Kondisi kehancuran infrastruktur sipil di Jalur Gaza akibat peperangan yang berkepanjangan.
Kondisi kehancuran infrastruktur sipil di Jalur Gaza akibat peperangan yang berkepanjangan.

Korban tewas di Gaza akibat serangan Israel mencapai 72.280 jiwa. Meski ada kesepakatan gencatan senjata, ratusan orang dilaporkan tetap gugur sejak Oktober 2025.

Jumlah korban tewas warga Palestina di Jalur Gaza akibat perang yang dikobarkan Israel sejak Oktober 2023 kini telah mencapai angka memprihatinkan, yakni 72.280 orang. Selain itu, sebanyak 172.014 lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Data terbaru ini dirilis oleh Kementerian Kesehatan di Gaza pada Senin (30/03/2026). Dalam keterangannya, pihak kementerian menyebutkan bahwa dalam 24 jam terakhir, dua orang kembali tewas dan satu orang lainnya terluka akibat tembakan militer Israel.

Dikutip dari kantor berita Anadolu Agency, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, kekerasan di lapangan dilaporkan masih terus memakan korban jiwa.

Setidaknya 704 orang telah terbunuh dan 1.914 lainnya terluka oleh tembakan Israel sejak tanggal dimulainya gencatan senjata tersebut. Selain korban baru, otoritas lokal juga berhasil mengevakuasi 756 jenazah dari balik reruntuhan bangunan sejak kesepakatan gencatan senjata dimulai.

Perang yang berkepanjangan ini tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan perpindahan hampir seluruh penduduk Gaza. Serangan militer telah menyebabkan kerusakan luas yang berdampak pada 90% infrastruktur sipil di wilayah tersebut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan biaya rekonstruksi untuk memulihkan Gaza mencapai angka yang sangat fantastis, yakni sekitar US$70 miliar atau setara dengan lebih dari Rp1.100 triliun.

Kondisi ini diperparah dengan lumpuhnya fasilitas publik dan minimnya akses bantuan kemanusiaan yang memadai bagi warga yang masih bertahan di tengah puing-puing bangunan.

Analisis Strategis Asatunews.my.id:  Fase Sangat Kritis

Data terbaru dari Gaza ini menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan di Timur Tengah memasuki fase yang sangat kritis dengan beberapa poin analisis utama:

Angka 704 korban tewas pasca-kesepakatan 10 Oktober 2025 membuktikan bahwa gencatan senjata tersebut tidak sepenuhnya efektif di lapangan. Pelanggaran yang terus terjadi menunjukkan lemahnya mekanisme pengawasan internasional dan komitmen pihak-pihak yang bertikai untuk benar-benar menghentikan kekerasan.

Hancurnya 90% infrastruktur sipil berarti Gaza telah kehilangan fungsi-fungsi dasarnya sebagai sebuah kota (listrik, air, rumah sakit, sekolah). Dengan estimasi biaya US$70 miliar, proses pemulihan Gaza akan memakan waktu puluhan tahun, yang berarti penderitaan warga Palestina akan terus berlanjut jauh setelah senjata benar-benar diletakkan.

Angka kematian yang menembus 72.000 jiwa (hampir menyamai populasi satu kota kecil) akan memberikan tekanan diplomatik yang semakin besar bagi sekutu-sekutu Israel dan lembaga internasional. PBB kini dihadapkan pada tantangan logistik dan finansial terbesar dalam sejarah modern untuk memulai proses rekonstruksi di wilayah yang masih sangat tidak stabil.

Secara geopolitik, Gaza kini bukan lagi sekadar zona konflik, melainkan simbol kegagalan sistem keamanan kolektif dunia dalam melindungi warga sipil di abad ke-21. *****

By Endang Suherman

Profesional media dan jurnalis spesialis isu Hukum, Politik, dan Geopolitik. Dengan keahliannya dalam mengelola informasi strategis dengan sentuhan teknologi digital modern, menyajikan berita dan analisis yang dibutuhkan publik. Fokus pada penyajian berita akurat di Asatunews dengan berbagai ekstensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *