Festival Kor’a Inasua di Maluku Tengah merayakan warisan kuliner fermentasi ikan khas masyarakat Teon Nila Serua (TNS) yang kini bertransformasi jadi menu modern.
Masyarakat Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), Waipia, Maluku Tengah, menggelar perayaan budaya bertajuk Festival Kor’a Inasua pada Sabtu (11/4/2026). Perhelatan ini menjadi ajang pesta prasmanan besar-besaran yang menyajikan Inasua, hidangan ikan fermentasi tradisional yang telah menjadi identitas turun-temurun warga setempat.
Dikutip dari ANTARA, ratusan warga dari berbagai usia memadati lapangan utama untuk menikmati aneka hidangan khas kebun seperti ubi, kasoami, telur balado, hingga sayuran. Namun, daya tarik utama tetap berada pada Inasua, kuliner warisan nenek moyang masyarakat TNS yang dikenal sebagai pelaut ulung.
Inasua merupakan metode pengawetan ikan tradisional menggunakan garam. Ikan dilumuri garam dan disimpan dalam wadah tertutup hingga menghasilkan tekstur lembut dan dapat bertahan hingga beberapa tahun. Dahulu, hidangan ini menjadi bekal utama bagi para pelaut TNS saat mengarungi lautan.
Meskipun masyarakat asli Pulau Teon, Nila, dan Serua telah direlokasi ke Pulau Seram sejak akhir tahun 1970-an, Inasua tetap melekat sebagai jati diri mereka. Dalam setiap hajatan, acara adat, maupun keagamaan, menu ini selalu hadir sebagai hidangan wajib.
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, yang membuka festival perdana ini, menegaskan pentingnya menjaga sejarah daerah. “Inasua bukan hanya makanan, melainkan identitas dan kearifan lokal masyarakat TNS,” ujar Zulkarnain. Beliau juga memastikan pemerintah kabupaten akan terus mendukung upaya pelestarian budaya semacam ini.
Festival ini juga dimeriahkan dengan lomba cipta kreasi Inasua yang diikuti oleh para ibu di Kecamatan TNS. Menariknya, kuliner yang biasanya hanya disajikan sederhana dengan perasan jeruk nipis dan kemangi, kini bertransformasi menjadi berbagai menu modern.
Beberapa inovasi kuliner yang ditampilkan antara lain perkedel, sate, bakso, ikan asam manis, pizza, hingga rendang yang semuanya berbahan dasar Inasua. Inovasi ini memancing decak kagum dari pengunjung dan pejabat setempat.
“Inasua rasanya lebih dari ekspektasi,” ungkap Zulkarnain usai mencicipi beragam kreasi hidangan tersebut.
Festival Kor’a Inasua ini terselenggara berkat dukungan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Selain untuk menjaga kelestarian pangan lokal, acara ini diharapkan mampu mempromosikan kebudayaan khas Maluku Tengah ke kancah yang lebih luas, sehingga tidak hanya dinikmati oleh kalangan terbatas pada waktu tertentu saja.
Analisis Redaksi Asatunews.my.id: Jati Diri Kuliner
Artikel ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat TNS terhadap jati diri kuliner mereka. Meski telah direlokasi sejak 1970-an, mereka berhasil mempertahankan tradisi pengawetan ikan (Inasua) di lokasi baru (Pulau Seram). Ini membuktikan bahwa kuliner adalah instrumen paling efektif dalam menjaga kohesi sosial dan sejarah kelompok masyarakat.
Transformasi Inasua menjadi menu seperti pizza, sate, dan rendang menunjukkan adanya upaya adaptasi terhadap selera zaman (modernisasi kuliner). Hal ini sangat strategis untuk menarik minat generasi muda dan wisatawan mancanegara yang mungkin belum terbiasa dengan rasa fermentasi asli yang kuat.
Kehadiran YKAN dan dukungan Pemerintah Kabupaten menunjukkan bahwa pelestarian pangan lokal memerlukan ekosistem yang kuat—mulai dari dukungan kebijakan, pendampingan konservasi, hingga promosi publik. Festival ini bukan sekadar pesta makan, melainkan strategi branding daerah berbasis kearifan lokal. ******
