Serangan rudal  Houthi. Di Sanaa, Yaman menyatakan solidaritas untuk Iran dalam konflik melawan Israel dan Amerika Serikat. (CNN)
Serangan rudal  Houthi. Di Sanaa, Yaman menyatakan solidaritas untuk Iran dalam konflik melawan Israel dan Amerika Serikat. (CNN)

Houthi Yaman resmi masuk perang Iran-Israel dengan serangan rudal. Simak ancaman blokade Selat Bab al-Mandab yang bisa guncang ekonomi dunia.

SANAA, ASATUNEWS.MY.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung oleh Iran, secara resmi menyatakan keterlibatannya dalam perang melawan Israel pada Sabtu (28/3/2026). Langkah ini ditandai dengan peluncuran dua rudal ke arah wilayah Israel serta ancaman serius untuk menutup jalur pelayaran vital di Laut Merah.

Dikutip dari laporan CNN, kelompok yang menamakan diri mereka Ansar Allah ini memperingatkan kemungkinan penutupan Selat Bab al-Mandab di pintu masuk selatan Laut Merah. Langkah ini memicu prospek gangguan besar terhadap pengiriman global dan pasokan minyak mentah dunia, mengingat selat tersebut adalah salah satu jalur maritim tersibuk di planet ini.

“Faktanya, (Israel) sedang berperang dengan kami dan dalam keadaan agresi terus-menerus terhadap kami,” tegas Nasr al-Din Amer, anggota biro politik Houthi, dalam pernyataannya kepada CNN.

Ketegangan ini bukan sekadar urusan militer, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi. Selat Bab al-Mandab, yang hanya memiliki lebar 29 kilometer di titik tersempitnya, menampung hampir 15% perdagangan maritim global. Penutupan jalur ini diprediksi akan menyebabkan dislokasi ekonomi yang jauh lebih parah dibanding periode 2023-2025 yang menelan biaya industri sekitar US$ 20 miliar per tahun.

Wakil Menteri Informasi pemerintah Houthi, Mohammed Mansour, menyatakan bahwa penutupan selat tersebut adalah “opsi yang layak,” dan konsekuensinya akan ditanggung oleh pihak yang mereka sebut sebagai agresor Amerika dan Israel.

Respons Israel dan Kesiagaan Multifront
Di sisi lain, pihak militer Israel (IDF) menyatakan telah mengantisipasi perluasan front pertempuran ini. Juru bicara IDF, Nadav Shoshani, menegaskan bahwa pasukannya sedang bersiap untuk membela diri dari segala arah, termasuk dari front Yaman.

“Kami harus siap menghadapi ini menjadi bagian dari perang ini, dan begitulah cara kami mempersiapkannya,” ujar Shoshani pada hari Minggu.

Meskipun kemampuan Houthi untuk memberikan kerusakan langsung ke wilayah daratan Israel dianggap marginal—dengan catatan statistik historis 100 rudal dan 300 drone yang hanya menelan satu korban jiwa antara 2023-2025—kekuatan utama mereka terletak pada kemampuan mengganggu navigasi kapal tanker di Teluk Aden dan Laut Merah.

Analisis Intelijen Asatunews.my.id:  Menekan Ekonomi Barat

Keterlibatan Houthi dalam konflik ini merupakan bagian dari strategi “Axis of Resistance” Iran untuk menciptakan tekanan multifront terhadap Israel dan sekutunya. Secara strategis, ancaman di Selat Bab al-Mandab adalah “kartu as” Houthi untuk menekan ekonomi Barat tanpa harus memicu konfrontasi darat langsung yang masif. Namun, Houthi mungkin meremehkan risiko jangka panjang; Israel memiliki pola respons yang tertunda namun sangat presisi, terutama yang menargetkan kepemimpinan (decapitation campaign).

Jika Houthi benar-benar menutup total jalur logistik minyak, mereka tidak hanya menantang Israel, tetapi juga mengundang intervensi militer internasional yang lebih luas untuk mengamankan jalur energi global. *****

 

 

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *