Kapal perang Amerika Serikat meluncurkan rudal Tomahawk dalam operasi militer di Iran Maret 2026. (KOMPAS)
Kapal perang Amerika Serikat meluncurkan rudal Tomahawk dalam operasi militer di Iran Maret 2026. (KOMPAS)

Pentagon cemas! AS telah tembakkan 850 rudal Tomahawk ke Iran dalam 4 pekan. Simak analisis mengenai stok senjata AS yang kini berada di titik kritis “Winchester”.

WASHINGTON, ASATUNEWS.MY.ID – Memasuki pekan keempat konfrontasi militer di wilayah Persia, militer Amerika Serikat dilaporkan telah meluncurkan sekitar 850 rudal Tomahawk ke berbagai titik di Iran. Penggunaan senjata presisi jarak jauh secara masif ini mulai memicu alarm kecemasan di internal Pentagon terkait menipisnya cadangan persenjataan strategis negara tersebut.

Dikutip dari laporan The Independent via Kompas.com, sejumlah pejabat pertahanan AS mengungkapkan bahwa stok rudal Tomahawk saat ini berada pada level yang “mengkhawatirkan”. Beberapa sumber militer bahkan menggunakan istilah “Winchester”, sebuah kode internal yang mengindikasikan bahwa militer hampir kehabisan amunisi untuk melanjutkan operasi pada intensitas yang sama.

Perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 ini telah menelan biaya operasi yang sangat besar. Mengingat satu unit rudal Tomahawk diperkirakan bernilai lebih dari 2 juta dolar AS, penggunaan 850 rudal berarti AS telah menggelontorkan triliunan rupiah hanya untuk satu jenis alutsista dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

Data dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebutkan bahwa 850 rudal tersebut setara dengan seperempat dari total stok global yang dimiliki Angkatan Laut AS sebelum konflik dimulai. Penggunaan yang sangat intensif ini dikhawatirkan akan meninggalkan celah pertahanan bagi AS di kawasan lain, khususnya di Pasifik Barat.

Meski internal Pentagon menunjukkan keresahan, juru bicara resmi pemerintah memberikan pernyataan sebaliknya. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer AS tetap memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan misi apa pun sesuai perintah Presiden.

“Militer AS memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjalankan misi pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden,” tegas Parnell.

Senada dengan itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memastikan bahwa pasokan senjata untuk mendukung “Operasi Epic Fury” yang dicanangkan Presiden Donald Trump masih lebih dari cukup. Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Presiden Trump dilaporkan telah bertemu dengan pihak Raytheon selaku produsen rudal untuk melipatgandakan produksi persenjataan canggih hingga empat kali lipat secepat mungkin.

Analisis Intelijen Asatunews: Taiwan Bisa Terancam

Kondisi “Winchester” yang mulai membayangi Pentagon menunjukkan bahwa strategi perang jarak jauh yang diandalkan AS menghadapi tantangan logistik yang nyata. Penggunaan 25% stok nasional dalam 3 minggu adalah burn rate (laju konsumsi) yang sangat tinggi. Jika produksi tidak segera dipercepat, AS berisiko mengalami kerentanan strategis di Taiwan atau Semenanjung Korea. Langkah Trump menggandeng kontraktor pertahanan menunjukkan bahwa AS sedang beralih ke mode Ekonomi Perang, di mana industri manufaktur domestik dipaksa bekerja ekstra untuk menjaga hegemoni militer di tengah konflik yang berlarut. ****

 

 

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *