JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat setelah ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mulai mereda. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelonggaran retorika Presiden AS Donald Trump terhadap China memberikan dorongan positif bagi pasar keuangan global. “Retorika Trump lebih lembut, tidak lama setelah dia mengancam 100 persen tarif tambahan untuk China. Trump mengatakan bahwa China akan baik-baik saja, dan AS mau membantu mereka,” ujar Lukman di Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Analis nilai tukar sebut pernyataan lunak Trump dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed jadi sentimen positif bagi rupiah
Sebelumnya, tensi antara dua ekonomi terbesar dunia itu meningkat setelah China mengumumkan pembatasan ekspor unsur tanah jarang pada Kamis (9/10), dengan alasan menjaga keamanan nasional dan kontrol terhadap teknologi strategis. Sebagai respons, Trump menuding China “menyandera dunia” dan mengancam tarif 100 persen atas produk impor dari Negeri Tirai Bambu. Namun, setelah indeks saham AS anjlok akibat kekhawatiran perang dagang, Trump melunak dan menulis di media sosial bahwa Amerika tidak berniat “menyakiti” China, melainkan ingin membantu memulihkan ekonominya.
Selain faktor geopolitik, Lukman menilai penguatan rupiah juga didorong oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) setelah pernyataan bernada dovish dari Kepala The Fed Philadelphia, Anna Paulson. “Rupiah juga didukung oleh naiknya prospek pemangkasan suku bunga The Fed dan menurunnya kekhawatiran terhadap inflasi akibat tarif,” kata Lukman. Berdasarkan sentimen tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.500–Rp16.600 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan Selasa, rupiah menguat 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp16.563 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.573. (A-1)