Perencana keuangan ingatkan kebiasaan ngopi Gen Z bisa jadi ‘silent budget killer’. Simak simulasi biaya kopi Rp40 ribu/hari yang setara DP rumah.
JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID – Kebiasaan minum kopi kini telah bergeser dari sekadar kebutuhan fungsional menjadi simbol status sosial dan gaya hidup, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z). Namun, di balik kenikmatan secangkir kopi susu kekinian, tersimpan risiko finansial yang dapat menghambat impian masa depan, termasuk memiliki hunian pribadi.
Fenomena ini terlihat pada Dhanty (26), seorang Gen Z di Jakarta Selatan yang mengalokasikan dana sekitar Rp40.000 per hari untuk satu hingga dua gelas kopi. Dalam sebulan, ia merogoh kocek hingga Rp1,2 juta. Meski dianggap wajar karena sudah menjadi kebutuhan untuk fokus bekerja, pakar keuangan memperingatkan adanya bahaya tersembunyi.
Perencana Keuangan dari Finante.id, Rista Zwestika CFP, menjelaskan bahwa pengeluaran harian yang terlihat kecil sering kali menjadi silent budget killer (pembunuh anggaran secara diam-diam).
“Pengeluaran besar bikin kita mikir. Pengeluaran kecil bikin kita santai. Justru yang kecil, rutin, dan emosional itu paling bahaya,” ujar Rista saat dihubungi, Kamis (19/2/2026).
Menurut Rista, jika seseorang rutin mengeluarkan Rp40.000 per hari untuk kopi di coffee shop, maka dalam setahun total pengeluarannya mencapai Rp14,4 juta. Jika dana tersebut diinvestasikan dengan imbal hasil (return) 8 persen per tahun selama 10 tahun, nilainya bisa menembus angka kurang lebih Rp200 juta.
“Artinya, yang terlihat receh harian, sebenarnya setara DP rumah kecil dalam jangka panjang,” tegasnya.
Rista membedakan antara kebutuhan fungsional dan beban gaya hidup (lifestyle expense). Menyeduh kopi sachet di rumah atau membeli kopi di warung kopi (warkop) seharga Rp3.000–Rp5.000 untuk menghilangkan kantuk dikategorikan sebagai kebutuhan. Namun, memaksakan diri membeli kopi mahal setiap hari demi validasi sosial atau FOMO (Fear of Missing Out) adalah masalah prioritas.
Berdasarkan catatan kliennya, Rista menemukan bahwa pengeluaran untuk kopi, camilan, ongkos kirim, hingga langganan aplikasi sering kali memakan 15 hingga 25 persen dari total pendapatan tanpa disadari. Akibatnya, target dana darurat sering molor dan investasi menjadi stagnan.
Agar keuangan tetap sehat, Rista membagikan rumus ideal pembagian gaji:
-
Gaya Hidup (Total): Maksimal 10–20 persen dari gaji.
-
Khusus Kopi: Disarankan hanya 3–5 persen dari pendapatan bulanan.
Sebagai contoh, jika seseorang bergaji Rp5 juta, maka anggaran kopi maksimal berada di angka Rp150.000 hingga Rp250.000 per bulan. Rista menekankan pentingnya disiplin untuk tidak mengambil jatah tabungan jika anggaran gaya hidup sudah habis sebelum akhir bulan.
“Disiplin bukan berarti pelit. Disiplin berarti sadar batas. Jangan menukar masa depan dengan validasi hari ini,” pungkasnya. (A-1)
