Dokter spesialis mata dr. Amir Shidik memperingatkan gejala katarak yang sering tak disadari karena terjadi perlahan. Kenali tanda “second sight” dan risiko usia.
Masalah penglihatan akibat katarak sering kali tidak disadari oleh penderitanya sejak dini. Hal ini disebabkan oleh proses penurunan kualitas penglihatan yang terjadi secara bertahap dalam hitungan bulan hingga tahun.
Dokter spesialis mata subspesialis katarak dan bedah refraksi, dr. Amir Shidik, Sp.M, Subsp.K.B.R, menjelaskan bahwa banyak pasien yang baru menyadari kondisi mereka saat katarak sudah memasuki tahap lanjut.
Dikutip dari laporan Antara News, Rabu (8/4/2026), dr. Amir menyebutkan bahwa katarak terjadi karena adanya kekeruhan pada lensa mata. Pada kondisi normal, lensa yang jernih berfungsi memfokuskan bayangan secara tajam ke retina. Namun, pada pasien katarak, bayangan tersebut menjadi berpendar.
“Masalahnya katarak ini terjadi secara perlahan. Jadi, sering kali pasien itu tidak sadar bahwa dia sudah mulai katarak, tidak sadar penglihatannya turun,” ujar dr. Amir dalam diskusi kesehatan di Jakarta.
Katarak umumnya dikaitkan dengan proses penuaan, di mana prevalensinya meningkat drastis hingga 70 persen pada individu berusia 70 tahun. Dokter lulusan Universitas Indonesia ini menganalogikan penglihatan penderita katarak seperti melihat di balik air terjun atau kaca yang berembun.
Selain pandangan buram, terdapat gejala unik yang disebut sebagai second sight. Kondisi ini terjadi ketika penglihatan jarak dekat seseorang tiba-tiba membaik sementara penglihatan jarak jauhnya menurun.
“Lensa yang terkena katarak menarik cairan sehingga menjadi cembung dan minus pada mata bertambah. Akibatnya, seseorang bisa membaca pada jarak dekat, namun tulisan menjadi buram pada jarak jauh,” jelas dr. Amir.
Beberapa tanda lain yang perlu diwaspadai antara lain:
Silau saat mengemudi di malam hari atau saat hujan.
Ukuran kacamata yang sering berubah-ubah.
Penglihatan tampak kecokelatan atau kekuningan.
Tidak ada rasa nyeri atau mata merah.
Pada kasus berat, muncul warna putih pada pupil mata.
Meskipun dapat terjadi pada satu atau kedua mata, dr. Amir menegaskan bahwa kekeruhan lensa ini tidak menyebar dari satu mata ke mata lainnya.
Analisis Strategis Asatunews.my.id: Penyebab Utama Kebutaan
Informasi mengenai katarak ini menjadi sangat krusial mengingat katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah di Indonesia:
Karakteristik katarak yang tidak nyeri dan tidak membuat mata merah sering kali membuat pasien menunda pemeriksaan. Edukasi mengenai gejala non-fisik (seperti perubahan persepsi warna menjadi kecokelatan) sangat penting agar masyarakat tidak hanya terpaku pada gejala “buram” saja.
Banyak lansia merasa senang ketika mereka tiba-tiba bisa membaca tanpa kacamata di usia tua. Padahal, fenomena second sight ini adalah tanda klinis bahwa lensa mata sedang membengkak akibat katarak. Kesadaran akan paradoks ini harus ditingkatkan agar gejala tersebut tidak dianggap sebagai “kesembuhan alami”.
Dengan angka prevalensi 70 persen pada usia 70 tahun, katarak merupakan masalah kesehatan publik yang signifikan bagi populasi lansia di Indonesia. Skrining rutin bagi mereka yang memasuki usia 50 tahun ke atas menjadi langkah preventif yang paling efektif untuk menjaga produktivitas di usia senja.
Istilah katarak yang berasal dari kata “air terjun” memberikan gambaran visual yang mudah dipahami publik. Penjelasan dr. Amir membantu menyederhanakan kondisi medis yang kompleks menjadi informasi praktis yang dapat mendorong orang tua atau pendamping lansia untuk lebih peka terhadap keluhan penglihatan anggota keluarganya.
Pemeriksaan mata secara berkala adalah satu-satunya cara untuk mendeteksi katarak sebelum kualitas hidup penderita menurun drastis akibat gangguan penglihatan permanen. ****
