Oka Antara mengaku tertantang menggunakan bahasa Indonesia baku saat membintangi film Kapal Terbang berlatar 1981 tentang pembajakan Woyla. Ini penjelasannya.
JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Aktor Oka Antara membagikan pengalamannya saat membintangi film terbaru berjudul Kapal Terbang yang mengambil latar waktu tahun 1981.
Menurut Oka, tantangan terbesar dalam proyek tersebut adalah tuntutan penggunaan bahasa Indonesia baku yang ketat demi menyesuaikan dengan era cerita.
“Sebenarnya enggak ada kesulitan apa-apa karena skenarionya sudah bagus, palingan cuma penyesuaian-penyesuaian dialognya karena harus… dialognya tuh cara penyampaiannya harus baku,” ujar Oka saat ditemui di kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026).
Oka menjelaskan, naskah film mengharuskannya menanggalkan gaya bicara modern agar tetap akurat secara tata bahasa sesuai periode 1981. Ia tidak diperkenankan menyisipkan imbuhan percakapan yang lazim digunakan saat ini seperti “sih”, “dong”, atau “lah”.
“Tidak ada imbuhan-imbuhan yang seperti zaman sekarang. Karena semakin kita ke sini-sininya, kalau biasa main film kan pakai kata-kata imbuhan kayak ‘sih’, ‘dong’, ‘lah’. Itu yang nanti bakalan jadi enggak akurat sama tata bahasa zaman dulu,” jelasnya.
Kesulitan semakin terasa saat menjalani adegan emosional dan dialog intens. Oka mengaku harus menahan diri untuk tidak berimprovisasi agar dialog tetap sesuai naskah.
“Kesulitan sih sebetulnya lebih ke menyelaraskannya sama emosinya saja. Karena ketika lagi marah atau dialognya cepat dan timpal-timpalan, itu dialognya harus benar-benar sama, sesuai. Kalau kita improve, takutnya sesuai bahasa sehari-hari. Misalnya ‘cepet’ jadi ‘cepat’,” tuturnya.
Dalam film tersebut, Oka memerankan tokoh bernama Seno. Ia juga membiasakan diri menggunakan kata ganti “aku” dan “kau” dalam dialognya.
Ia menambahkan, produksi sengaja menghilangkan logat tertentu agar karakter tidak merepresentasikan suku spesifik.
“Dia ngomong ke seluruh orang yang ada di penumpang pesawat itu ngomongnya ‘aku’, ngomongnya ‘kau’. Samalah kayak Sumatera, cuma bedanya dia enggak ada logat. Kita memang sengaja menghilangkan logat jadi memang tidak ada yang meng-highlight satu suku atau gimana,” imbuhnya.
Film Kapal Terbang terinspirasi dari peristiwa nyata pembajakan pesawat Woyla pada Maret 1981. Di bawah arahan sutradara Ozan Ruz, film ini menonjolkan sisi drama dan ketegangan yang terjadi di dalam kabin pesawat.
Selain pendalaman dialog, Oka Antara juga menjalani workshop khusus persenjataan dan adegan aksi untuk mendukung perannya sebagai salah satu karakter sentral dalam film tersebut. ****
