Ilustrasi asap rokok yang masuk ke paru-paru dan memengaruhi fungsi kognitif otak manusia, memicu risiko penyakit Alzheimer.
Ilustrasi asap rokok yang masuk ke paru-paru dan memengaruhi fungsi kognitif otak manusia, memicu risiko penyakit Alzheimer.

Penelitian terbaru mengungkap merokok tingkatkan risiko demensia hingga 2 kali lipat melalui jalur lung-brain axis. Simak penjelasan ahli University of Chicago.

Kebiasaan merokok selama ini identik dengan kerusakan paru-paru. Namun, penelitian terbaru mengungkap fakta yang lebih mengkhawatirkan: merokok dapat meningkatkan risiko demensia secara signifikan melalui mekanisme biologis yang baru ditemukan.

Penelitian ini memperkuat bukti adanya hubungan langsung antara kebiasaan merokok dengan penurunan fungsi kognitif yang drastis di kemudian hari.

Dikutip dari laporan Daily Mail, Jumat (10/4/2026), peneliti dari University of Chicago menemukan jalur komunikasi langsung antara paru-paru dan otak yang disebut sebagai “lung-brain axis”. Jalur inilah yang menjadi perantara bagaimana asap rokok merusak sel saraf di otak.

Penelitian menunjukkan bahwa nikotin dalam rokok memicu sel-sel khusus di paru-paru untuk melepaskan partikel kecil yang disebut eksosom. Partikel ini kemudian bergerak dan memengaruhi cara otak mengatur kadar zat besi.

Zat besi merupakan komponen vital untuk menjaga kesehatan sel saraf. Namun, jika keseimbangannya terganggu, hal ini dapat merusak sel saraf dan memicu stres pada sistem energi otak. Kondisi inilah yang menjadi cikal bakal berkembangnya penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

“Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan jelas antara paru-paru dan otak yang dapat menjelaskan mengapa merokok berkaitan dengan penurunan kognitif,” ujar peneliti Kui Zhang.

Dampak merokok terhadap otak bersifat jangka panjang. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa perokok berat di usia paruh baya memiliki risiko demensia yang meningkat lebih dari dua kali lipat di masa tua.

Asisten Profesor Joyce Chen menekankan bahwa paru-paru memiliki peran yang jauh lebih aktif dari sekadar organ pernapasan. “Paru-paru bukan hanya target paparan asap, tetapi juga organ yang aktif memengaruhi kesehatan otak,” tegasnya.

Saat ini, tim peneliti tengah mengembangkan eksplorasi kemungkinan terapi untuk mencegah kerusakan otak akibat paparan asap rokok. Meski demikian, para ahli tetap menegaskan bahwa cara paling efektif untuk menjaga kesehatan kognitif adalah dengan berhenti merokok sejak dini.

Analisis Strategis Asatunews.my.id:  Dampak  Buruk

Temuan mengenai “lung-brain axis” ini mengubah peta pemahaman medis mengenai dampak buruk rokok terhadap tubuh manusia:

Penemuan bahwa paru-paru dapat “berkomunikasi” dengan otak melalui eksosom membuktikan bahwa kerusakan pada satu organ dapat menjadi pemicu keruntuhan sistemik pada organ vital lainnya. Paru-paru kini harus dipandang sebagai regulator kesehatan otak, bukan sekadar kantong udara.

Dengan meningkatnya risiko demensia hingga dua kali lipat, beban kesehatan publik di masa depan akan semakin berat, terutama pada populasi lansia. Ini adalah peringatan bagi perokok aktif bahwa konsekuensi merokok tidak hanya berhenti pada batuk atau sesak napas, tetapi juga pada hilangnya ingatan dan kemandirian di hari tua.

Sebelumnya, hubungan merokok dan demensia sering dianggap sebagai korelasi statistik semata. Dengan adanya mekanisme biologis yang jelas (gangguan zat besi akibat eksosom), masyarakat tidak bisa lagi mengabaikan fakta ilmiah ini sebagai sekadar “kemungkinan” atau mitos.

Data ini menjadi peluru baru bagi kampanye kesehatan di Indonesia. Edukasi harus mulai bergeser dari sekadar “merokok menyebabkan kanker” menjadi “merokok merusak otak”, sebuah narasi yang mungkin lebih berdampak bagi mereka yang sangat peduli pada fungsi kognitif dan kualitas hidup jangka panjang.

Temuan ini memberikan alasan yang jauh lebih mendesak bagi para perokok untuk segera berhenti, mengingat otak tidak memiliki kemampuan regenerasi sel saraf sesederhana organ tubuh lainnya. *****

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *