JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID – Bagi sebagian besar individu, memicu bunyi “krek” atau ‘neck cracking’ pada leher merupakan jalan pintas instan untuk meredakan ketegangan usai beraktivitas seharian. Akan tetapi, di balik sensasi lega sesaat itu, tersimpan potensi bahaya medis signifikan jika praktik ini dilakoni terlalu sering atau dengan cara yang terlalu kasar.

Sering Dianggap Remeh, Seorang Pakar Anestesiologi Paparkan Bagaimana Tekanan Keras pada Leher Bisa Memicu Gangguan Ligamen Bahkan Hambatan Aliran Darah Menuju Otak.

Dr. Kunal Sood, seorang dokter spesialis anestesiologi dan manajemen nyeri intervensi, telah melontarkan peringatan tegas mengenai kebiasaan ini. Menurut pandangannya, walau suara yang dihasilkan normalnya tidak mengindikasikan bahaya, frekuensi dan metode pelaksanaannya bisa menjadi pemicu cedera serius.

Ancaman Ketidakstabilan pada Struktur Tulang Leher

Paparan gerakan memaksa yang intensif dan berulang pada area servikal dapat memberikan dampak merugikan pada ligamen. Ligamen memiliki peran krusial dalam memelihara kestabilan tulang-tulang leher (vertebra servikal). Apabila ligamen tersebut dipaksa bergerak melampaui batas wajar secara terus-menerus, kelonggaran akan terjadi secara bertahap.

“Permasalahan muncul ketika leher terus-menerus dipaksa bergerak melampaui jangkauan gerak alaminya. Lama-kelamaan, kondisi ini menyebabkan tulang leher kehilangan stabilitas,” ujar dr. Sood berdasarkan kutipan dari Hindustan Times, Minggu (18/1/2026).

Potensi Robeknya Pembuluh Darah dan Kejadian Strok

Risiko paling mengkhawatirkan dari manuver leher yang mendadak dan tajam adalah tekanan yang ditimbulkan pada pembuluh darah arteri vertebralis beserta arteri karotis. Kedua pembuluh vital ini bertanggung jawab mengalirkan darah kaya oksigen menuju otak.

Dalam skenario terburuk—meski kejadiannya tergolong jarang—tekanan tersebut berpotensi memicu kondisi yang dinamakan diseksi arteri servikal, yaitu robeknya lapisan terdalam pembuluh darah. Situasi ini memungkinkan darah membeku di area sobekan. Jika bekuan darah tersebut terlepas dan bergerak menuju otak, penderitanya bisa tiba-tiba mengalami serangan strok.

Alternatif Aman untuk Mengatasi Rasa Kaku di Leher

Meskipun mayoritas orang yang sering melakukan ‘neck cracking’ tidak mengalami komplikasi berat, dr. Sood sangat menganjurkan untuk menghindari usaha manipulasi sendiri yang berkekuatan tinggi. Sebagai pengganti kebiasaan yang kurang aman tersebut, para ahli merekomendasikan langkah-langkah berikut ini:

Latihan Peregangan Ringan: Lakukan gerakan meregangkan leher secara gradual tanpa perlu berusaha memunculkan suara ‘krek’.

Perbaikan Sikap Tubuh: Koreksi cara duduk dan posisi berdiri guna meminimalisir beban yang ditanggung otot leher.

Penanganan oleh Ahli: Jika rasa kaku tidak kunjung hilang, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan fisioterapis atau profesional medis yang kompeten.

Mengenai Hal Ini: Di samping potensi bahaya pada pembuluh darah, kebiasaan mematok leher secara berlebihan dapat berhubungan dengan makin cepatnya proses penulangan atau penuaan sendi (osteoartritis) di area leher. Untuk menjaga kesehatan tulang belakang dalam jangka waktu panjang, sangat dianjurkan untuk melakukan peregangan yang bersifat statis—yakni menahan posisi leher miring ke satu sisi secara perlahan selama waktu 15 hingga 30 detik.

Kiat Sehat: Teknik Peregangan Tiga Menit untuk Mengatasi Ketegangan Leher Tanpa Perlu Membunyikan Sendi (“Krek”)

Alih-alih memaksakan bunyi “krek” sendi yang membawa potensi risiko, coba terapkan rangkaian peregangan lembut ini selang dua jam sekali ketika Anda sedang berkarya:

Kepala Menunduk ke Dalam (Chin Tuck) (Waktu 1 Menit):

Posisikan diri duduk lurus tegak, tarik dagu Anda ke arah dalam (seolah menciptakan dagu ganda) tanpa sedikit pun menundukkan pandangan kepala ke bawah.

Tahan posisi kontraksi selama lima detik, ulangi rangkaian ini sebanyak sepuluh kali. Latihan ini essentiil untuk mengoreksi kecenderungan posisi leher yang condong ke depan akibat terlalu fokus memandang gawai/layar.

Peregangan Samping (Lateral Stretch) (Waktu 1 Menit):

Secara bertahap, upayakan telinga sisi kanan mendekat ke arah bahu kanan sampai Anda merasakan regangan lembut pada otot leher bagian kiri.

Pertahankan penarikan ini selama lima belas hingga tiga puluh detik, kemudian ganti sisi satunya. Lakukan tanpa gerakan mendadak atau tersentak.

Putar Bahu (Shoulder Rolls) (Waktu 1 Menit):

Gerakkan kedua bahu Anda memutar ke belakang dengan lintasan lingkaran yang luas dan lebar.

Regangan ini berfungsi untuk merelaksasi otot trapezius yang umumnya menjadi pusat ketegangan yang kemudian merambat rasa nyeri hingga ke area tengkuk.

Peringatan Penting: Apabila saat Anda melakukan manuver di atas muncul sensasi sakit yang menusuk, rasa seperti tertusuk jarum pada lengan, atau bahkan timbul rasa pusing, hentikan aktivitas tersebut seketika dan segera cari rekomendasi medis dari profesional kesehatan. (A-1)

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *