Tinta cumi sering jadi bahan masakan, tapi amankah dikonsumsi? Simak fakta kandungan melanin, manfaat antimikroba, hingga potensi melawan kanker di sini.
Tinta cumi atau squid ink telah lama menjadi bahan favorit dalam dunia kuliner, termasuk di Indonesia. Warna hitam kebiruan yang khas serta cita rasa gurih yang dihasilkan menjadikannya komponen istimewa untuk memperkaya berbagai hidangan, mulai dari tumis cumi bumbu hitam hingga pasta.
Dikutip dari Kompas.com, Minggu (12/4/2026), tinta cumi sebenarnya adalah cairan gelap yang dihasilkan cumi-cumi sebagai mekanisme pertahanan diri dari predator. Cairan ini mengandung berbagai senyawa kompleks seperti melanin (pigmen hitam), enzim, polisakarida, asam amino, hingga hormon catecholamines.
Meski tujuan utamanya adalah mempercantik warna dan menambah rasa gurih (umami) berkat kandungan glutamat alaminya, beberapa penelitian menunjukkan tinta cumi memiliki potensi manfaat kesehatan:
Sifat Antimikroba: Uji laboratorium menunjukkan ekstrak tinta cumi efektif melawan bakteri penyebab plak gigi seperti Streptococcus mutans, serta bakteri penyebab keracunan makanan seperti E. coli dan Listeria monocytogenes.
Kaya Antioksidan: Kandungan polisakarida dalam tinta cumi membantu tubuh melawan radikal bebas yang memicu penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.
Potensi Melawan Kanker: Beberapa penelitian pada hewan menunjukkan protein dalam tinta cumi dapat menekan pertumbuhan sel kanker dan membantu mengurangi efek samping obat kemoterapi.
Kesehatan Pencernaan dan Imun: Penelitian awal mengisyaratkan tinta cumi dapat membantu menurunkan produksi asam lambung untuk mencegah tukak lambung serta meningkatkan sistem imun.
Secara umum, tinta cumi dianggap aman untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan dalam jumlah wajar. Namun, ada beberapa catatan penting bagi konsumen. Sebagian besar studi manfaat kesehatan tersebut masih berbasis uji laboratorium dan hewan, sehingga efek langsungnya pada manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Selain itu, jumlah tinta yang digunakan dalam satu porsi masakan biasanya sangat sedikit, sehingga manfaat kesehatan yang didapat mungkin tidak signifikan secara instan. Bagi individu yang memiliki riwayat alergi seafood (makanan laut), sangat disarankan untuk tetap berhati-hati meskipun belum ada bukti kuat tinta cumi memicu reaksi alergi secara langsung.
Kini, dengan pemahaman mengenai kandungannya, Anda tidak perlu ragu lagi untuk menyertakan tinta hitam saat memasak cumi, selama porsinya tetap dalam batas normal dan diolah dengan bersih.
Analisis Redaksi Asatunews.my.id
Berita ini berfungsi meluruskan kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan mengonsumsi tinta cumi. Penjelasan mengenai kandungan melanin dan asam amino memberikan pemahaman ilmiah bahwa tinta cumi bukan sekadar “limbah” atau zat kotor, melainkan zat organik yang kaya nutrisi.
Penekanan pada sifat antimikroba dan antioksidan menempatkan tinta cumi sebagai potensi superfood lokal. Hal ini dapat meningkatkan nilai jual hidangan tradisional Indonesia (seperti cumi hitam) di mata masyarakat yang kini lebih peduli pada kesehatan.
Penulis berita secara jujur mencantumkan bahwa mayoritas penelitian masih pada tahap uji hewan/laboratorium. Hal ini sangat penting dalam penulisan berita kesehatan agar tidak menyesatkan pembaca (misleading) dan menjaga integritas informasi medis.
Artikel ini berhasil mengaitkan aspek rasa (umami dari glutamat) dengan aspek fungsi (pertahanan diri hewan), memberikan narasi yang lengkap bagi pembaca dari sisi kuliner maupun biologi. *****
