JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID– Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS tercatat melemah 11 poin atau 0,07 persen ke level Rp16.728 pada penutupan perdagangan Kamis (13/11/2025). Pelemahan ini terutama dipicu oleh disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) yang mengakhiri shutdown pemerintah Amerika Serikat, sebuah peristiwa yang mengembalikan ketidakpastian dan permintaan terhadap mata uang AS.

Pengamat memproyeksikan tekanan pada Rupiah akan berlanjut ke kisaran Rp16.730 – Rp16.770 per dolar AS pada perdagangan Jumat (14/11/2025), didorong oleh sentimen eksternal dan kekhawatiran internal terhadap outlook defisit APBN.

“Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Rabu malam mengesahkan RUU yang bertujuan membuka pendanaan dan mengakhiri penutupan pemerintah terlama yang pernah ada,” kata pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip dalam keterangannya, Kamis (13/11/2025). Ia menambahkan bahwa berakhirnya shutdown ini akan memungkinkan dirilisnya kembali data ekonomi resmi AS, memberikan pasar kejelasan baru tentang konsumen bahan bakar terbesar di dunia. Selain itu, sentimen juga datang dari dinamika geopolitik di Eropa dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang masih dibagi.

Fluktuasi Nilai Tukar dan Tekanan Global

Pelemahan Rupiah hingga ke level Rp16.728 ini terjadi dalam konteks tekanan jangka panjang terhadap mata uang Indonesia. Beberapa lembaga telah memperingatkan potensi pelemahan Rupiah lebih dalam. Sebelumnya, pada 21 Oktober 2025, Rupiah tercatat pada level Rp16.585 per dolar AS, namun satu pihak memproyeksikan mata uang ini berisiko melemah hingga ke level 17.000 pada tahun ini, yang akan melampaui rekor terendah sepanjang masa yang dicapai pada April lalu. Data lain menunjukkan nilai tukar Rupiah bahkan sempat berada di posisi Rp16.727 per dolar AS, menguatifikasi tren volatil yang dialami.

Tekanan terhadap Rupiah turut dipicu oleh aliran modal asing yang keluar dari pasar Indonesia. Bank Indonesia mencatat, sejak September 2025 hingga 20 Oktober 2025, investasi portofolio tercatat net outflows sebesar US$5,26 miliar. Lonjakan arus keluar modal ini memaksa bank sentral melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Respons Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Di tengah pelemahan ini, Bank Indonesia (BI) secara konsisten menjaga stabilitas Rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur terakhir pada 21-22 Oktober 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Namun, sentimen internal juga turut membayangi pergerakan Rupiah. Ibrahim Assuaibi menyoroti outlook defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditargetkan sebesar 2,68 persen dari PDB. Angka ini dinilai berada di atas batas aman yang berkisar antara 2,45 persen hingga 2,53 persen dari PDB pada 2026, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan. Berdasarkan berbagai sentimen eksternal dan internal ini, pengamat memprediksi Rupiah pada perdagangan Jumat (14/11/2025) akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.730–Rp16.770 per dolar AS. (A-1)

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *