JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID —Latar belakang keterlibatan Nicki Minaj dalam isu Nigeria berawal dari eskalasi retorika politik AS di bawah Presiden Donald Trump. Beberapa pekan sebelumnya, Trump mengancam akan menghentikan bantuan dan mempertimbangkan aksi militer terhadap Nigeria, dengan alasan pemerintahannya gagal menghentikan “pembantaian massal” umat Kristen oleh milisi Islamis . Ancaman ini memicu penolakan keras dari pemerintah Nigeria, yang menyatakan diri “terkejut” dan menegaskan bahwa teroris menyerang semua orang, tanpa memandang agama.
Rapper ternama berbicara dalam acara di Markas PBB untuk menyoroti kekerasan terhadap umat Kristen di Nigeria, mendukung ancaman aksi militer Trump. Klaim tersebut dibantah oleh pemerintah Nigeria dan diteliti ulang oleh berbagai pihak, yang menyoroti kompleksitas konflik di negara tersebut.
Acara di Misi Amerika Serikat untuk PBB (USUN) ini sendiri digelar untuk menarik perhatian internasional pada situasi di Nigeria. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, yang mengundang Minaj, menyatakan bahwa kehadiran sang rapper dapat menyampaikan pesan kepada khalayak yang mungkin tidak biasa mengikuti isu-isu diplomatik seperti ini . Minaj, yang memiliki pengikut sangat besar di media sosial, sebelumnya telah menyatakan dukungannya terhadap postingan Trump mengenai Nigeria di platform Truth Social .
Klaim yang Dipertentangkan dan Realitas di Lapangan
Pidato Minaj di PBB mendarat di tengah debat sengit mengenai akurasi klaim bahwa umat Kristen secara sistematis menjadi sasaran di Nigeria.
-
Klaim dari AS dan LSM Tertentu: Sebuah laporan dari International Society for Civil Liberties and Rule of Law (Intersociety), sebuah LSM Nigeria, sering dikutip untuk mendukung narasi penganiayaan sistematis. Laporan mereka menyatakan bahwa pada periode Januari hingga Agustus 2025 saja, lebih dari 7.000 umat Kristen tewas . Organisasi seperti Christian Association of Nigeria (CAN) juga telah menyebut situasi ini sebagai “genosida” .
-
Bantahan dan Nuansa: Namun, pemerintah Nigeria dan para analis keamanan membantah penyederhanaan konflik ini sebagai murni konflik agama. Mereka menegaskan bahwa kelompok jihadis seperti Boko Haram dan Islamic State West Africa Province (ISWAP) telah menyerang baik Muslim maupun Kristen yang menolak ideologi mereka . Seorang analis keamanan Nigeria, Christian Ani, menyatakan bahwa meskipun umat Kristen memang diserang, klaim bahwa mereka secara sengaja dijadikan sasaran tidak dapat dibenarkan .
-
Akar Konflik yang Kompleks: Banyak peneliti berpendapat bahwa kekerasan di Nigeria, khususnya yang melibatkan petani dan penggembala, sering kali dipicu oleh persaingan memperebutkan sumber daya seperti tanah dan air, serta ketegangan etnis, bukan semata-mata sentimen agama . Confidence McHarry dari SBM Intelligence menegaskan, “Mungkin saja bernuansa etnis, mereka ingin merebut tanah, mereka ingin memperluas wilayah” .
Dengan demikian, meskipun Nicki Minaj berniat menggunakan pengaruhnya untuk tujuan kemanusiaan, dukungannya terhadap narasi Trump justru membawanya ke dalam pusaran isu geopolitik yang kompleks dan penuh dengan klaim yang saling bertolak belakang.
Berdasarkan informasi yang tersedia, kronologi lengkap kasus yang melibatkan Nicki Minaj berbicara di PBB mengenai situasi di Nigeria memang terkait dengan klaim penganiayaan umat Kristen yang telah menjadi perdebatan publik selama beberapa bulan terakhir. Namun, penting untuk dicatat bahwa klaim inti dari kasus ini, khususnya angka korban tewas yang disebut-sebut, telah dipertanyakan keakuratannya oleh beberapa pihak, termasuk pemerintah Nigeria dan lembaga pemantau konflik independen.
Garis Waktu Kasus
Garis waktu berikut merangkum peristiwa penting yang mengarah pada pidato Nicki Minaj di PBB, berdasarkan laporan pemberitaan.

Dua Versi yang Bertolak Belakang
Inti dari kronologi ini adalah munculnya dua narasi yang sangat berbeda mengenai kekerasan di Nigeria.
-
Narasi Penganiayaan Sistematis: Narasi ini, yang dipegang oleh Intersociety, beberapa politisi AS, dan kini didukung oleh Nicki Minaj, menyatakan bahwa umat Kristen secara sistematis menjadi sasaran pembunuhan atas dasar agama. Laporan Intersociety yang menjadi dasar klaim ini menyebutkan bahwa pada periode Januari hingga Agustus 2025 saja, lebih dari 7.000 umat Kristen tewas dibunuh . Inilah angka yang kemudian dikutip oleh politisi seperti Ted Cruz dan Bill Maher, serta mendasari ancaman aksi militer Donald Trump .
-
Bantahan dan Data Alternatif: Di sisi lain, pemerintah Nigeria, analis keamanan setempat, dan data dari lembaga pemantau konflik Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED) membantah narasi tersebut. Pemerintah Nigeria menegaskan bahwa kelompok teroris menyerang semua orang tanpa memandang agama, dan bahwa masalah utamanya adalah kompleks konflik sumber daya, etnis, dan kriminalitas, bukan semata-mata agama . Data dari ACLED (Januari 2020 – September 2025) justru menunjukkan bahwa dalam serangan yang secara jelas menargetkan identitas agama, korban tewas dari pihak Muslim tercatat 417 jiwa, sementara dari pihak Kristen 317 jiwa . Sebuah investigasi oleh BBC juga menemukan bahwa data dari Intersociety sulit diverifikasi dan mungkin telah dibesar-besarkan .
Inti Permasalahan
Dengan demikian, pidato Nicki Minaj di PBB tidak terjadi dalam ruang hampa. Aksi tersebut adalah puncak dari sebuah kampanye yang digerakkan oleh narasi tertentu tentang Nigeria, yang meskipun powerful dan mendapat perhatian global, kebenaran faktualnya dipertanyakan secara serius oleh berbagai pihak yang memiliki data berbeda. (A-1)
