Studi terbaru mengungkap bahaya ejekan berat badan anak oleh keluarga, terutama ibu. Dampaknya memicu depresi, gangguan makan, hingga penambahan berat badan.
Momen kumpul keluarga besar sering kali menjadi ruang di mana komentar-komentar tanpa filter terlontar begitu saja. Kalimat seperti “Kamu jangan makan itu lagi!” atau “Lihat tuh perutnya sudah makin buncit!” mungkin terdengar seperti candaan biasa di telinga orang dewasa. Namun, bagi anak-anak atau remaja yang menerimanya, ejekan terkait berat badan atau bentuk tubuh (weight teasing) ini bisa meninggalkan luka psikologis dan fisik yang sangat mendalam.
Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh UConn Rudd Center for Food Policy and Health mengungkapkan bahwa ejekan atau olok-olok mengenai bentuk fisik di lingkungan keluarga memiliki dampak buruk yang sangat serius bagi kesejahteraan psikologis dan kesehatan fisik generasi muda.
“Remaja yang kerap diejek tentang berat badannya lebih rentan mengalami gejala depresi, kecemasan, stres, rasa percaya diri yang rendah, serta citra tubuh (body image) yang buruk. Mereka juga menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk terkena gangguan perilaku makan (disordered eating), penurunan aktivitas fisik, hingga justru memicu penambahan berat badan lebih lanjut,” urai Dr. Rebecca Puhl, PhD, penulis utama studi tersebut.
Dampak Paling Fatal Jika Komentar Datang dari Ibu
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Pediatric Psychology ini melibatkan 1.073 remaja di Amerika Serikat dengan rentang usia 10 hingga 17 tahun. Para peneliti memetakan hubungan antara ejekan berat badan dari 11 anggota keluarga yang berbeda—termasuk orang tua, saudara kandung, bibi, paman, kakek-nenek, hingga sepupu—dengan dampaknya pada kesehatan remaja.
Hasil studi tersebut menarik beberapa kesimpulan krusial:
-
Remaja perempuan lebih sering melaporkan adanya ejekan berat badan dibandingkan remaja laki-laki, terutama dari kerabat perempuan mereka.
-
Olok-olok dari kerabat perempuan terbukti berkaitan erat dengan perilaku makan berlebihan secara emosional (binge eating), metode kontrol berat badan yang tidak sehat, rendahnya apresiasi terhadap tubuh sendiri, serta internalisasi bias berat badan.
-
Komentar dari ibu memberikan dampak negatif paling signifikan dan merusak bagi psikologis anak perempuan maupun laki-laki.
-
Ejekan ini tidak hanya menyasar remaja dengan berat badan berlebih; mereka yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal pun tetap mengalami tingkat ejekan yang tinggi dari anggota keluarganya.
Dr. Puhl menjelaskan bahwa peran ibu sebagai figur lekat utama (primary attachment figure) dalam kehidupan sehari-hari anak membuat setiap ucapan atau kritikannya terasa sangat personal dan emosional. Anak-anak tidak menganggap celetukan ibu sebagai lelucon sesaat, melainkan menerjemahkannya sebagai pesan konstan tentang nilai diri, daya tarik, dan tingkat penerimaan mereka di dalam keluarga.
Luka emosional ini bahkan bisa bertahan hingga belasan tahun kemudian. Studi jangka panjang sebelumnya menunjukkan bahwa ejekan berat badan pada masa remaja memprediksi peningkatan perilaku binge eating, makan untuk melapiaskan stres, dan kenaikan berat badan 15 tahun kemudian saat mereka dewasa.
Cara Memutus Rantai Bias Berat Badan di Rumah
Banyak orang tua atau kerabat melontarkan ejekan sebenarnya bukan bermaksud jahat. Sebagian melakukannya karena cemas akan kesehatan sang anak, atau keliru memercayai bahwa ejekan bisa memotivasi anak untuk diet dan menurunkan berat badan. Padahal, metode toxic parenting ini justru kontraproduktif dan sering kali diwariskan dari generasi ke generasi.
