JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Keberanian aktris Aurelie Moeremans untuk bersuara melalui karya terbarunya, buku memoar berjudul Broken Strings, rupanya berbuntut panjang. Di balik kesuksesan luar biasa buku tersebut yang telah diklik lebih dari 23 juta kali, bintang film Story of Kale ini justru mengaku tengah menghadapi gelombang intimidasi yang sistematis.
Meski bukunya telah dibaca lebih dari 23 juta kali, sang aktris mengaku dihantui ancaman lama yang kembali muncul ke permukaan.
Aurelie mengungkapkan bahwa sejak awal ia sudah memprediksi bahwa keputusannya untuk speak up akan memicu reaksi keras dari pihak-pihak di masa lalunya. Namun, kenyataan yang ia hadapi saat ini jauh lebih kompleks, mulai dari serangan di media sosial hingga upaya pembungkaman terorganisir.
Teror Digital dan Bayang-bayang Masa SMA
Trauma lama Aurelie seolah dipanggil kembali. Ia mengaku merasa seperti kembali ke masa SMA, di mana tekanan dan ancaman menjadi makanan sehari-hari.
“Ketakutan aku adalah diancam lagi seperti waktu aku masih SMA. Walaupun sudah 16 tahun berlalu, rasanya tokoh yang ada di buku ini masih memantau setiap langkah aku,” ungkap Aurelie melalui kanal YouTube pribadinya, Minggu (25/1/2026).
Aurelie juga menyoroti aksi salah satu pihak yang gencar melakukan siaran langsung (livestream) untuk menyudutkan namanya. Menurutnya, aksi tersebut sangat intimidatif karena menggiring opini publik yang sebenarnya tidak memahami duduk perkara yang sebenarnya.
Serangan Buzzer dan Solidaritas Influencer
Salah satu fakta mengejutkan yang dibongkar istri dari Tyler Bigenho ini adalah adanya upaya “kotor” menggunakan jasa buzzer untuk menjatuhkan kredibilitasnya. Aurelie mengaku mendapatkan informasi ini langsung dari rekan-rekan influencer.
“Ada yang kontak aku, bilang bahwa ada satu pihak yang mau menjatuhkan nama aku dengan kasih imbalan (ke buzzer). Aku bahkan bilang ke salah satu teman, ‘ambil saja uangnya, lumayan’, karena aku merasa itu sudah tidak akan berpengaruh lagi ke aku,” tegasnya.
Data Tambahan Relevan: Fenomena cyberbullying dan penggunaan buzzer terhadap figur publik yang berani menyuarakan isu kekerasan domestik atau trauma masa lalu meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data pemantauan digital, narasi negatif biasanya dibangun untuk mendiskreditkan korban (victim blaming) guna mengalihkan substansi masalah yang diangkat dalam karya tulis atau pengakuan publik.
Siap Mengambil Langkah Hukum
Meski saat ini fokus utamanya adalah pemulihan trauma dan menjaga kesehatan mentalnya, Aurelie memberikan peringatan keras. Jika pola intimidasi dan ancaman ini terus berlanjut tanpa henti, ia tidak akan tinggal diam seperti 16 tahun yang lalu. Langkah hukum menjadi opsi serius yang akan ia ambil demi keamanan dirinya.
“Kalau ancaman dan intimidasi tetap berlanjut, aku tidak mungkin diam saja seperti dulu,” pungkasnya. (A-1)
