Bambang Soesatyo bersama tokoh pers dan pejabat negara dalam acara Deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+) di Jakarta.
Bambang Soesatyo bersama tokoh pers dan pejabat negara dalam acara Deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+) di Jakarta.

Bamsoet apresiasi deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+). Simak pesannya terkait bahaya hoaks, politik identitas, dan fragmentasi sosial 2026.

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo (Bamsoet), memberikan apresiasi tinggi atas terbentuknya Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+). Deklarasi ini dinilai sebagai momentum krusial (sangat penting dan mendasar) di tengah meningkatnya ancaman fragmentasi sosial dan derasnya arus disinformasi di ruang digital Indonesia.

Dikutip dari rilis resminya pada Jumat malam (17/4/2026), Bamsoet yang juga merupakan wartawan senior dan anggota PWI, menekankan bahwa pengalaman para jurnalis senior sangat dibutuhkan untuk menjaga akal sehat publik.

“Kita sedang menghadapi situasi di mana ruang publik dipenuhi informasi yang tidak semuanya benar. Polarisasi sosial semakin tajam, bahkan berdampak ke hubungan antar-warga. Dalam kondisi seperti ini, peran wartawan senior sangat penting untuk menjaga arah dan akal sehat publik,” ujar Bamsoet usai menghadiri deklarasi tersebut di Jakarta.

Fenomena polarisasi di tanah air kian mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025, tercatat gelombang demonstrasi skala besar dan ketegangan sosial di berbagai daerah. Di ruang digital, satu isu publik kini mampu memicu jutaan interaksi yang didominasi sentimen negatif dalam waktu singkat.

Bamsoet, yang merupakan Ketua DPR RI ke-20, menyoroti maraknya hoaks dan manipulasi narasi oleh buzzer yang memperkeruh situasi nasional.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa perang informasi sedang terjadi. Hoaks, propaganda, dan manipulasi narasi menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa. Di sinilah wartawan senior harus mengambil peran sebagai penjernih sekaligus penyeimbang,” tegas Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Selain disinformasi, politik identitas yang mengeksploitasi isu agama dan etnis tetap menjadi tantangan terbesar. Bamsoet mengingatkan agar media tidak terjebak dalam framing yang memperuncing perbedaan, melainkan harus berdiri di garis depan melawan provokasi.

Acara deklarasi SW60+ ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, antara lain Menteri Komdigi Meutya Hafid, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Ketua PWI Pusat Akhmad Munir, Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari, hingga tokoh seperti Anies Baswedan, Susi Pudjiastuti, dan para pemimpin redaksi senior lainnya.

Analisis: Relevansi SW60+ di Tengah Krisis Kepercayaan Media

Hadirnya Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+) bukan sekadar ajang reuni para praktisi pers, melainkan sebuah benteng pertahanan kognitif bagi masyarakat. Terdapat tiga poin utama mengapa inisiatif ini strategis:

Restorasi Etika Jurnalisme: Di tengah kecepatan media online yang sering mengabaikan verifikasi demi clickbait, wartawan senior membawa kembali nilai jurnalisme presisi dan keberimbangan (cover both sides).

Meredam Dampak Algoritma: Media sosial cenderung menciptakan echo chamber (ruang gema) yang memperkuat polarisasi. Tokoh-tokoh pers senior dalam SW60+ diharapkan mampu mengintervensi narasi publik dengan perspektif yang lebih dingin dan jernih.

Diplomasi Informasi: Dengan jaringan luas yang dimiliki anggotanya, SW60+ dapat menjadi mediator antara kepentingan negara dan hak informasi publik, memastikan stabilitas nasional tidak goyah akibat provokasi digital atau politik identitas menjelang dinamika politik di masa depan. ******

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *