Ilustrasi seseorang meletakkan ponsel dan memilih untuk membaca buku atau berinteraksi sosial dengan tenang saat waktu puasa.
Ilustrasi seseorang meletakkan ponsel dan memilih untuk membaca buku atau berinteraksi sosial dengan tenang saat waktu puasa.

Ingin jiwa lebih tenang saat puasa? Simak 5 cara mudah melakukan digital detox untuk mendukung proses detoksifikasi psikologis dan kesehatan mental Anda.

JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Menindaklanjuti penjelasan dr. Lahargo Kembaren, SpKJ mengenai puasa sebagai sarana penataan ulang emosi, salah satu distraksi terbesar yang menghambat proses tersebut adalah penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan.

Berikut adalah panduan praktis melakukan “Digital Detox” selama puasa untuk membantu otak mencapai fase neuroplastisitas yang lebih maksimal:

1. Batasi “Doomscrolling” Saat Menunggu Buka

Waktu luang menjelang berbuka (ngabuburit) sering dihabiskan dengan menggulir media sosial tanpa henti. Aktivitas ini justru memicu kelelahan mental. Cobalah batasi penggunaan media sosial maksimal 30 menit sebelum berbuka. Ganti dengan aktivitas reflektif seperti membaca buku atau mendengarkan instrumen yang menenangkan.

2. Matikan Notifikasi yang Tidak Mendesak

Suara notifikasi memicu hormon dopamin yang membuat kita terus-menerus merasa waspada dan terdistraksi. Matikan notifikasi aplikasi non-pekerjaan agar prefrontal cortex (bagian otak pengendali emosi) dapat beristirahat dari tekanan informasi yang masuk secara konstan.

3. Kurangi Konsumsi Konten Negatif

Sesuai prinsip detoks psikologis, hindari konten yang memicu amarah, iri hati, atau perdebatan di kolom komentar. Fokuslah pada konten yang memberikan asupan makna hidup atau nilai-nilai spiritual (spiritual coping) untuk memperkuat resiliensi mental Anda.

4. Praktikkan “Silent Eating” Saat Berbuka

Alih-alih makan sambil menonton video atau membalas pesan, cobalah untuk berbuka puasa dengan sadar (mindful eating). Rasakan tekstur dan rasa makanan Anda. Jeda tanpa distraksi digital ini membantu pikiran menemukan kejernihan dan arah, seperti yang disarankan dr. Lahargo.

5. Manfaatkan “Jeda” untuk Koneksi Nyata

Gunakan waktu yang biasanya terbuang di dunia maya untuk menjalin hubungan sosial secara langsung. Berbagi cerita dengan keluarga atau teman saat tarawih atau buka bersama secara nyata dapat meningkatkan empati dan menguatkan hubungan emosional.

Kesimpulan

Digital detox bukan berarti memutus komunikasi total, melainkan mengambil kendali atas perhatian kita. Dengan mengurangi distraksi digital, kita memberi ruang bagi otak untuk bertumbuh, memperbaiki kebiasaan lama, dan mencapai keseimbangan jiwa yang hakiki.  (A-1)

 

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *