Studi terbaru dalam JAMA Psychiatry mengungkap rutin minum soda meningkatkan risiko depresi pada perempuan hingga 17 persen akibat gangguan mikrobioma usus.
Minuman bersoda dan soft drink sering kali menjadi pilihan praktis untuk melepas dahaga. Namun, di balik kesegaran manisnya, penelitian terbaru menemukan adanya potensi dampak serius terhadap kesehatan mental, khususnya bagi kaum perempuan.
Dikutip dari Kompas.com yang menyadur laporan Only My Health, Sabtu (9/5/2026), sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Psychiatry menemukan bahwa perempuan yang rutin mengonsumsi minuman manis bersoda memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dan gangguan suasana hati. Temuan ini memperluas deretan dampak buruk soda yang sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan obesitas dan diabetes.
Penelitian yang melibatkan 932 orang dewasa ini menunjukkan bahwa perempuan yang gemar meminum soda memiliki risiko depresi 17 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya. Dr. Sharmili Edwin Thanarajah, peneliti utama studi tersebut, menjelaskan bahwa hubungan ini kemungkinan besar dipicu oleh perubahan mikrobioma usus.
“Data kami menunjukkan bahwa hubungan antara soft drink dan gejala depresi muncul melalui pengaruhnya terhadap mikrobioma,” jelas Dr. Sharmili.
Kandungan gula tinggi serta bahan tambahan seperti pengawet dalam soda dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus. Melalui mekanisme gut-brain axis atau sumbu usus-otak, ketidakseimbangan mikrobioma ini memicu peradangan kronis yang diyakini memengaruhi fungsi otak dan suasana hati.
Menariknya, efek negatif ini tampak lebih signifikan pada peserta perempuan dibandingkan laki-laki. Dr. Guillaume Meric dari University of Bath menduga faktor hormonal dan respons imun yang berkaitan dengan jenis kelamin menjadi penyebab utamanya. Hormon seperti estrogen diketahui memengaruhi cara tubuh merespons inflamasi akibat konsumsi gula berlebih.
Selain itu, penelitian menemukan adanya peningkatan bakteri Eggerthella pada perempuan yang rutin minum soda. Bakteri ini sebelumnya memang telah dikaitkan dengan gangguan depresi mayor.
Meski bersifat observasional—artinya belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak—para ahli sepakat bahwa mengurangi konsumsi soft drink adalah langkah bijak. Langkah sederhana ini bukan hanya sekadar mengurangi asupan kalori, melainkan investasi penting untuk menjaga stabilitas kesehatan mental dalam jangka panjang.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Perspektif Baru
Temuan riset ini memberikan perspektif baru dalam industri kesehatan fungsional:
Revolusi Gut-Brain Axis: Kesadaran bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh kesehatan pencernaan kian menguat. Hal ini kemungkinan akan mengubah tren konsumsi masyarakat dari minuman berkarbonasi tinggi gula menuju minuman probiotik atau fungsional yang menjaga keseimbangan mikrobioma.
Kerentanan Biologis Spesifik Gender: Data menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan masyarakat dan edukasi nutrisi perlu lebih spesifik menyasar perempuan, mengingat adanya interaksi antara hormon seks dengan pola makan yang memicu risiko peradangan otak.
Tantangan Industri Minuman: Produsen soft drink menghadapi tekanan besar bukan lagi hanya dari isu obesitas, melainkan dari isu kesehatan mental. Hal ini dapat memaksa industri untuk melakukan reformulasi produk secara total guna menghindari bahan tambahan yang merusak ekosistem usus.
Siklus Pelarian Emosional: Terdapat potensi “lingkaran setan” di mana individu yang stres mencari kenyamanan pada gula (comfort drinking), yang secara biologis justru memperparah kondisi depresi mereka melalui kerusakan mikrobioma. ******
