Ilustrasi seseorang yang merasa cemas dan kewalahan saat melihat tumpukan notifikasi pesan di layar ponselnya.
Ilustrasi seseorang yang merasa cemas dan kewalahan saat melihat tumpukan notifikasi pesan di layar ponselnya.

Sering kesal karena chat lama dibalas? Studi terbaru mengungkap faktor psikologis seperti information anxiety di balik kebiasaan menunda membalas pesan.

 Orang yang lama membalas pesan sering kali dicap sebagai pribadi yang cuek atau tidak peduli. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak selalu benar. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterlambatan merespons pesan teks lebih sering dipengaruhi oleh faktor psikologis dan cara otak memproses informasi daripada perasaan terhadap si pengirim.

Fenomena ini berkaitan erat dengan beban mental yang muncul akibat tuntutan komunikasi digital yang serba cepat di era sekarang.

Dikutip dari laporan Your Tango, Jumat (10/4/2026), terdapat dua kondisi psikologis utama yang membuat seseorang sulit merespons pesan dengan segera: information anxiety dan psychological resistance.

Information anxiety terjadi ketika otak merasa kewalahan menerima terlalu banyak arus informasi secara bersamaan. Kondisi ini memecah fokus penderitanya, sehingga aktivitas sederhana seperti membalas pesan terasa seperti tugas berat yang harus ditunda.

Sementara itu, psychological resistance adalah kondisi di mana otak cenderung “melawan” aktivitas yang dianggap sebagai beban. “Membalas pesan yang terlihat sederhana bisa terasa melelahkan secara mental,” ungkap laporan tersebut. Akibatnya, alih-alih merespons, seseorang justru memilih untuk menghindari ponsel mereka sepenuhnya.

Psikiater dari Stanford University, Elias Aboujaoude, menjelaskan bahwa ekspektasi publik untuk membalas pesan secara real-time adalah sumber stres baru. Dorongan untuk segera membaca dan merespons menciptakan tekanan mental yang signifikan.

Fenomena ini sangat terlihat pada generasi muda. Riset tahun 2026 menunjukkan hampir setengah dari Gen Z yang berstatus lajang mengaku mengalami kecemasan saat hendak membalas pesan. Bahkan, rata-rata orang membutuhkan waktu sekitar 40 menit hanya untuk memikirkan balasan bagi satu pesan penting, dan 73 persen di antaranya pernah membatalkan pesan yang sudah diketik tanpa pernah mengirimnya.

Psikolog Loren Soeiro menyarankan masyarakat agar tidak langsung mengambil kesimpulan negatif saat pesan mereka tidak kunjung dibalas. Ia menekankan bahwa alasan keterlambatan tersebut biasanya bersifat personal bagi si penerima dan tidak ada hubungannya dengan kualitas hubungan atau perasaan terhadap pengirim.

Sebagai solusi, Soeiro menyarankan bagi mereka yang sering kewalahan membalas chat untuk mengirimkan balasan singkat sebagai tanda bahwa pesan telah diterima, atau menyampaikan preferensi komunikasi lain seperti telepon atau bertemu langsung.

Analisis Strategis Asatunews.my.id: Etika Berkomunikasi

Laporan mengenai sisi psikologis komunikasi digital ini memberikan perspektif baru bagi pembaca Asatunews dalam memandang etika berkomunikasi di tahun 2026:

Artikel ini memberikan validasi bagi banyak orang yang merasa bersalah karena tidak bisa responsif 24/7. Pengakuan terhadap information anxiety menunjukkan bahwa kapasitas kognitif manusia memiliki batasan di tengah banjir notifikasi aplikasi pesan singkat yang makin masif.

Jika dulu membalas pesan dengan cepat dianggap sebagai standar kesopanan, kini muncul pemahaman baru mengenai “batasan mental”. Analisis ini membantu meredakan ketegangan dalam hubungan interpersonal dengan memberikan penjelasan ilmiah bahwa “lama membalas” bukan berarti “tidak menghargai”.

Data mengenai 40 menit waktu berpikir untuk satu balasan pesan menunjukkan tingkat kecemasan sosial yang tinggi di ruang digital. Hal ini menjadi catatan penting bagi dunia kerja dan profesional untuk mulai menyesuaikan pola komunikasi yang tidak terlalu menuntut respon instan demi menjaga kesehatan mental karyawan.

Rekomendasi untuk menyampaikan preferensi komunikasi (seperti lebih suka telepon) adalah langkah proaktif. Di era digital, keterbukaan mengenai batasan diri (personal boundaries) menjadi kunci untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan realistis tanpa harus merasa tertekan oleh perangkat teknologi.

Keterlambatan membalas pesan adalah mekanisme pertahanan otak dapat membantu kita menjadi lebih empati dan mengurangi konflik yang tidak perlu dalam kehidupan sosial sehari-hari. ****

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *