Musim panen Anji Bai Cha dimulai di Zhejiang, China. Simak keunikan teh “putih” yang diproses sebagai teh hijau dengan nilai industri mencapai 7 miliar yuan.
Kabupaten Anji yang terletak di Provinsi Zhejiang, China bagian timur, kini resmi memasuki masa tersibuknya seiring dimulainya musim panen raya teh premium Anji Bai Cha (Teh Putih Anji). Teh yang dikenal sebagai salah satu komoditas paling eksklusif di dunia ini kembali mencatatkan performa ekonomi yang luar biasa.
Dikutip dari laporan Xinhua, Rabu (8/4/2026), para pekerja mulai memadati perkebunan teh di Kabupaten Anji sejak awal April untuk memetik pucuk daun teh yang unik sebelum warnanya berubah menjadi hijau sepenuhnya.
Meski menyandang nama “Teh Putih”, secara teknis Anji Bai Cha diproses sebagai teh hijau. Hal ini dikarenakan daunnya melewati tahap fiksasi suhu tinggi dan pengeringan, bukan proses oksidasi minimal layaknya teh putih tradisional.
Nama tersebut berasal dari kultivar pohon teh langka hasil mutasi albino. Saat dipanen pada awal musim semi (sekitar bulan April), pucuk daunnya berwarna kuning pucat keputihan. Namun, daun tersebut akan kembali berwarna hijau saat suhu udara mulai menghangat di akhir musim.
Keunikan dan kelangkaan teh ini menjadikannya komoditas bernilai tinggi. Pada tahun 2025 saja, produksi teh putih di Kabupaten Anji mencapai 2.630 ton. Nilai output tahunan dari rantai industri teh ini secara keseluruhan berhasil melampaui angka 7 miliar yuan atau sekitar 1,02 miliar dolar AS (setara dengan Rp15,5 triliun).
Selain dari sektor penjualan produk, industri teh di wilayah ini juga mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Tercatat lebih dari 5 juta kunjungan wisatawan terkait teh ( tea-related tourism) dilakukan ke Kabupaten Anji sepanjang tahun lalu.
Dari sisi kesehatan, Anji Bai Cha sangat digemari karena kandungan asam aminonya yang sangat tinggi, yakni 3 hingga 4 kali lipat lebih banyak dibandingkan teh hijau biasa. Tingginya asam amino (mencapai 5-10,6%) membuat teh ini memiliki rasa manis alami, kaya akan umami, dan minim rasa pahit yang biasanya berasal dari polifenol.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Pelajaran Berharga
Kesuksesan Anji Bai Cha di Provinsi Zhejiang memberikan pelajaran berharga bagi pengembangan komoditas perkebunan di tingkat global:
Pemerintah dan petani di Anji berhasil memanfaatkan fenomena biologis (mutasi albino) menjadi narasi pemasaran yang kuat. Jendela panen yang sangat singkat di bulan April menciptakan efek psikologis scarcity (kelangkaan) yang secara otomatis mendongkrak harga jual di pasar internasional.
Angka 5 juta kunjungan wisata menunjukkan bahwa Anji tidak hanya menjual “komoditas”, tetapi juga menjual “pengalaman”. Model agrowisata ini terbukti mampu melipatgandakan nilai ekonomi dari satu hamparan lahan yang sama, sebuah strategi yang sangat relevan untuk diadopsi oleh perkebunan teh atau kopi di Indonesia.
Dengan nilai rantai industri mencapai 7 miliar yuan, Anji membuktikan bahwa keuntungan terbesar tidak hanya terletak pada penjualan daun mentah, tetapi pada ekosistem pendukungnya—mulai dari teknologi pengemasan, riset genetika tanaman, hingga pemasaran berbasis konten digital.
Di era kesadaran kesehatan global ( wellness trend), penekanan pada “rendah rasa pahit” dan “tinggi asam amino” adalah strategi komunikasi yang cerdas untuk menarik konsumen muda yang mungkin tidak menyukai rasa teh tradisional yang pekat, namun mencari manfaat kesehatan yang maksimal.
Anji Bai Cha adalah contoh sempurna bagaimana inovasi pertanian yang berpadu dengan pelestarian alam dan strategi pariwisata dapat menciptakan mesin ekonomi yang tangguh di tingkat pedesaan. ****