Untuk memutus rantai buruk tersebut, pakar terapi dari platform kesehatan mental Equip, Dani Castro, menyarankan agar orang tua fokus pada perubahan perilaku hidup sehat secara positif tanpa perlu mengomentari bentuk tubuh anak. Langkah yang bisa diambil antara lain:
-
Fokus pada Nutrisi, Bukan Restriksi: Tambahkan makanan padat nutrisi ke menu keluarga daripada sibuk melarang makanan tertentu secara ekstrem.
-
Hindari Bicara Negatif tentang Tubuh: Stop menjelek-jelekkan bentuk tubuh sendiri maupun tubuh orang lain di depan anak, karena anak adalah peniru ulung dari apa yang didengarnya.
-
Puji Karakter dan Kemampuan, Bukan Fisik: Bangun rasa percaya diri anak dengan pujian non-fisik, seperti “Kamu pintar sekali,” atau “Tadi itu tindakan yang berani!” agar indikator harga diri mereka tidak melulu soal ukuran baju.
Analisis: Mengikis Budaya “Basa-Basi Fisik” dalam Keluarga Nusantara
Temuan ilmiah dari UConn Rudd Center ini menjadi refleksi yang sangat menohok bagi tatanan sosial dan budaya pengasuhan (parenting) di Indonesia:
1. Budaya “Basa-Basi Fisik” Saat Kumpul Keluarga
Di Indonesia, menegur perubahan fisik seperti “Kok gendutan?” atau “Kurus banget sekarang, kamu tidak dikasih makan ya?” telah lama membeku menjadi komoditas basa-basi sosial yang dianggap lumrah, terutama saat momen Lebaran atau arisan keluarga. Analisis studi ini dengan tegas mengingatkan kita bahwa apa yang dianggap “ramah-tamah” atau “perhatian” oleh generasi tua bisa menjadi racun mental (mental toxic) bagi generasi muda. Sudah saatnya masyarakat Indonesia mengikis kebiasaan ini dan menggantinya dengan topik obrolan yang lebih mengapresiasi kabar, prestasi, atau kebahagiaan anak.
2. Figur Ibu sebagai Penentu Kesehatan Mental Anak di Indonesia
Dalam kultur domestik Indonesia, ibu memegang kendali penuh atas urusan dapur, pola makan, dan pengasuhan anak di rumah. Kedekatan emosional yang sangat intens ini membuat anak-anak di Indonesia sangat menghargai validasi dari ibunya. Ketika seorang ibu tanpa sadar sering mengkritik atau membanding-bandingkan bentuk tubuh anaknya dengan anak lain, anak akan menginternalisasi bahwa mereka “kurang berharga” jika tidak memiliki tubuh yang kurus. Hal ini menjelaskan mengapa marak terjadi kasus diet ekstrem yang tidak sehat pada remaja putri di kota-kota besar di Indonesia akibat tekanan dari lingkungan rumah sendiri.
3. Deteksi Dini Gejala Body Dissatisfaction pada Anak
Para orang tua di Indonesia perlu peka membaca perubahan perilaku anak yang mulai tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya akibat omongan kerabat. Tanda-tanda seperti mendadak gemar mengenakan pakaian terlampau longgar (seperti sweater tebal) meski di cuaca panas, menunjukkan reaksi defensif atau marah saat membahas makanan, hingga pola makan yang menjadi tidak teratur (terlalu sedikit atau mendadak terlalu banyak sebagai pelarian stres), adalah sinyal kuat bahwa anak sedang mengalami tekanan mental akibat bias berat badan. Penanganan yang bijak dari orang tua dengan memberikan ruang aman tanpa penghakiman di rumah adalah kunci utama agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan sehat secara holistik menuju masa depannya. Source
