Psikiater dr. Lahargo Kembaren jelaskan manfaat puasa sebagai detoksifikasi psikologis. Puasa terbukti stabilkan emosi, kurangi stres, dan tingkatkan fokus otak.
JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID – Selama ini puasa identik dengan ibadah menahan lapar dan dahaga secara fisik. Namun, dari kacamata ilmu kesehatan jiwa, puasa memiliki dampak mendalam bagi kondisi mental seseorang. Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa puasa merupakan proses “detoksifikasi psikologis” atau penataan ulang kondisi batin.
“Detoksifikasi psikologis bukan berarti mengeluarkan racun secara fisik, tetapi menggambarkan proses penataan ulang pola pikir, emosi, dan kebiasaan mental yang selama ini mungkin terlalu penuh distraksi dan tekanan,” ujar dr. Lahargo dalam keterangannya, Jumat (20/2/2026).
Secara ilmiah, puasa melatih kemampuan regulasi emosi, yaitu kemampuan mengelola perasaan tanpa kehilangan kendali. Saat berpuasa, seseorang belajar untuk tidak langsung menuruti dorongan lapar atau emosi sesaat. Kondisi ini melatih bagian otak bernama prefrontal cortex.
Bagian otak tersebut berfungsi sebagai “rem” emosi yang membantu mengurangi reaksi terburu-buru, meningkatkan kesabaran, serta memberi waktu bagi seseorang untuk berpikir sebelum bertindak. “Puasa melatih hati untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi,” tambah dr. Lahargo.
Dari sisi biologis, puasa juga berhubungan dengan peningkatan zat di otak yang disebut brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Zat ini berperan dalam neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk membentuk jalur saraf baru dan beradaptasi dengan pengalaman.
Kondisi ini memberikan peluang emas bagi seseorang untuk memperbaiki kebiasaan lama yang buruk dan membangun pola pikir yang lebih sehat. Selain itu, praktik spiritual coping—menggunakan nilai keyakinan untuk menghadapi tekanan—selama puasa terbukti membuat seseorang lebih tenang dalam menerima situasi sulit.
Puasa juga merupakan latihan nyata dalam menunda kepuasan (delay of gratification). Kemampuan ini berkaitan erat dengan kesehatan mental jangka panjang karena membantu mengurangi perilaku impulsif dan meningkatkan disiplin diri. Banyak orang merasakan pikiran menjadi lebih jernih dan fokus saat berpuasa karena berkurangnya distraksi eksternal.
“Yang dilatih dalam puasa bukan sekadar perut, tetapi kemampuan berkata ‘cukup’,” tutur dr. Lahargo.
Sebagai penutup, dr. Lahargo menegaskan bahwa puasa adalah perjalanan psikologis yang memberikan jeda bagi jiwa untuk kembali seimbang di tengah kehidupan yang serba cepat. Ia berharap masyarakat dapat menjalani puasa secara sadar, menjadikannya sarana menjaga kesehatan jiwa, bukan sekadar ritual fisik semata. ****
