Tottenham Hotspur dalam pembicaraan tingkat lanjut dengan Roberto de Zerbi untuk posisi pelatih kepala. Simak alasan penolakan fans terkait kasus Mason Greenwood..
LONDON, ASATUNEWS.MY. ID – Manajemen Tottenham Hotspur dilaporkan tengah mempercepat langkah untuk menunjuk Roberto De Zerbi sebagai pelatih kepala baru. Mantan manajer Brighton tersebut dikabarkan bersedia mengambil alih kemudi tim segera, setelah Spurs resmi berpisah dengan pelatih interim Igor Tudor.
Kabar ini mencuat setelah kondisi klub London Utara tersebut kian terpuruk di Liga Inggris. Berada di posisi ke-17 dan hanya terpaut satu poin dari zona degradasi, Spurs belum mencatatkan satu pun kemenangan liga sepanjang tahun 2026.
Dikutip dari laporan BBC Sport, Senin (30/03/2026), pembicaraan antara pihak klub dan De Zerbi berlangsung positif. Meskipun awalnya pelatih asal Italia berusia 46 tahun itu lebih memilih menunggu hingga akhir musim, kini ia disebut siap memimpin Harry Kane dan kawan-kawan dalam waktu dekat dengan tawaran kontrak jangka panjang.
Keputusan Spurs untuk melepas Igor Tudor diambil setelah kekalahan memalukan 3-0 dari Nottingham Forest pekan lalu. Tudor meninggalkan klub atas kesepakatan bersama pada hari Minggu setelah hanya menjabat selama 44 hari.
Selain De Zerbi, beberapa nama lain sempat masuk dalam radar pertimbangan manajemen yang dipimpin CEO Vinai Venkatesham dan Direktur Olahraga Johan Lange. Mantan bos Nottingham Forest, Sean Dyche, sempat dipertimbangkan untuk jangka pendek, namun terkendala permintaan kontrak minimal 18 bulan.
Nama-nama legendaris seperti Mauricio Pochettino hingga Harry Redknapp juga sempat mencuat, namun De Zerbi tetap menjadi kandidat terkuat yang tersedia saat ini setelah ia meninggalkan Marseille pada Februari lalu.
Meski secara teknis De Zerbi dianggap mumpuni, rencana penunjukkannya tidak berjalan mulus di mata pendukung. Sejumlah kelompok suporter menyuarakan penolakan keras karena rekam jejak De Zerbi yang pernah membela Mason Greenwood saat keduanya berada di Marseille.
Greenwood bergabung dengan Marseille pada 2023 setelah dakwaan kasus kekerasan seksual terhadapnya dibatalkan. Saat itu, De Zerbi secara terbuka menyebut Greenwood sebagai “orang baik” yang telah membayar harga mahal atas masa lalunya.
Kelompok suporter resmi LGBTQ+ Spurs, Proud Lilywhites, menyatakan keberatannya. “Ketika seseorang dalam posisi tersebut secara terbuka membela pemain seperti Mason Greenwood dengan cara yang meremehkan keseriusan kejadian tersebut, itu menjadi masalah sinyal nilai yang dikirimkan klub,” tegas kelompok tersebut.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Kepanikan Manajemen
Situasi di Tottenham Hotspur saat ini bukan sekadar krisis teknis, melainkan krisis identitas yang mendalam. Berikut poin analisis kami:
Pertaruhan Manajemen (Panic Buying): Langkah mendekati De Zerbi saat tim berada di bibir jurang degradasi menunjukkan kepanikan manajemen. Meskipun De Zerbi memiliki gaya main yang menarik, memasukkan pelatih dengan filosofi kompleks di tengah perjuangan lolos dari degradasi adalah langkah yang sangat berisiko.
Benturan Nilai vs Prestasi: Penolakan suporter terhadap isu Mason Greenwood menunjukkan bahwa basis penggemar Spurs saat ini sangat peduli pada etika klub. Jika De Zerbi resmi ditunjuk dan gagal memberikan hasil instan, tekanan suporter bukan hanya soal taktik, melainkan akan menyerang integritas moral manajemen.
Masalah Kepemimpinan: Pemecatan Igor Tudor setelah hanya 44 hari membuktikan adanya kegagalan rekrutmen di level atas. Tanpa struktur olahraga yang stabil, siapa pun pelatih yang datang—termasuk De Zerbi—akan menghadapi tantangan besar untuk memperbaiki mentalitas pemain yang sudah ambruk sepanjang musim 2026 ini.
Tottenham kini berdiri di persimpangan jalan: mengejar nama besar demi prestise, atau mencari sosok “penyelamat” yang mampu menjamin tim tetap bertahan di kasta tertinggi Liga Inggris. *****
