Benarkah radiasi HP picu kanker dan penyakit jantung? Simak fakta medis terbaru berdasarkan studi WHO yang mengungkap jenis radiasi ponsel dan risikonya.
Kekhawatiran masyarakat mengenai radiasi ponsel yang dikaitkan dengan risiko kanker dan gangguan jantung akhirnya terjawab. Penelitian medis terbaru menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim bahaya tersebut.
Para ahli menekankan bahwa meski ponsel memancarkan radiasi, kadarnya tergolong sangat rendah dan masuk dalam kategori yang tidak merusak sel tubuh secara langsung.
Dikutip dari laporan Men’s Health, Jumat (10/4/2026), ponsel mengeluarkan jenis radiasi frekuensi radio (radiofrequency radiation). Jenis ini serupa dengan radiasi berenergi rendah yang ditemukan pada perangkat rumah tangga sehari-hari seperti televisi, Wi-Fi, hingga microwave.
Perbedaan mendasar yang perlu dipahami publik adalah antara radiasi ionisasi (seperti sinar-X) yang dapat merusak DNA, dengan radiasi non-ionisasi dari ponsel. Sebuah studi besar yang didanai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024, yang melibatkan hampir 5.000 peserta, menunjukkan hasil yang melegakan.
Studi tersebut menyimpulkan tidak ada hubungan antara penggunaan ponsel dan peningkatan risiko kanker otak, bahkan pada individu yang telah menggunakan ponsel selama lebih dari 10 tahun.
“Itu adalah studi paling lengkap yang pernah dilakukan, dan hasilnya memberikan kabar baik bahwa ponsel tidak otomatis menyebabkan tumor otak,” ujar Dr. Herbert Newton, seorang ahli neuro-onkologi.
Senada dengan isu kanker, keterkaitan radiasi ponsel dengan penyakit jantung juga dinilai tidak terbukti. Dr. Karishama Patwa, seorang ahli jantung, menegaskan bahwa data saat ini tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat antara radiasi ponsel dan gangguan kardiovaskular.
“Bukti yang ada saat ini tidak mendukung adanya hubungan langsung antara radiasi ponsel dan penyakit jantung,” jelas Patwa.
Meskipun radiasinya dinyatakan aman, para ahli memperingatkan bahwa penggunaan ponsel yang berlebihan tetap mengancam kesehatan. Namun, ancaman tersebut bukan berasal dari radiasi, melainkan dari pola perilaku pengguna.
Paparan layar yang terlalu lama dapat memicu:
Kelelahan mata dan gangguan penglihatan.
Nyeri leher dan gangguan postur tubuh (text neck).
Peningkatan risiko stres, kecemasan, hingga depresi.
Untuk mengurangi kekhawatiran terhadap paparan radiasi frekuensi radio, Dr. Newton menyarankan langkah sederhana seperti menggunakan speaker saat menelepon atau menjaga jarak ponsel dari tubuh saat tidak digunakan.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Hoaks Kesehatan
Laporan mengenai fakta radiasi ponsel ini memberikan pencerahan penting di tengah membanjirnya hoaks kesehatan di era digital:
Selama bertahun-tahun, radiasi HP telah menjadi momok menakutkan yang sering dipolitisasi untuk menjual produk “anti-radiasi” yang tidak efektif. Publikasi hasil studi WHO 2024 ini menjadi fondasi kuat bagi media untuk meluruskan persepsi publik bahwa teknologi seluler saat ini telah melewati standar keamanan yang ketat.
Analisis ini mengarahkan perhatian masyarakat dari ketakutan yang tidak berdasar (radiasi) menuju ancaman kesehatan yang nyata (perilaku penggunaan). Masalah ergonomi, kesehatan mental, dan kesehatan mata akibat screen time berlebih jauh lebih mendesak untuk ditangani daripada kekhawatiran terhadap kanker akibat sinyal ponsel.
Penting bagi portal berita seperti Asatunews untuk terus mengedukasi perbedaan antara radiasi non-ionisasi (ponsel) dan ionisasi (nuklir/sinar-X). Pemahaman sederhana ini akan membantu masyarakat agar tidak mudah termakan narasi ketakutan yang sering kali tidak memiliki basis sains yang kuat.
Rekomendasi penggunaan speaker atau pengiriman pesan bukan sekadar untuk menghindari radiasi, tetapi juga untuk memperbaiki postur tubuh saat berkomunikasi. Hal ini sejalan dengan tren wellness yang menekankan pada keseimbangan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Ponsel adalah alat komunikasi yang aman secara radiologis, namun cara kita berinteraksi dengannya tetap memerlukan batasan demi menjaga kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh. ****
