertahanan terakhir untuk membuang kontaminan:
Rendam dan Bilas: Rendam beras sebelum dimasak dan bilas di bawah air mengalir.
Rasio Air 6:1: Masak beras dengan rasio air yang melimpah (seperti memasak pasta), bukan dengan teknik serap air (liwet) hingga kering.
Buang Air Sisa: Tiriskan kelebihan air setelah nasi matang. Metode ini diklaim mampu mengurangi kadar arsenik anorganik secara signifikan.
Sebagai penutup, Atkins mengingatkan pentingnya diversifikasi sumber karbohidrat seperti kentang, quinoa, soba (buckwheat), dan gandum untuk mencegah penumpukan kontaminan tunggal dalam tubuh.
Analisisis Redaksi Asatunews.my.id: Kualitas Kesehatan
Berita ini menyoroti bahwa kualitas kesehatan suatu bahan pangan tidak hanya ditentukan oleh jenis tanamannya, tetapi juga sejarah penggunaan lahan (pestisida masa lalu) di lokasi penanaman. Hal ini memberikan edukasi baru bagi konsumen untuk lebih teliti melihat asal-usul (origin) produk.
Beras cokelat selama ini diposisikan sebagai pilihan “paling sehat”. Analisis Atkins memberikan perspektif penyeimbang bahwa ada risiko trade-off antara serat tinggi dengan akumulasi logam berat pada kulit ari beras.
Artikel tidak hanya menyebarkan ketakutan (fear mongering), tetapi memberikan solusi teknis melalui metode memasak “gaya pasta” (air berlebih) yang secara ilmiah memang terbukti dapat melarutkan sebagian kadar arsenik yang menempel pada beras.
Saran untuk merotasi karbohidrat (quinoa, kentang, dsb) adalah prinsip dasar gizi seimbang yang bertujuan meminimalisir risiko akumulasi zat kimia tertentu jika hanya bergantung pada satu jenis makanan pokok secara terus-menerus. ****
