Dokter spesialis anak ingatkan bahaya screen time berlebih pada anak di tengah pemberlakuan PP TUNAS. Simak durasi ideal dan dampaknya bagi tumbuh kembang.
Seiring dengan mulai berlakunya aturan pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, para ahli kesehatan kembali mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap durasi penggunaan perangkat elektronik atau screen time. Batasan ini dinilai krusial karena berdampak langsung pada kesehatan mental dan fisik anak.
Dikutip dari ANTARA, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Konsultan Pediatri-Anak RSUD Hermina, Nilla Mayasari, menjelaskan bahwa screen time mencakup durasi menonton televisi, penggunaan ponsel, hingga berbagai jenis gawai (gadget).
Langkah edukasi ini sejalan dengan pemberlakuan Peraturan Menteri Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) sejak 28 Maret 2026.
Dokter Nilla merujuk pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sangat ketat mengenai paparan layar pada anak. Berikut adalah panduannya:
Anak di bawah 1 tahun: Tidak direkomendasikan memegang gadget sama sekali.
Anak di bawah 2 tahun: Maksimal hanya satu jam per hari (disarankan dibagi, misalnya 30 menit pagi dan 30 menit sore).
Anak usia 7 tahun ke atas: Tetap disarankan maksimal satu jam penggunaan.
“Ada banyak penelitian yang mengatakan setiap 30 menit anak menonton screen time, baik itu gadget maupun televisi, itu meningkatkan risiko 2,7 kali gangguan komunikasi,” ungkap Dokter Nilla yang juga menjabat Ketua PERDOSRI Cabang Sulawesi-Papua.
Penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai masalah serius. Dokter Nilla menyoroti penurunan attention span atau rentang perhatian anak, yang membuat mereka sulit fokus akibat terpapar konten media sosial yang bergulir cepat.
Selain itu, ketergantungan pada layar membatasi aktivitas fisik anak. Padahal, fase tumbuh kembang memerlukan eksplorasi luar ruangan.
“Bermain keluar itu sebenarnya belajar sensori dan belajar interaksi dengan orang lain, tidak dengan dunianya sendiri. Di situlah proses belajar dan input sensori yang menjadi kebutuhan intelektual nanti,” tambahnya.
Sebagai Pembina Komunitas Orang Tua Anak dengan Sindroma Down (KOADS), Dokter Nilla menekankan agar orang tua tidak mengabaikan capaian perkembangan (milestone) anak. Ia menyarankan penggunaan “buku pink” untuk memantau apakah perkembangan bicara, komunikasi, dan kognisi anak sudah sesuai usianya.
Solusi terbaik menurutnya bukanlah mendelegasikan pengawasan sepenuhnya kepada sekolah atau pengasuh, melainkan memperkuat family time. Identifikasi dini dan interaksi aktif keluarga menjadi kunci utama agar anak tumbuh optimal tanpa terjebak dalam dunia digital yang berlebihan.
Analisis Redaksi Asatunews.my.id: Anjuran Medis
Berita ini sangat tepat waktu karena mengaitkan anjuran medis dengan kebijakan pemerintah terbaru (PP TUNAS). Ini menunjukkan adanya sinergi antara regulasi hukum dengan upaya perlindungan kesehatan masyarakat.
Dokter Nilla secara jujur menyentil fenomena “gadget sebagai penenang” saat anak tantrum atau susah makan. Analisis medis ini penting untuk memberikan kesadaran bahwa solusi instan tersebut memiliki risiko jangka panjang berupa gangguan komunikasi hingga 2,7 kali lipat.
Poin utama yang diangkat adalah bahwa gadget bersifat pasif, sementara pertumbuhan otak anak membutuhkan stimulasi sensori aktif (bermain di luar). Hal ini menggarisbawahi bahwa masalah gadget bukan hanya soal radiasi atau mata, melainkan soal hilangnya kesempatan anak untuk belajar menjadi makhluk sosial.
Penggunaan referensi dari WHO dan IDAI memberikan kredibilitas kuat pada berita ini, menjauhkannya dari sekadar opini dan menjadikannya rujukan kesehatan yang valid bagi pembaca. *****
