JAKARTA, ASATUNEWS.MY.ID — Ketua MPR ke-15 sekaligus Anggota Komisi III DPR RI dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, kembali meluncurkan karya terbarunya. Buku ke-38 Bamsoet berjudul “1001 Gagasan untuk Golkar: Panduan Eksekusi Strategi Politik, Organisasi, dan Pengabdian” dijadwalkan segera terbit dan ditujukan sebagai rujukan praktis bagi seluruh elemen Partai Golkar.
Bambang Soesatyo Tekankan Buku Ini Disusun sebagai Panduan Eksekusi, Bukan Sekadar Wacana
Buku ini memuat 1001 gagasan yang disusun secara sistematis, mencakup pembenahan internal partai, kaderisasi berbasis meritokrasi, strategi komunikasi digital, penguatan basis suara di daerah, hingga arah kebijakan ekonomi, pendidikan, dan ketahanan nasional yang berpihak pada usaha kecil dan menengah.
Bambang Soesatyo menegaskan, buku tersebut tidak dimaksudkan sebagai kumpulan retorika politik, melainkan panduan kerja yang aplikatif.
“Saya menulis buku ini sebagai peta jalan yang bisa langsung dieksekusi. Golkar membutuhkan gagasan yang membumi, terukur, dan relevan dengan tantangan zaman, bukan sekadar slogan,” ujar Bamsoet, Sabtu (03/01/2025).
Menurutnya, pengalaman panjang di parlemen, partai politik, dan lembaga negara menjadi landasan utama penyusunan buku tersebut. Ia berharap gagasan-gagasan yang ditawarkan dapat menjadi bahan kerja kolektif bagi pengurus, fraksi, sayap partai, hingga kader di akar rumput.
“Seribu satu gagasan ini saya rancang agar bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata, dari tingkat pusat sampai desa. Tujuannya satu, memperkuat Golkar sebagai partai modern, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan rakyat,” kata Bamsoet.
Salah satu keunggulan buku ini adalah penyertaan Key Performance Indicators (KPI) sebagai alat ukur kinerja partai. KPI tersebut dibagi ke dalam empat pilar utama. Pilar elektoral menitikberatkan pada peningkatan perolehan suara, jumlah kursi parlemen, kemenangan pilkada, dan retensi pemilih. Pilar kaderisasi dan organisasi mengukur pertumbuhan anggota, keaktifan struktur hingga tingkat desa, efektivitas sekolah partai, serta keterwakilan perempuan dan generasi muda.
Selain itu, pilar representasi dan kebijakan menilai produktivitas legislasi, kehadiran partai di tengah masyarakat, respons terhadap isu publik, serta tingkat kepuasan masyarakat berdasarkan survei independen. Adapun pilar transparansi dan digitalisasi mencakup opini audit keuangan, keterlibatan publik di media sosial, serta keterbukaan informasi kinerja partai secara daring.
Bamsoet menilai pendekatan berbasis indikator kinerja ini penting untuk menjawab tuntutan publik terhadap akuntabilitas partai politik.
“Partai politik hari ini harus mau diukur kinerjanya. KPI adalah instrumen agar Golkar bekerja lebih profesional, transparan, dan adaptif terhadap era digital,” tegasnya.
Dengan terbitnya buku ke-38 ini, Bambang Soesatyo berharap Golkar dapat terus bertransformasi dan memperkuat perannya sebagai kekuatan politik yang berkhidmat bagi bangsa dan negara. (A-1)
