JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipicu meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut membuat dolar kembali menjadi aset lindung nilai (safe haven) bagi investor. “Dolar kembali mendapatkan momentum sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/10/2025).
Shutdown Pemerintahan AS dan Gejolak Politik di Eropa Picu Penguatan Dolar
Menurut Taufan, ketidakpastian global berasal dari krisis politik di Eropa dan penutupan sementara pemerintahan AS (government shutdown) yang telah berlangsung enam hari akibat kebuntuan politik antara Partai Demokrat dan Republik. Shutdown tersebut menimbulkan dampak ekonomi signifikan, termasuk penundaan gaji militer dan pegawai federal. “Kondisi ini mendorong arus modal beralih ke aset dolar, sementara imbal hasil obligasi AS tenor panjang bertahan tinggi di atas 4,6 persen,” katanya.
Taufan menambahkan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, di tengah data tenaga kerja dan aktivitas jasa AS yang masih solid. Ia memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.550–Rp16.630 per dolar AS dalam jangka pendek, bergantung pada perkembangan negosiasi shutdown dan risalah FOMC. “Langkah stabilisasi Bank Indonesia di pasar valas diharapkan dapat menahan volatilitas lebih dalam,” ujar Taufan. (A-1)
