Psikolog klinis Kasandra Putranto memberikan penjelasan mengenai dampak penggunaan gawai dan kesehatan mental remaja.

Psikolog Kasandra Putranto mendukung kebijakan pembatasan gawai di sekolah Banten dengan pendekatan edukatif. Simak tips komunikasi authoritative parenting di sini.

JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID – Kebijakan pembatasan penggunaan telepon seluler di lingkungan sekolah mulai diterapkan di Provinsi Banten per Februari 2026. Menanggapi hal tersebut, Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menekankan pentingnya pendekatan edukatif dan kontekstual agar aturan tersebut tidak dianggap sebagai hukuman oleh siswa.

Menurut Kasandra, tujuan utama dari pembatasan ini adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang fokus serta sehat secara mental bagi peserta didik.

“Pendekatan ini membantu siswa memahami bahwa pembatasan bukan hukuman, melainkan upaya menciptakan lingkungan belajar yang fokus dan sehat secara mental,” ujar Kasandra di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Prinsip Zona Bebas Ponsel di Sekolah

Kasandra menyarankan beberapa prinsip yang dapat diterapkan pihak sekolah agar kebijakan ini berjalan efektif tanpa mematikan kebutuhan teknologi siswa:

  1. Penyimpanan Gawai: Ponsel sebaiknya disimpan selama jam pelajaran, kecuali jika diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran.

  2. Zona Bebas Ponsel: Menetapkan area tertentu seperti ruang kelas dan perpustakaan sebagai wilayah steril gawai.

  3. Waktu Fleksibel: Penggunaan ponsel tetap diperbolehkan pada jam istirahat, sehingga aturan ini bukan merupakan larangan total di seluruh area sekolah.

Ia juga menambahkan bahwa sosialisasi aturan harus mengedepankan dialog, bukan sekadar penegakan disiplin kaku. Pelibatan orang tua dan siswa dalam merumuskan kesepakatan dinilai sangat krusial agar aturan dipatuhi secara sadar.

Kunci Authoritative Parenting di Rumah

Tidak hanya di sekolah, Kasandra mengingatkan peran penting orang tua dalam mendukung transisi ini melalui komunikasi yang sehat. Ia menyarankan penerapan gaya komunikasi demokratis atau authoritative parenting.

“Kunci utamanya adalah tegas namun hangat. Hindari kontrol berlebihan seperti memeriksa ponsel remaja tanpa izin, karena hal itu dapat merusak kepercayaan,” tuturnya.

Sebaliknya, orang tua didorong untuk memberikan ruang diskusi dan negosiasi. Dalam psikologi perkembangan, remaja yang dilibatkan dalam pembuatan aturan terbukti lebih kooperatif, jujur, dan memiliki hubungan keluarga yang lebih harmonis.

Merespons Kebijakan Dindikbud Banten

Sebagai informasi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten telah memulai uji coba pembatasan ponsel di jenjang SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) mulai awal bulan ini.

Kebijakan yang tertuang dalam surat edaran tertanggal 29 Januari 2026 tersebut bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif gawai terhadap konsentrasi belajar serta meningkatkan kedisiplinan peserta didik di sekolah negeri maupun swasta.

Panduan Praktis: 7 Menit Diskusi Gawai dengan Anak (Metode Authoritative)

Sesuai saran psikolog Kasandra Putranto, kunci keberhasilan aturan gawai bukan pada “larangan”, tapi pada “kesepakatan”. Gunakan teknik 7 menit ini untuk membangun dialog demokratis dengan anak remaja Anda:

Menit 1-2: Dengarkan Sudut Pandang Anak

Jangan langsung memberi perintah. Mulailah dengan pertanyaan terbuka: “Menurut kamu, apa bagian paling seru dari main HP dan apa bagian yang bikin kamu ngerasa terganggu pas lagi belajar?”

  • Tujuan: Membuat anak merasa didengar dan dihargai.

Menit 3-4: Jelaskan “The Why” (Bukan Sekadar Aturan)

Sampaikan kekhawatiran Anda tanpa nada mengancam. Gunakan data dari kebijakan sekolah: “Mama/Papa dengar di sekolah sekarang ada aturan baru soal HP supaya kalian bisa lebih fokus. Kita coba yuk, supaya kesehatan mental kamu juga tetap terjaga.”

  • Tujuan: Memberikan konteks bahwa aturan dibuat demi kesejahteraan mereka.

Menit 5-6: Ruang Negosiasi & Kesepakatan

Ajak anak menentukan batasan bersama. Misal: “Kira-kira jam berapa kita harus taruh HP di meja makan?” atau “Berapa lama waktu yang kamu butuhin buat scrolling setelah tugas selesai?”

  • Tujuan: Remaja cenderung lebih patuh pada aturan yang mereka ikut rumuskan.

Menit 7: Komitmen Bersama (Role Model)

Aturan berlaku untuk semua, termasuk orang tua. Tutup dengan: “Oke, kita sepakat ya. Kalau lagi jam makan, Papa juga nggak akan cek HP.”

  • Tujuan: Membangun kepercayaan (trust) dan menunjukkan integritas orang tua. (A-1)

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *