JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini di zona hijau. Pada penutupan pasar Jumat (16/1/2026), IHSG tercatat menguat terbatas seiring dengan masuknya aliran modal asing di sektor perbankan dan infrastruktur.

Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Menunjukkan Sinyal Positif, Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Masih Dibayangi Ketidakpastian Konflik Timur Tengah.

Namun, penguatan IHSG ini berbanding terbalik dengan posisi nilai tukar Rupiah. Mata uang garuda terpantau masih bergerak fluktuatif dan cenderung melemah di kisaran Rp16.250 per Dolar AS.

Sentimen Timur Tengah dan Harga Minyak

Analis pasar modal menyebutkan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah—terutama setelah langkah mediasi Presiden Rusia Vladimir Putin terhadap Iran dan Israel—menjadi faktor utama yang menahan penguatan Rupiah.

“Pasar cenderung wait and see. Investor masih khawatir eskalasi militer dapat mengganggu jalur pasokan energi dunia, yang pada akhirnya memicu kenaikan inflasi global,” ujar pengamat ekonomi di Jakarta.

Sektor Perbankan Jadi Penopang

Di sisi lain, saham-saham perbankan raksasa (Big Caps) seperti BBCA, BBRI, dan BMRI tetap menjadi pilihan aman bagi investor domestik. Kinerja emiten perbankan yang diprediksi tetap tumbuh di awal tahun 2026 memberikan angin segar bagi bursa saham lokal.

Proyeksi Pekan Depan

Untuk pekan depan, para pelaku pasar diharapkan mencermati data inflasi domestik dan kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate). Jika tekanan global mereda, Rupiah diprediksi memiliki ruang untuk kembali menguat ke level Rp16.100. (A-1)

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *