Dr. Vikas Kohli memperingatkan bahaya garam dan gula berlebih pada anak yang picu risiko jantung dan obesitas. Simak tips pencegahannya demi masa depan anak.
NEW DELHI, ASATUNEWS.MY.ID – Pola makan anak-anak saat ini menjadi penentu kesehatan jantung mereka di masa depan. Dr. Vikas Kohli, Dokter Spesialis Jantung Anak Senior sekaligus pendiri Child Heart Foundation (CHF), memperingatkan bahwa konsumsi garam dan gula berlebih pada usia dini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara drastis saat mereka dewasa.
Berdasarkan data nasional, masyarakat India saat ini mengonsumsi sekitar 9 hingga 11 gram garam per hari. Angka ini hampir dua kali lipat dari batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 5 gram. Hal ini diperparah dengan temuan Studi Lancet 2022 yang menyebutkan sekitar 12,5 juta anak di India masuk kategori kelebihan berat badan atau obesitas.
Menurut Dr. Kohli, penyakit jantung jarang dimulai pada usia paruh baya, melainkan sering kali bermula secara diam-diam di meja makan bertahun-tahun sebelumnya.
“Kelebihan natrium mendorong kenaikan tekanan darah, dan hipertensi bukan lagi masalah orang dewasa saja,” ujar Dr. Kohli. Data survei menunjukkan proporsi remaja yang mulai menunjukkan tekanan darah tinggi terus meningkat. Anak yang terbiasa dengan camilan asin dan makanan kemasan cenderung membawa preferensi tersebut hingga dewasa, yang menjadi prediktor utama penyakit jantung dan stroke.
Selain garam, asupan gula tinggi pada masa kanak-kanak menjadi pemicu utama obesitas dan diabetes tipe 2. Dengan lebih dari 100 juta orang hidup dengan diabetes di India, pola makan perkotaan yang didominasi produk kemasan manis mulai mengubah metabolisme anak-anak sejak dini.
“Penyakit kardiovaskular telah menyumbang hampir satu dari empat kematian di India. Lonjakan obesitas anak, jika tidak dihentikan, akan menambah beban tersebut dalam beberapa dekade mendatang. Ini bukan sekadar peringatan, ini adalah hitungan matematis,” tegasnya.
Dr. Kohli menekankan bahwa upaya pencegahan tidak harus sempurna, namun harus konsisten. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
-
Memperkecil porsi makanan olahan.
-
Mengurangi minuman manis.
-
Memperbanyak konsumsi masakan rumah.
“Upaya ini harus dimulai sedini mungkin, karena konsekuensi dari penundaan tidak diukur dalam hitungan tahun, melainkan seumur hidup,” pungkasnya. ****
