Banyak mitos protein yang membingungkan, mulai dari isu merusak ginjal hingga pembentukan otot. Simak penjelasan ahli gizi untuk meluruskan faktanya.
Protein kini menjadi nutrisi yang paling banyak dibicarakan, baik oleh mereka yang ingin membentuk massa otot maupun individu yang ingin memulai gaya hidup sehat. Namun, seiring dengan popularitasnya, banyak mitos yang beredar dan sering kali membingungkan masyarakat.
Dikutip dari Kompas.com, Minggu (12/4/2026), dua ahli gizi terdaftar, Roxana Ehsani, MS, RD, CSSD, LDN dan Lauren Manaker, MS, RDN, LD, CLEC, meluruskan sejumlah informasi salah terkait protein agar masyarakat tidak lagi terjebak pada asumsi yang keliru.
Berikut adalah enam mitos protein yang harus berhenti dipercayai:
Banyak yang mengira protein hanya penting bagi binaragawan. Faktanya, Roxana Ehsani menegaskan bahwa protein adalah kebutuhan dasar setiap orang untuk memperbaiki jaringan tubuh, memproduksi hormon, mendukung sistem imun, hingga menjaga kesehatan kulit dan rambut.
Mitos ini sering membuat takut, padahal Lauren Manaker menjelaskan bahwa ginjal yang sehat mampu mengolah metabolisme protein dengan baik. Pembatasan protein hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah memiliki gangguan ginjal sebelumnya. Bagi orang sehat, asupan protein tinggi tidak otomatis membahayakan fungsi ginjal.
Anggapan bahwa hanya daging atau telur yang memiliki protein lengkap adalah keliru. Makanan nabati seperti tahu, tempe, edamame, quinoa, dan pistachio juga merupakan sumber protein lengkap yang mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.
Makan protein dalam jumlah masif tanpa latihan fisik tidak akan membesarkan otot. Pemicu utama pertumbuhan otot tetaplah latihan kekuatan seperti angkat beban, yang didukung oleh asupan kalori cukup, karbohidrat yang memadai, serta kualitas tidur yang baik.
Meskipun memberikan rasa kenyang, protein yang dikonsumsi secara berlebihan tetap mengandung kalori. Ehsani memperingatkan bahwa tubuh akan menyimpan kelebihan kalori—termasuk dari protein—sebagai lemak jika tidak digunakan sebagai energi.
Banyak orang merasa harus mengonsumsi suplemen untuk mencukupi nutrisi. Padahal, menurut Manaker, individu dengan pola makan seimbang umumnya sudah memenuhi kebutuhan protein mereka dari makanan utuh tanpa memerlukan bantuan bubuk protein (protein powder), kecuali bagi atlet dengan intensitas tinggi atau kondisi medis tertentu.
Dengan memahami fakta-fakta di atas, masyarakat diharapkan dapat mengatur pola makan yang lebih seimbang tanpa harus terbebani oleh mitos-mitos yang tidak memiliki dasar ilmiah kuat.
Analisis Redaksi Asatunews.my.id: Kesehatan Ginjal
Berita ini sangat krusial dalam memberikan literasi gizi. Poin mengenai kesehatan ginjal sering kali menjadi penghambat orang untuk menjalankan diet sehat; penjelasan pakar dalam artikel ini memberikan ketenangan bagi masyarakat umum yang memiliki ginjal sehat.
Dengan menyebutkan tempe, tahu, dan edamame sebagai protein lengkap, berita ini mendukung pola makan berbasis nabati (plant-based) yang lebih ekonomis namun tetap bergizi tinggi, sangat relevan dengan konteks kuliner di Indonesia.
Penekanan bahwa protein berlebih bisa menjadi lemak adalah pengingat penting bagi pelaku diet bahwa tidak ada “nutrisi ajaib” yang bebas kalori. Hal ini mendorong pembaca untuk melihat pola makan secara holistik (keseimbangan makronutrisi).
Edukasi mengenai protein powder memberikan pesan bahwa makanan alami tetap menjadi prioritas utama. Ini membantu konsumen agar tidak mudah terpengaruh oleh strategi pemasaran suplemen yang sering kali mengeklaim produk mereka sebagai kewajiban harian. *****
