Max Verstappen ancam tinggalkan F1 usai GP Jepang. Sang juara dunia kritik keras regulasi mesin hibrida yang dinilai ‘anti-driving’ dan membosankan.
SUZUKA, ASATUNEWS.MY. ID – Kabar mengejutkan datang dari lintasan Formula 1. Juara dunia empat kali, Max Verstappen, secara terbuka menyatakan dirinya tengah mempertimbangkan untuk berhenti dari ajang balap jet darat tersebut. Kekecewaan mendalam terhadap regulasi teknis mesin hibrida menjadi pemicu utamanya.
Pernyataan keras ini dilontarkan Verstappen usai balapan di GP Jepang, Sirkuit Suzuka. Pembalap asal Belanda tersebut merasa aturan mesin saat ini, yang mengandalkan pembagian daya 50-50 antara pembakaran internal dan tenaga listrik, telah merusak esensi membalap yang sebenarnya.
“Saya tidak menikmati formula di baliknya. Ini tidak terasa alami bagi seorang pembalap,” ujar Verstappen dikutip dari BBC Sport, Senin (30/03/2026).
Verstappen menambahkan bahwa cara membalap yang dipaksakan oleh regulasi energi ini sangat tidak menyenangkan. “Ini benar-benar ‘anti-driving’. Pada satu titik, ya, ini bukan apa yang ingin saya lakukan,” tegasnya.
Verstappen bukanlah satu-satunya pembalap yang mengeluh. Fernando Alonso bahkan menjuluki era F1 saat ini sebagai “Kejuaraan Dunia Baterai”. Menurut Alonso, tantangan di tikungan kecepatan tinggi kini hilang karena pembalap harus melambat untuk mengisi daya baterai agar bisa dipacu di trek lurus.
Kekhawatiran juga muncul dari sisi keselamatan. Carlos Sainz dari Ferrari menyoroti insiden kecelakaan hebat Oliver Bearman (Haas) di tikungan Spoon yang disebabkan oleh perbedaan kecepatan mencapai 50 km/jam antar mobil akibat manajemen energi yang berbeda.
“Ini bukan membalap. Tidak ada kategori lain di dunia dengan perbedaan kecepatan penutupan (closing speed) seperti ini. Di situlah kecelakaan bisa terjadi,” kata Sainz.
Di sisi lain, Prinsipal Tim Red Bull, Laurent Mekies, mencoba meredam suasana. Ia menilai rasa frustrasi Verstappen lebih disebabkan oleh kurang kompetitifnya mobil Red Bull musim ini dibandingkan masalah regulasi semata.
“Saya yakin saat kami memberinya mobil yang cepat, dia akan menjadi Max yang jauh lebih bahagia. Mobil yang bisa dia tekan dan membuat perbedaan,” tutur Mekies.
Namun, Verstappen membantah hal tersebut. Ia menegaskan bahwa opininya tidak didasari oleh posisi klasemen, melainkan hilangnya aspek kesenangan saat berada di kokpit. Meskipun ia mencintai timnya seperti keluarga kedua, sensasi membalap yang hambar membuatnya terus mempertimbangkan masa depannya di F1.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Alarm Bahaya
Ancaman hengkangnya Max Verstappen dari F1 adalah alarm bahaya bagi pemegang hak komersial dan badan otoritas balap (FIA):
Kehilangan Ikon Global: Verstappen adalah magnet utama penonton saat ini. Jika ia memutuskan pensiun di usia produktif, F1 berisiko kehilangan jutaan penonton dan nilai hak siar, terutama dari pasar Eropa dan pendukung fanatik “Orange Army”.
Kegagalan Regulasi Hibrida: Kritik bahwa F1 menjadi seperti “Mario Kart” (memanfaatkan boost baterai) menunjukkan adanya ketidakselarasan antara keinginan produsen mesin (yang mengejar teknologi hijau) dengan hasrat pembalap purist. FIA kini berada dalam tekanan besar untuk mengubah rasio tenaga mesin (mungkin menjadi 70-30) demi menjaga daya tarik kompetisi.
Faktor Keselamatan yang Mengkhawatirkan: Perbedaan kecepatan 50 km/jam di tikungan cepat akibat manajemen energi adalah bom waktu. Insiden Oliver Bearman di Suzuka adalah bukti nyata. Jika FIA tidak segera melakukan penyesuaian teknis sebelum musim depan, keselamatan pembalap akan terus menjadi taruhan di bawah regulasi yang “terlalu rumit” ini.
Secara politis, ini adalah momen “perang saraf” antara pembalap dan bos F1. Apakah regulasi akan melunak demi mempertahankan sang bintang, atau F1 tetap pada jalur teknologi meski harus kehilangan talenta terbaiknya? ****
